Loading...

Kenapa Ayah, Bukan Ibu?

Sebuah percakapan tiga anak perempuan sekolah dasar (salah satunya berjilbab) di dalam angkutan umum menghenyakan saya. Betapa tidak, ada k...

Sebuah percakapan tiga anak perempuan sekolah dasar (salah satunya berjilbab) di dalam angkutan umum menghenyakan saya. Betapa tidak, ada kata kata yang mungkin belum pantas (dari sisi umur) bahkan mungkin tidak pantas keluar dari mulut mereka. Seperti, “gepetan, cipok, pelukan, dan jadian”, yang tanpa risih mereka ungkapkan antar mereka. Miris hati ini mendengar itu, bagaimana mereka nantinya ketika beranjak remaja atau dewasa. Bisa jadi mereka nantinya bukan hanya sekedar mengungkapkan, namun sebagai pelaku zina. Naudzubillah.

Dan sekilas potret akhlak anak-anak itu, terjadi sekarang. Ketika membaca informasi, mendengar berita, melihat kejadian, dan mungkin bisa jadi, anak-anak kita yang mengalaminya sendiri. 
Adanya kasus seperti anak-anak melakukan hubungan layaknya suami istri, pacaran berujung meregang nyawa, pergaulan bebas, hamil diluar nikah, aborsi, narkoba, sex after class, dan seterusnya. Pertanyaannya, siapa lagi yang paling dirugikan?, tentunya adalah anak-anak kita terutama (anak) wanita. Tapi jangan terlalu sedih dan pesimistis, banyak juga anak atau remaja muslim yang membanggakan orang tuanya, yang cerdas dan pintar, bahkan yang berprestasi dan diakui dunia internasional. Tapi kembali pertanyaannya adalah, bagaimana akhlaknya. Karena bagaimanapun keadaan kita dan anak-anak kita, “ending”nya akan mati, lalu dibangkitkan, kemudian pengadilan Allah berlaku. Muaranya, apakah surga atau neraka. 

Jika jawabannya surga, maka akhlak yang mulia dapat mengantarkan kita dan anak-anak kita kesana. Maka tidak salah Rosulullah diutus di muka bumi ini salah satu tugasnya adalah menanamkan dasar akhlak yang mulia untuk manusia. Sabda Rasulullah:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”

Sebut saja berbakti kepada orang tua, tidak berbuat dzolim, menjauhi perbuatan keji dan mungkar (termasuk zina), berteman dan bertetangga yang baik, menghormati yang tua, mencintai yang muda, menyingkirkan duri dijalan, dan seterusnya, itulah akhlak mulia. Dan akhlak mulia itu akan muncul dari pribadi yang mulia, pribadi yang tidak pernah meninggalkan sholat, lisannya dipenuhi dengan tilawah dan dzikrullah, pribadi yang senantiasa ikhlas belajar dan bekerja, pribadi yang menyempatkan untuk berkhlawat dengan Allah di sepertiga malam, pribadi yang berusaha mencari ilmu untuk berislam secara kaffah, dan seterusnya. 

Kemudian, pribadi yang dengan akhlak mulia itu lahir akan dari orang tua yang mulia, yang ayah ibunya mendidiknya dengan kasih sayang dalam keteladanan, disiplin dan tegas dalam pemahaman islam, mensekolahkannya dengan lingkungan dan guru-guru yang baik, yang menghantarkannya mereka untuk belajar islam dengan para ustadz dan ulama yang faqih, dan seterusnya.
Tugas orang tualah yang mengarahkan anak-anak mereka mau menjadi apa nantinya. Dan jika orientasinya akhirat maka hanya ada dua pilihan jalan, jalan kemuliaan (taqwa) atau jalan kesesatan (fujur). 

“ Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuat dia (memiliki karakter) yahudi, atau (memiliki karakter) nasrani atau (memiliki karakter) majusi.” ( HR. Muslim )

Itulah sejatinya tugas orang tua, apakah berat dan susah? Sudah pasti. “No pain, no gain, Man jadda wa jada.” 

Firman Allah Subhanallahu Wataala :
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”  (QS.18 Al Kahfi : 46)

Namun, fenomena yang terjadi saat ini, tidak sedikit keluarga yang memiliki filosofi keliru tentang eksistensi anak. Seringkali keluarga yang hanya memiliki filosofi bahwa kehadiran anak semata-mata akibat logis dari hubungan biologis, anak dimanja, semua kebutuhan diberikan dengan alasan kasih sayang, tanpa memilki landasan ilmu dan makna arahan keberadaan anugerah anak. Yang akhirnya anak menjadi fitnah (ujian) dan musuh yang nyata.

Firman Allah:
“Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS.Ath-Taghobun : 14 )

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan disisi Allah-lah pahala yang besar.” ( QS.Ath-Taghobun : 15 )

Semua proses “melahirkan” anak yang berakhlak mulia diawali dari hubungan bathin orang tua dengan sang pencipta (melalui do’a) dan hubungan komunikasi (dialog) yang baik dengan anak. Jika salah satu atau keduanya buruk maka hasilnya akan buruk pula.

Ada sebuah tulisan karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri yang ditulis untuk meraih gelar Magister di Universitas Umm al-Quro, Mekkah, Fakultas Pendidikan, Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandingan. Judu l“Dialog Orangtua dengan Anak dalam Al-Qur’an Al-Karim dan Aplikasi Pendidikannya”.
Menurut tulisan ilmiah tersebut, ternyata terdapat 17 (tujuh belas) dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam Al-Qur’an yang tersebar dalam sembilan surat, dengan rincian:
Dialog antara ayah dengan anaknya sebanyak 14 (empat belas) kali.
Dialog antara ibu dan anaknya sebanyak 2 (dua) kali. 
Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya 1 (satu) kali.

Kesimpulannya, ternyata al-Qur’an ingin memberikan pelajaran, bahwa untuk melahirkan generasi istimewa (khoiru ummah) seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rosul-Nya, diperlukan dialog orangtua kepada anak seperti komposisi di atas. Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya. 

Kenapa ayah, bukan ibu?. Ini bukan berarti ibu tidak boleh banyak berdialog dengan anak tapi lebih kearah peran ayah harus lebih besar dalam komunikasi dengan anak. Ini seakan Al-Qur’an ingin menyeru kepada semua ayah, “Ayah, engkau harus rajin berdialog dengan anak, seperti dialog Luqman kepada anaknya”. Janganlah jadi “ayah bisu” (sedikit bicara), ayah yang hanya ada ketika menyediakan keperluan anak, ayah yang meninggalkan kepedulian pendidikan dan keteladanan, ayah yang hanya sholih sendirian, ayah yang mempercayakan anaknya pada televisi, gadget dan internet tanpa batas, ayah yang egois karena merasa lebih tua, lebih pintar, lebih kuasa, atas anak anaknya, dan banyak lagi. Tidak, jauhi itu para orang tua!.

Inilah mungkin jawaban mengapa seorang anak gadis yang masih belia mudah mudah jatuh dalam “pelukan” laki-laki yang bukan suaminya, bahkan melabrak hal-hal yang dilarang agama. Ini juga yang membuat anak laki-laki selalu memberontak bahkan durhaka kepada ayahnya, karena mereka telah kehilangan sosok ayah yang melindungi, mengayomi, yang kuat, dan yang ia hormati. mereka tidak ada rasa takut lagi atas peringatan dan ancaman ayahnya, apalagi hukuman Allah.  Naudzubillahimindzalik.

"Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa". (QS. Al-Furqan: 74)

Maka jika ada sosok ayah yang bertanggung jawab dan ibu yang penuh kasih sayang, yang dengan pemahaman islam yang baik sering berdialog dengan anak anaknya sejak dini, maka akan muncul anak-anak yang berakhlakul kharimah, taat kepada Allah dan yang mencintai Rosulullah, serta berbakti pada kedua orangtuanya. Wallahu a’lam


*** ”Be Real Parent, Jadilah Orang Tua Pembelajar” ***



___________________________________________
Tri Satya Hadi
Direktorat Potensi, Kepatuhan, dan Penerimaan






Tri Satya hadi 6121447319420525086

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan