Loading...

Allah bertanya “Hanya Sampai Itu Usahamu ?”

Jakarta , Awal tahun 2012 “Menghafal Al Quran itu mudah bahkan bagi seorang nenek-nenek mualaf usia 80 tahun.” Bagai tersengat listrik ...

Jakarta , Awal tahun 2012
“Menghafal Al Quran itu mudah bahkan bagi seorang nenek-nenek mualaf usia 80 tahun.”
Bagai tersengat listrik hati saya, mendengar cerita terakhir Ustadz YM saat wisuda hafalan juz 30 di sekolah anak saya. Entah apa rencana Allah, yang menggerakkan sang ustadz kembali ke mikrofon setelah berpamitan mundur dari panggung saat itu. Hanya untuk menceritakan kisah ini sebagai penutup ceramah beliau dengan Tema Siapa Saja Bisa Menghafal (maafkan hamba yaa Allah, kok bisa bilang hanya…)

“Seorang ketua asosiasi rumah sakit islam seJawa, bagaimana sholehnya, sudah bisa kita bayangkan. Tapi ada suatu ganjalan dalam hatinya, yang tidak pernah membuatnya bahagia, meskipun sedang mendapatkan kenikmatan dunia dari Allah SWT. Ibunya Nasrani, penginjil, sangat aktif.
Bertahun-tahun sang putra mendoakan ibunya, belum terlihat tanda-tanda sang ibu didekatkan dengan jalan yang lurus. Sampai suatu hari terdengar nasehat untuk mendoakan hidayah sang ibu di depan Ka’bah-Masjidil Haram.

Singkat cerita sampailah putranya umroh untuk mendoakan ibunda. Bertahun-tahun ditunggunya keajaiban doanya, dengan harap-harap cemas, tidak juga kunjung datang realisasinya. Sampai akhirnya, hanya pasrah kepada rencana Allah saja. 

Ternyata yang datang adalah ujian Allah, berupa sakit kerasnya sang bunda yang saat itu berusia 80 tahun. Bergiliran teman-temannya (kepala rumah sakit islam …klaten, jogja, dan kota-kota lain) untuk menjenguk sang ibu, teman mereka yang sholeh.
Hal ini membekas di hati sang ibu, sampai akhirnya…

Yang Ibu perjuangkan selama ini seperti tidak ada perhatian kepada ibu. Tapi teman-temanmu begitu tulus. Datangkan mereka lagi, untuk menyaksikan syahadatku.
Tak terbayangkan bahagianya sang putra menyaksikan hidayah itu datang. Hingga sang bunda berpulang ke rahmatullah 1 tahun kemudian dalam keadaan sudah berhasil menghafal Surat Yaasiin. Pentakziyah dapat menyaksikan lembaran-lembaran foto copy surat Yasin tertempel di dinding ruang makan, ruang tidur dan ruang keluarganya.”

Subhanallah. Betapa beruntungnya dia…
Apakah dia beruntung? Ataukah saya boleh menyebut diri saya kurang beruntung? 
Bagaimana saya bisa bilang kurang beruntung. Saya lahir di keluarga yang bahagia dan rukun. Meski dalam kesederhanaan, kami bisa tertawa sepanjang hari. Ibu sabar dan selalu tersenyum, Bapak yang lucu dan pandai menjadi Bapak teladan dan guru serba bisa dalam kehidupan saya. Saat Ramadhan tiba, Ibu paling semangat membuat makanan hantaran untuk tetangga, baik menjelang bulan puasa, sedekah malam ganjil sampai Nasi Kuning untuk Idul Fitri, beliau menyiapkan sahur dan buka, hingga menjahitkan sendiri baju baru untuk anak-anaknya. Yang saya ingat, ibu ngebut menyelesaikan pakaian saya saat malam takbiran, di depan lampu minyak. Hingga pagi…baju saya pun jadi. Tapi hal yang  sangat saya inginkan dan yang membuat saya heran adalah kenapa ibu tidak pernah tarawih dan sholat ied dengan kami. Alasannya adalah, menyiapkan makan, atau ibu capek seharian karena pasiennya banyak (ibu saya perawat). Hemmh…saya benar-benar tidak mengerti.
Dan akhirnya suatu malam saya mendapati ibu saya sedang khusyuk membaca kitab dan disampingnya terdapat  rosario (semacam tasbih dengan salib di ujungnya).

Saat itu, sebagai seorang anak usia 7 tahun, saya hanya bisa menelan ludah kering mengetahui suatu yang tidak pernah terbayangkan. Ternyata setiap hari Sabtu/Minggu, ibuku sudah rapi dan berparfum…mau pergi ke sana.

Dan mulailah hari-hari saya dengan penuh ketidakpercayadirian. Kusimpan rapat-rapat status ibu saya, bagai menyimpan aib. 
Hampir setiap hari saya selalu menangis di sekolah.
Kenapa Ibu harus menjadi seorang ibu yang baik
Kenapa Ibu tidak pernah memarahi saya
Kenapa saya tidak bisa menemukan alasan untuk sekali-sekali membantah ibu, menyangkal ibu, menyadarkan bahwa ternyata ibu juga memiliki kesalahan…
Yang ada di depan saya hanya ibu yang lembut hati, dan anaknya hanya bisa menurut dan terlarut dengan kasih sayangnya.

Sempit hati saya dengan QS Ali Imron
Ayat 85 : Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat termasuk orang yang rugi
Ayat 87 : Mereka itu, balasannya adalah ditimpa laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya
Ayat 88 : mereka kekal di dalamnya, tidak akan diringankan azabnya dan tidak diberikan penangguhan.
Ayat 102 : Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. 

Bayangan saya harus siap berpisah dengan Ibu di suatu hari nanti, mengusik saya puluhan tahun, membuat setiap kenikmatan dari Allah SWT tidak sanggup saya nikmati sepenuh hati.
Lembaran Al Quran saya penuh dengan lipatan, khususnya pada ayat-ayat yang ditujukan untuk orang kafir. Saya siapkan bahan untuk menasehati ibu saya dan hasilnya, mulut saya bungkam tanpa keluar 1 kalimat pun, dan mata tak henti-hentinya menangis. 
Ibu saya berkata dengan lembut, “Ibu memaklumi jalan kalian, Ibu tidak pernah menuntut apa-apa. Tolong jangan ganggu Ibu untuk menempuh jalan ini sendiri.”
Sampai akhirnya hari wisuda hafalan juz 30 di sekolah anak saya pun tiba. Dan cerita Ustadz YM pun melecutkan harapan baru untuk saya. 

Mungkin Allah SWT menunggu saya.
Beliau ingin melihat usaha terbaik yang bisa saya lakukan, seperti apa…
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebaikan yang sempurna, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai” QS Ali Imron : 92
Alhamdulillah, saya terima uang penjualan emas yang rencananya untuk masuk sekolah anak saya meski di bawah harga pembelian. Harga emas sedang turun drastis. 
Biarlah… mungkin yang sedikit ini lebih berkah.
Saya beranikan telpon ke agen travel Dompet Dhuafa untuk menanyakan jadwal umroh yang paling dekat. 
Baru 50% dari biaya yang dibutuhkan, tapi saya beranikan diri saya. Dengan berdoa dalam hati, Yaa Allah hamba ingin berdoa di rumahMu. Tolong cukupi saya. Engkaulah Yang Paling Kaya, hanya kepadaMulah saya menggantungkan harapan. Tidak mungkin ke yang lain. Engkau Pemilik jutaan galaksi, sekedar mencukupi perjalananku ke tanah suci, bagaikan debu yang menempel di istanaMu.
Bismillah, saya memberanikan mendaftar dengan uang yang terkumpul.
“Silakan ibu penuhi syarat dokumennya, sisa yang $1000 dibayarkan waktu manasik, sekitar 2,5 minggu lagi”

Jeddah, Madinah, Mekkah, 25 Mei – 03 Juni 2012
Allah, dengarlah doa hamba.
Hamba sangat merasakan betapa Engkau Maha Rahman, Sangat Mengasihi dan Maha Memaafkan…Engkau tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan Ibu hamba selama berpuluh-puluh tahun menjadi tulang punggung bagi kehidupan 4 orang hamba yang selalu menyembahMu, yang tidak pernah meninggalkan keluarganya meskipun suami tidak bisa diharapkan untuk bekerja karena sakit.
Apakah ini bagian dari ujian bagi saya, selama di tanah suci saya berkali-kali  mendapat amanah untuk mengajari para mualaf, berdoa saat thawaf dan sa’i, niat dan bacaan sholat, sampai menemani seorang nenek dari Tunisia yang terpisah dari rombongannya demi mengantri sholat di Raudhah.
Saya tersenyum dalam hati, semoga Allah mau mengajari Ibu ku menjadi muslimah yang baik.
Sepulang dari umroh, saya menikmati bulan Ramadhan di tanah air.

Lebaran tahun 2012
Saya tidak banyak berkata, tapi ibu saya bertanya. Ada perihal penting apa yang membawamu pergi ke Mekkah? Ada cita-cita saya yang belum tersampaikan.

Pantura, 8 Km menuju Simpang Jomin, bulan Syawal, arus balik mudik, tahun 2012
Gubrakkk……Mobil saya kecelakaan
Alhamdulillah, saya ikhlas Yaa Allah. Saya tersenyum, menggoda Allah. Saya tahu Yaa Allah…..Engkau Pemilik Skenario Terindah di alam jagad raya ini.
Boleh saya optimis…..?  Tidak lama lagi bukan ?
Teman saya terbengong-bengong melihat saya kecelakaan, tapi saya tertawa-tawa.

Tapi yang saya tunggu-tunggu tak kunjung juga tiba. Sekali lagi pikiran yang terlintas adalah challenge Allah, itu yang kamu bilang seluruh kemampuanmu ?
Allah SWT masih menunggu action saya.
Saya peras segenap pikiran saya, harus apa lagi ya ?
Tiba-tiba saya ingat hobi ibu saya membaca, sangat tekun. Berarti saya harus menulis sesuatu. Saya kirim surat saya pada tanggal 27 Maret 2013. Saya kirim dengan selembar kerudung. Saya memutuskan untuk tidak bersua dengan suara Ibu untuk sementara waktu. Saya memang ingin ‘menyiksa’ beliau dengan kerinduan, agar beliau mau membaca surat saya baik-baik. 
Sudah Yaa Allah, hambaMU yang bodoh sudah mastatho’tu. Sudah mentok.
Saya sudah berusaha sebisa saya, saya menyayangi ibu saya, dan berharap Engkau Yang Maha Penyayang, sudi menyayangi beliau juga. Titik.
Tapi ternyata harus koma,,,

Saya melakukan nasehatnya Ustadz YM lagi, kali ini dengan berkomitmen dengan Allah, saya mau Sholat Dhuha plus Surat Al Mulk setiap jam 09.00. 40 hari deh, kalo kurang yaa saya terusin 100 hari. Ternyata saya terlalu menikmatinya hingga tidak pernah menghitung hari lagi. Malu ketahuan sama Allah, kalau harus menghitung-hitung amalan untuk ‘sesuatu yang sangat mahal’. 

06 Ramadhan tahun 2013
“Nduk,, sudahkah tidak bisa menolong aku merawat Ibu. Ibu tidak sadar 1 minggu ini. Rumah sakit sudah menyuruhnya pulang,” suara kakak saya yang selama ini merawat ibu saya di Blitar terdengar sangat lemah.

Blitar, 09 Ramadhan tahun 2013 , 00.00 s.d. 01.30 WIB
Saya menunggui Ibu yang tidak sadar sambil membaca Al Quran, saya berharap ingin khatam Ramadhan ini. Suara ibu ngorok, telinga layu, kaki sudah kaku dan dingin. Kenapa ada beberapa tanda ada di ibuku … Kembali saya mengingat baru kemarin baca postingan Tanda-Tanda Kematian seseorang. …
Jantung saya berdegup dengan kencang saat ibu saya menjerit-njerit saat ayat-ayat yang saya baca menunjukkan adzab untuk orang kafir. Keringat memenuhi dahi ibu saya, padahal malam itu sangat dingin.
Dan berubah mengangguk-angguk saat bacaan saya sampai pada ayat tentang balasan surga untuk orang yang bertobat.
Saat saya susul dengan surat-surat yang akrab saya baca, Al Mulk, Al Waqiah, ArRahmaan, AsSajdah. Saya tertidur pada ayat 18 Surat Yaasiin.
Saya kaget dibangunkan kakak saya untuk sahur  pukul 03.30 WIB. Sholat dulu lah barang 2 rakaat.
Waktu sahur  tinggal 10 menit lagi, saya harus cepat-cepat. Tapi ternyata Allah menghendaki saya sahur dengan hadiah terindahNya.
Syahadat terucap lirih, di penghujung malam, di waktu terkabulnya doa. 
Fabiayyi alaa irobbikuma tukadzdzibaan……

__________________

Teruntuk Ibuku yang sudah berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 16 Sya’ban (03 Juni 2015)
Pasca syahadatnya, Ibu hijrah ke Jakarta untuk makin khusyuk dalam beribadah dan menjauhkan dari pihak gereja yang belum menerima keislaman salah satu Pendoa Lingkungan teraktif di gerejanya.
Januari 2015 Ibu berangkat umroh, sepulang dari umroh diuji Allah SWT dengan penyakit Kanker Payudara stadium 3b.
Sempat tidak sadar 2 hari, putus kontak dengan kami putri-putrinya. Yang bisa menghubungkan kami hanyalah kalimat-kalimat thoyyibah, Al Fatihah dan doa-doa yang dihafal ibu. Setiap kami mengucap Allohumma…ibu melanjutkan shalawat. Kami mengucap ta’awudz dan Bismillah…ibu melanjutkan menjadi Al Fatihah.

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu” 
(QS Al Fajr 27-30)






_________________________________________________________________
Nimas Fitriana
Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan Direktorat Jenderal Pajak






Nimas Fitriana 4707941321840280142

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan