Loading...

Kecerdasan

Tulisan di kolom Hikmah di Harian Republika edisi hari Senin, tanggal 7 Maret 2016, pada halaman 1 (satu) diberi judul yang cuma satu kata;...

Tulisan di kolom Hikmah di Harian Republika edisi hari Senin, tanggal 7 Maret 2016, pada halaman 1 (satu) diberi judul yang cuma satu kata; Kecerdasan. Satu pilihan judul yang menarik.
Kata penulisnya, Imam Nawawi, umumnya manusia menganggap kecerdasan itu berkorelasi erat dengan daya cipta dalam hal sains dan teknologi. Penulis artikel itu melanjutkan pendapatnya bahwa kebanyakan manusia lupa mengaitkan kecerdasan dengan pengamalan agama.

Imam Nawani, si penulis, menyatakan bahwa kealpaan ini menyebabkan adanya pergeseran makna dari kehidupan dunia. Dunia yang – sejatinya- merupakan sarana kehidupan bergeser menjadi tujuan kehidupan. Penulis artikel itu mengutip sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Tirmidzi; “Orang cerdas adalah (mereka) yang mau mengoreksi dirinya dan berbuat untuk (kehidupan) setelah kematian”. Untuk memaknai sabda Rasulullah saw dimaksud, penulis artikel mengutip pandangan Ibn Katsir; “..yang dimaksud orang cerdas adalah orang yang senantiasa menghitung-hitung amal perbuatannya”.

Dan untuk memberikan kekuatan pada makna hadits, penulis mengutip pandangan Umar bin Khaththab; “Hisablah (buatlah perhitungan untuk) diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan, bersiaplah untuk menghadapi hari yang besar, yakni hari diperlihatkannya amal seseorang, sementara amal kalian tidak tersembunyi dariNya.”

Dengan demikian, penulis mencoba menegaskan, kecerdasan bukan sebatas akumulasi ilmu, kemampuan berkarya cipta, dan mengembangkan usaha semata. Tetapi, cerdas atau tidak lebih pada apakah diri ini telah benar-benar meyakini hari pembalasan atau tidak. Manusia yang ingkar kepada Allah swt benar-benar tidak cerdas, tulis Imam Nawawi sebelum mengutip firmanNya;

“Mereka bertanya, ‘Siapakah yang dapat menghidupkantulang-belulang yang telah hancur luluh?’. Katakanlah, Yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang hancur luluh itu adalah Dzat yang telah menciptakannya pada awal kejadiannya.”
(QS. Yasin :78-79)

Tanpa pengetahuan agama, manusia benar-benar tidak cerdas. Tetapi, pengetahuan agama seperti apa yang dimaksud oleh Imam Nawawi? Tentu Imam yang bisa menjawabnya. Tetapi, apakah itu semacam kemampuan mengucapkan dalil-dalil Al Quran dan hadits? Atau semacam kemampuan menghafalkan kalimat-kalimat suci secara luar kepala? Atau semacam kemampuan mengeluarkan suara indah atau syahdu atau suara yang menggetarkan ketika membacakan firman-firmanNya?

Rasanya bukan.
Lalu pengetahuan agama yang semacam apa?

Akal dan indra manusia pasti tidak dapat menjangkau Allah. Akal dan indra manusia tak akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana Allah bekerja, bagaimana Allah berkehendak, bagaimana Allah berperan, bagaimana mencatat, bagaimana Allah mengitung, dan bagaimana Allah memutuskan. Akal dan indra manusia bukan segalanya. Dibutuhkan nash, atau dalil, atau petunjuk dari Allah swt agar manusia sanggup mengenal tuhannya.

Namun sebagai makhluk yang terpilih, diberi hidayah, dan dianugerahi kemampuan untuk berpikir, manusia dapat menjelaskan dan meyakinkan dirinya bahwa Allah swt mampu melakukan apa saja yang dikehendakiNya. Kehidupan modern tampak rumit, tampak kompleks, tampak tak sederhana, atau tampak tak mudah diselesaikan. Memang. Mungkin, memang demikian adanya. Tetapi semuanya memiliki akar masalah.

Masalahnya, manusia terlampau kagum pada kemampuannya. Dengan kemampuannya itu, manusia merasa lebih cerdas dari Allah swt, setidaknya merasa lebih cerdas dari aturan-aturannya. Manusia terkagum-kagum pada nalarnya sendiri. Kesombongan adalah akarnya. Kebanggaan diri adalah akar masalahnya. Kebanggaan pada sains adalah masalah kehidupan modern ini. kebanggaan pada daya ciptanya adalah masalah pada manusia modern. Merasa hebat. Merasa cerdas. Merasa sudah seharusnya atau merasa telah seimbang dalam kehidupan adalah masalah utama dan selalu menjadi masalah utama manusia di zaman apa pun. Termasuk manusia di zaman modern ini.

Jadi ilmu yang bagaimana? Jawaban singkatnya; ilmu yang menghadirkan rasa takut kepada Allah swt.


___________________________________
Eko Novianto
Direktorat Potensi, Kepatuhan, dan Penerimaan






Khasanah 3040550298429189258

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan