Loading...

Karena Mamak Di Kampung Halaman

September 2004…  Nama pemuda itu tercantum dalam lembaran-lembaran kertas yang ditempel di tembok-tembok bangunan tua itu. DAFTAR NAMA-...

September 2004… 

Nama pemuda itu tercantum dalam lembaran-lembaran kertas yang ditempel di tembok-tembok bangunan tua itu. DAFTAR NAMA-NAMA YANG LULUS UJIAN SARINGAN MASUK. alhamdulilah, seketika itu juga dia berucap menghampiri kakaknya yang baru saja memarkir motor mereka di sudut bangunan tua itu. “D1 atau D3?, Jakarta atau Palembang pendidikannya?”, tanya kakaknya. dia pun tersenyum dan buru-buru balik lagi melihat daftar nama tersebut. dikarenakan terlalu bahagia sampai tidak melihat lagi lulus di jurusan apa dan dimana tempat pendidikannya. sore itu juga sehabis melihat pengumuman, ipung langsung pulang ke rumah sendirian. Bukan hal yang surprise ketika ia disambut dengan senyuman merekah mamak di rumah. kakaknya sudah lebih dulu menelfon memberitahu keluarganya di rumah begitu tahu ipung lulus. Tidak ada yang lebih hebat dibanding melihat kebanggaan di wajah orangtua melihat anaknya lulus,  ucapan selamat dari orangtua serta saudaranya membuat hati ipung berbunga bunga. Hari itu juga ipung memantapkan hati untuk merantau kuliah di ibukota.

September 2005…

Teman, kebahagiaan yang tidak ternilai bagi seorang anak adalah ketika menyaksikan wajah kebanggaan dan bahagia di wajah orangtua melihat kedua anaknya (ipung dan kakaknya) wisuda. Senyum dan tangis haru bapak dan mamak , meski itu semua tidak bisa disaksikan langsung oleh ipung dan kakaknya. Ya…setelah rencana yang disusun sedemikian detail jauh jauh hari oleh manusia untuk berangkat ke ibukota menyaksikan kedua anak laki-lakinya wisuda , ALLAH menentukan lain. Seminggu terakhir bapak ipung sakit, meski tetap menguatkan dan bertekad berangkat menyaksikan wisuda meski harus dengan kursi roda, kondisi bapak tetap tidak memungkinkan berangkat. Dan mamak????ah…urusan ini memang sederhana bagi mamak, bapak tidak berangkat maka mamak pun tidak berangkat, dari dulu mamak memang selalu setia sama bapak, mamak memilih tidak ikut mendampingi wisuda kedua anak laki-lakinya yang bandel dan mendampingi bapak yang terbaring sakit di rumah.

Pagi itu di Jakarta Hall Convention Centre menjadi saksi didikan bapak dan mamak. Ipung dan kakaknya diwisuda sebagai lulusan salah satu sekolah tinggi di Jakarta. Meski tidak didampingi oleh bapak dan mamak, mereka tetap menjalani prosesi wisuda pagi itu, dan, ipung ingat sekali ketika Kepala Balai memberikan sambutan di ceremony itu, ia menangis haru. “ para wisudawan / i, kalian tahu karena siapa kalian bisa berada dalam gedung ini sekarang, kalian tahu karena siapa kalian bisa diwisuda sekarang,??? Coba lihat ke ruang atas…disanalah orang-orang yang menyebabkan kalian bisa seperti sekarang, mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengguncang arsy dengan do’a do’a sepanjang malam agar kalian bisa berhasil, mereka adalah orang-orang yang menjadi perantara lewat sujud sujud malam mereka untuk kesuksesan kalian, mereka adalah orangtua yang sangat menyayangi kalian, maka sudah sepantasnya kalian memberi penghormatan kepada mereka, saya minta kalian berdiri dan bertepuktangan untuk mereka. Seketika itu juga ipung dan kakaknya beserta ratusan wisudawan / i berdiri dan menatap orangtua mereka di atas, bertepuk tangan sambil menangis haru. Para orangtua di ruang atas melambaikan tangan dan menangis bahagia. Ipung pun berdiri dan menangis haru, menatap ruang atas undangan, meski disana tidak ada wajah bapak dan mamak secara fisik, tapi ipung melihat mereka secara batin. Ah….teman, kebahagiaan orangtua adalah melihat anak-anaknya berhasil.

Januari 2006

Jam 10 malam, hp berdering. Di kamar 2x 3 itu, ipung dan kakaknya terbangun.hp kakak yang bunyi, ‘halo…bla bla bla..hanya sayup sayup terdengar pembicaraan kakak di telefon, ipung masih setengah sadar. Setelah pembicaraan selesai, kakak pun membangunkan ipung, “pung, tadi mamang dari kampung nelfon , bapak barusan menghembuskan nafas terakhir, meninggal dunia’’, seketika itu juga ipung terdiam beberapa saat menatap kosong ke arah kakaknya, meneteskan air mata dan berucap lirih, innalillahi wa inna ilaihi raji’un …setelah itu kembali terdiam, ingatan ipung kembali ke satu minggu sebelumnya.di saat ia dan kakaknya pulang ke kampung. Ipung masih sempat menggendong bapak ke mobil, mengajak bapak berjama’ah di masjid dan berfoto sekeluarga dengan pakaian wisuda. Ipung masih terbayang betul gurat gurat wajah lelah tua bapak, badan yang mengurus semenjak divonis kanker paru paru, air mata haru ketika melepas kepergian ipung seminggu yang lalu kembali ke ibukota. ‘’ayo pung siap-siap, kita pulang kampung penerbangan pertama pagi ini’’, suara parau kakak membuyarkan lamunan ipung.

Pertengahan Juni 2006

Setengah tahun berjalan, kenangan itu masih tampak jelas. Kepulangan mendadak untuk melihat wajah almarhum bapak untuk terakhir kalinya,mencium kening dan pipinya  ……allahuma figrh lahu war hamhu…(masih terbayang jelas dalam lamunan). Malam itu setelah makan malam di kosan, sebuah short message service (sms) masuk. Pung, dirimu penempatan di Jawa Barat. Alhamdulilah, satu penantian panjang itupun berakhir. Kabar penempatan merupakan kabar yang sangat ditunggu teman-teman seangkatan, setelah magang hampir setahun, hal inilah yang paling ditunggu. Dan setelah ditunggu menumbuhkan berbagai reaksi berbagai ekspresi. Tawa, sedih, senang, muram termasuk apa yang dialami oleh batin ipung. Pulau jawa???hm…..

Selang beberapa hari kemudian, ipung pulang kampung. Pulang untuk mengabarkan penempatan kerjanya dan sekaligus berpamitan untuk memulai dunia baru, dunia kerja. Malam itu di rumah, ipung tidak bisa tidur, memejamkan mata hanya menambah kuatnya mata untuk tidak terpejam sedikitpun. Pikirannya bercabang kemana mana dan berujung pada satu kata ‘haruskah’?. Ya, haruskah ipung mengambil kesempatannya saat ini, jujur saja…sepeninggal bapak hanya mamak sekarang yang menjadi alasan ipung berbuat sesuatu. Dan dengan kondisi mamak yang sendirian di kampung, ipung sempat berpikir untuk tidak melanjutkan untuk mengambil pekerjaan ini. Berpikir ada baiknya melepaskan kesempatan ini dan kuliah lagi atau mencari pekerjaan baru asal tetap berdomisili di kampung.

Malam itu, ipung tertidur dengan perasaan gundah tanpa menemukan satu kesimpulan pun untuk diambilnya. Menjelang keberangkatan wajib lapor ke kantor baru, ipung baru mengutarakan niat itu ke mamak. “mak, apa ipung sebaiknya tidak usah ambil saja pekerjaan ini ya, biar ipung disini kuliah lagi dan mencari pekerjaan disini saja, jadi bisa sambil nemenin mamak,  ipung rela kalau harus melepaskan kesempatan ini. Senyum pun mengembang di wajah mamak, ah…untuk hal yang satu ini ipung rela melakukan apa saja demi mamak, “tenang saja, mamak tidak akan sendirian dan kesepian disini, pergilah ke jawa sana, ambil kesempatan ini, mamak akan baik-baik saja disini, mamak akan selalu mendo’akan yang terbaik untuk kau disana. Banyak orang yang menginginkan kesempatan besar ini, jangan kau sia siakan.

Hembusan nafas mengeluarkan embun pagi itu, kaca mobil yang basah oleh gerimis pagi itu mengaburkan pemandangan di luar. 
Pagi yang sendu, sesendu suasana hati ipung saat itu. Pagi ini ipung berangkat ke jawa untuk penempatan kerja pertamanya. Tidak ada yang berubah dari ekspresi mamak, Senyum itu masih tetap sama seperti waktu mengantar pelepasan sebelumnya. Waktu berpisah (untuk sementara) pun tiba..ipung mencium tangan mamak berpamitan…tatkala mamak memeluk ipung, mamak samar samar membisikan sesuatu , “hati-hati disana, jangan lupa shalat dan berdo’a”, hanya itu yang terdengar di telinga ipung. Pagi itu satu babak baru dilalui ipung, resmi menjadi perantau di tanah jawa. Ah…mamak, begitu tegarnya engkau di depan anak laki-lakimu yang cengeng ini.

Ah..teman, pernyataan bahwa sesuatu itu baru terasa sangat berharga ketika kau telah kehilangannya memang benar adanya. Sesuatu itu kini hilang di mata ipung. Rasa kebersamaan dan kehangatan di tengah-tengah keluarga itu kini menguap untuk sementara waktu.

Ibu
Peluh yang mengalir deras dari tubuhmu
Ibarat garam yang memberi rasa pada hidupku

November 2009

Gurat gurat wajah lelah perempuan itu jelas terlihat, mengarungi kerasnya hidup setengah abad, berjuang membesarkan keempat putra putrinya sendirian semenjak ditinggal suami. Rambutnya telah memutih, keriput di wajah dan tangan bermunculan, tubuh yang semakin kecil dan mengurus….ah mamak…menangis hati ini melihatmu tertidur pulas di sampingku malam ini. Setelah semua yang terjadi, ipung akhirnya tahu apa yang menyebabkan semua urusannya di tanah rantau berjalan lancar dan penuh kemudahan.

Sebulan terakhir ini ipung berada di rumah..ternyata mamak memenuhi malam-malamnya dengan bersujud mendo’akan keempat buah hatinya, mengisi waktu dhuha dengan berdzikir untuk keberhasilan anak-anaknya dan tanpa diminta akan mendo’akan yang terbaik bagi putra putrinya, 
‘’karena jika kau tahu sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kau dan saudaramu, maka itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta serta rasa sayangnya kepada kalian’’ (burlian-tere liye).

mak, ingatkah engkau? Malam-malammu dulu telah terampas dengan tangisanku. Tidurmu tak lagi nyenyak karena kelakuanku. Nafasmu tak lagi tenang karena memikirkan masa depanku. Entah sudah berapa juta galon air mata yang kau tumpahkan untuk mengorbankan dirimu demi anakmu yang tak tahu diri ini. 

mak, orang-orang sekarang melihat anak-anakmu berhasil semata mata karena mereka termasuk anak-anak yang cerdas….tapi,  mereka sesungguhnya tidak tahu kalau guru yang menjadikan mereka seperti sekarang hanyalah seorang mamak yang sekolah dasar pun tidak selesai, mamak adalah alasan kami berbuat lebih dalam segala hal.

mak, duduklah dengan tenang di kursimu. Nikmati saja hari-harimu, isilah ia dengan ketaatan kepada Allah di hari tuamu. Biarkan tubuhku yang hina ini kau jadikan tempat untuk berpijak atau merebah di kala kau merasa lelah. Biarkan telinga yang pekak ini kau jadikan tempat sampah bagi muntahan gundah hati dan jiwamu. Tak usahlah kau mengeluarkan kata terima kasih dari lisanmu yang suci itu kepadaku, mak. Tak perlu. Seperti yang kubilang, aku takkan pernah berhak mendapatkan itu darimu. Takkan pernah. 

Sejuta maaf dan cinta dari anak anakmu mak,
Semoga mamak selalu dalam lindunganNya dan diberi kesehatan
Teruntuk almarhum bapak, 
Dalam kenangan, semoga ALLAH mengampuni dosa, menerima amal ibadah dam melapangkan kuburmu, amin


______________________________
Tri Putra
KPP Pratama Prabumulih





Tri Putra 5698307192992953912

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan