Loading...

Ramadhan yang Lebih Hening

Ramadhan memang sesuatu yang perlu disemarakkan. Sesuatu yang perlu digegapgempitakan. Memang. Dan sudah kita lakukan. Dan perlu terus dilak...

Ramadhan memang sesuatu yang perlu disemarakkan. Sesuatu yang perlu digegapgempitakan. Memang. Dan sudah kita lakukan. Dan perlu terus dilakukan.

Ramadhan mungkin memang bisa jadi media untuk menumbuhkan lagi kebersamaan keluarga. Obrolan meja makan kala berbuka dan sahur mungkin bisa untuk itu. Berbuka bersama di tempat spesial mungkin bisa jadi pembeda.

Juga untuk menguatkan kekohesifan kelompok. Buka bersama dan tarawih bersama, mungkin bisa untuk itu. Dengan teman kantor, dengan teman seangkatan kuliah, dengan mantan teman sekolah, dengan gank, dengan lingkungan rumah, dengan komunitas hobi, dengan komunitas lainnya, atau lainnya. Memang.

Ramadhan juga berkaitan dengan santunan. Santunan ini. Santunan itu. Sumbangan-sumbangan. Bantuan-bantuan. Dan pemberitaan dan publikasi-publikasinya. Itu benar. Dan sangat perlu.

Atau mengisinya dengan perjalanan-perjalanan bersama. Safari atau muhibah. Atau kunjungan atau safar. Umrah atau ziarah. Rombongan. Bersama-sama. Untuk mengeratkan komunitas dan untuk merasakan sensasi berbeda. Memang mungkin bisa.

Atau sibuk menjadi pembicara. Atau menjadi nara sumber. Menjadi panitia ini itu. Atau menjadi pemateri kajian. Atau menjadi peserta di berbagai kajian. Itu penting. Dan ini juga soal momentum. Di antara kesemarakan Ramadhan adalah soal maraknya kajian keislaman.

Tapi kita juga perlu Ramadhan yang lebih hening.

Kita yang cenderung ramai dan berisik cuma perlu mengisi benak kita dengan perlunya agenda Ramadhan yang relatif lebih hening. Dan kita yang cenderung suka sepi, hanya perlu memahami bahwa Ramadhan itu sesuatu yang perlu disemarakkan.

Tetapi, saya ingin Ramadhan saya kali ini adalah Ramadhan yang relatif lebih hening dari Ramadhan-Ramadhan yang sudah pernah ada.

Pada akhirnya, semua kita akan sendiri. Tak ada lagi anak, istri, keluarga, dan kerabat. Tidak juga harta. Apalagi cuma komunitas. Apalagi cuma sebatas teman. Ada hari-hari sendiri. Yauma laa yanfa'u maalun wa laa baanun.

Saya ingin Ramadhan saya relatif lebih hening dan ini mungkin perlu juga anda baca sebagai bahan berpikir.

Jakarta, 1 Juni 2016



Catatan;
- Kekohesifan; perihal kohesif.
- Kohesif; melekat satu dengan yang lain, padu, berlekatan.



_____________________________
Eko Novianto Nugroho
KPP Madya Jakarta Pusat




Ramadhan 275885619013372998

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan