Loading...

Panggilan Dzikrul Maut

Pasca lulus SMA 18 tahun yang lalu, saya harus berpisah dengan kedua orang tua karena melanjutkan pendidikan di kota yang berbeda dengan ko...

Pasca lulus SMA 18 tahun yang lalu, saya harus berpisah dengan kedua orang tua karena melanjutkan pendidikan di kota yang berbeda dengan kota kelahiran saya….

Sampai saat inipun belum bisa berkumpul dengan orang tua saya, karena kantor tempat saya bekerja juga berbeda dengan kota kelahiran saya…

Namun, perbedaan tempat itu tidak mengurangi intensitas kami dalam berkomunikasi, apalagi pasca dipanggilnya Ayah 8 tahun yang lalu, komunikasi dengan Ibu semakin intensif. Komunikasi kami tidak jauh dari masalah kesehatan, dan kondisi anak-anak kami…Karena di akhir pembicaraan, selalu terselip do’a dari Ibu untuk kesehatan dan kebahagiaan kami.

Namun, beberapa saat ini, dalam setiap panggilan telepon dari Ibu saya ada yang berbeda. Selain menanyakan kabar kami sekeluarga, tapi juga ada informasi lain yang disampaikan yaitu tetangga kami di desa yang meninggal dunia, siapapun itu muda, tua, sakit atau tidak, selalu disampaikan oleh Ibu saya….Bahkan Ibu terkadang hanya telepon untuk menyampaikan kabar duka dari tetangga kami di desa. Seperti panggilan beberapa waktu lalu seperti ini:

Ibu:”Assalamu’alaikum wr wb”

Saya:”Wa’alaikumusalam wr wb. Dalem Bu, Pripun?” (Iya Bu, Bagaimana?”)

Ibu:”Ora Le, mung arep ngabari yen Mbak Nur sedo, ndek mau isok.” (Gak ada apa-apa Le. Hanya mau memberi kabar, kalau Mbak Nur meninggal dunia tadi pagi.”

Saya:”Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un, Kenging punopo Bu, gerah punopo?” (Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un. Kena apa Bu?Sakit apa?”)

Ibu:”Jane ki yo ora loro kok. Mung masuk angin jarene. Trus digowo neng puskesmas,tapi ora ketulung.” (Sebenarnya gak sakit. Katanya hanya masuk angin, kemudian dibawa ke Puskemas tapi gak tertolong.”

Saya:”Lah nggih pripun Bu, bade pripun maneh. Namun saged usaha. Naminipun pejah naming Gusti Allah ingkang ngertos.” (Ya mau bagaimana lagi Bu, hanya bisa berusaha. Kematian hanya Allah SWT yang tahu.”)

Ibu:”Iyo Le, mugo-mugo awak dewe do sehat kabeh yo. Yowis ngunu wae. Assalamu’alaikum wr wb.” (Iya Le, semoga kita sehat terus ya. Sudah dulu ya).”

Saya:”Amin Bu. Wa’alamu’alaikumusalam wr wb.”

Itulah sekelumit percakapan dengan Ibu melalui telepon yang memberikan kabar tentang berita duka tetangga kami di desa. Mungkin, percakapan tersebut bagi sebagian orang hal yang biasa, namun bagi saya ada pesan moral yang ingin disampaikan oleh Ibu yaitu agar selalu ingat akan kematian (dzikrul maut). Karena kematian itu bisa kapan saja datang, kepada siapa saja tanpa melihat usia, jabatan, sedang apa, dan dimana dia berada.



Terima kasih Ibu atas doa dan peringatan agar terus dzikrul maut….Semoga Ibu dan kita selalu diberi kesehatan dan dipanggil menghadap Allah SWT dalam keadaan husnul khotimah….

Yaa Rabb….ampunillah segala dosa Bapakku, terangilah kuburnya lapangkanlah kuburnya, ringankanlah siksa kuburnya dan terimalah segala amal ibadahnya serta pertemukanlah kami di surga-Mu.

Ya Rabb…ampunilah segala dosa Ibuku, terimalah segala amal ibadahnya, berilah kesehatan padanya, berikanlah ke istiqomahan dalam beribadah kepada-Mu…




Catatan:
Le: Panggilan anak laki-laki di Jawa







______________________________________
S. Sentot Wardoyo
KPP Pratama Muara Teweh








S. Sentot Wardoyo 3747316168189668154

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan