Loading...

Memperkaya Diri dengan Ikhlas Memberi

Ada dua hal yang tidak bisa terlepas keterkaitannya ketika dilakukan, yakni ikhlas dan memberi. Keduanya terikat dalam mencari keridhoan Al...

Ada dua hal yang tidak bisa terlepas keterkaitannya ketika dilakukan, yakni ikhlas dan memberi. Keduanya terikat dalam mencari keridhoan Allah, sebab memberi tanpa ikhlas hanya akan mendatangkan riya’, sedang ikhlas tidak akan terbentuk sempurna tanpa memberi. Keduanya merupakan satu kesatuan dalam taqorub (mendekat) ‘ilallah.

Ikhlas adalah proses yang tidak kenal henti, harus ada sebelum, saat, hingga setelah sebuah amal kebajikan dilakukan. Sangat berat memang menjaga keutuhan dari sebuah rasa ikhlas, namun ketika niat itu sedikit saja bergeser, Allah dengan segala kemurahannya senantiasa memberikan kesempatan untuk kembali memperbaiki hati, niat, dan motivasi. Dia yang ikhlas tak memandang kepada siapa pemberian itu diberikan, ketika dia mampu, secepat mungkin akan diusahakan. Dia yang ikhlas tidak berfikir tentang balasan, tentang pujian, apalagi tentang penghargaan, ketika dia bisa, sebaik mungkin akan disediakan. Dan dia yang ikhlas akan selalu memberikan yang terbaik yang dimiliki tanpa ada sedikitpun perhitungan, maka ketika dia punya, sebanyak mungkin akan diberikan. Sebagaimana ikhlas yang letaknya di hati dan muaranya di perbuatan, maka hadits berikut sangatlah memotivasi untuk terus beristiqomah ikhlas memberi, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa kalian dan tidak pula pada harta benda kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian” (HR. Muslim 2564/34).

Satu hal yang penting mengenai formula dalam memberi, yakni tidak ada ketakutan untuk berkurang bahkan dijanjikan akan semakin bertambah. Sudah banyak rumus per-infaq-an yang membuktikan, Allah akan menambahkan rezeki bahkan berkali lipat bagi yang banyak memberi. Cukuplah pula salah satu sosok yang sangat dermawan dan menjadi keteladanan dalam memberi, Abu Bakar ra. Ketika perang Tabuk dia menginfakkan seluruh hartanya. Rasul memastikan, “Lalu apa yang disisakan untuk keluargamu?”. “Aku tinggalkan Allah dan RasulNya kepada mereka”, jawab Abu Bakar pasti. Lalu apakah kemudian Abu Bakar dan keluarganya jatuh miskin karena hartanya habis untuk diberikan? Tidak, harta dunianya bahkan bertambah, disamping tabungan pahala (atas pemberian infaq) yang berlipat di sisi Allah.

Lalu bagaimana ketika harta tak dipunya? Ingatlah bahwa pemberian itu tidak sebatas pada materi. Senyum ataupun menampakkan muka yang ramah ketika bertemu dengan saudara seiman adalah pemberian (sedekah) yang paling murah dan paling indah yang pernah dicontohkan Sang Rasul. Menyingkirkan paku di jalan juga merupakan pemberian (keselamatan dan keamanan) bagi sesama. Membantu menyebrang jalan kepada mereka yang tuna netra juga merupakan pemberian (kemudahan) bagi yang memang membutuhkan. Bahkan seuntai do’a yang tulus merupakan pemberian paling berharga bagi yang dido’akan. Dari hal-hal kecil ikhlas itu ditempa. Dari hal yang kecil pula, pemberian itu diikhlaskan. Sekali lagi, ketika ikhlas telah tertanam, maka akan berdampak pada semakin baik dan terbaiknya pemberian. Banyak hal-hal kecil dalam konteks memberi yang dianggap sepele dan sudah mulai terlupa dalam masyarakat karena semakin meningginya ego dan menipisnya kepedulian, padahal sejatinya hal-hal tersebutlah yang bisa meninggikan derajat keikhlasan kita. Teringat pula firman Allah swt., “Maka barangsiapa berbuat kebaikan walau seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (QS. Al-Zalzalah:7).

Sebuah kisah yang begitu indah tentang Isa as., ketika suatu hari seorang lelaki pandir menimpuk wajahnya dengan kotoran dan mencaci makinya dengan kata-kata yang sangat menyakitkan. Isa membalasnya dengan mengucapkan kalimat-kalimat mulia yang begitu menyejukkan. Lalu kepada lelaki itu diberikannya buah anggur serta minyak wangi. Para muridnya seketika heran dan kemudian bertanya “Mengapa engkau balas kata-kata kejinya dengan kalimat mulia, bahkan kau beri dia anggur dan wewangian padahal dia telah menimpukmu dengan kotoran?”. “Karena setiap orang, hanya bisa memberikan apa yang dia punya”, jawab Isa dengan bijaknya. Kepada Isa as. kita belajar makna memberi yang terbaik, kepada dia kita belajar cara mudah untuk menjadi kaya. Senantiasa berikan yang terbaik yang kita punya, meski seburuk apapun yang kita dapat. Karena pesan Isa as., yang bisa kita beri adalah yang kita punya, maka setiap kali kita memberikan yang terbaik menandakan kita punya yang terbaik. Sebaliknya jika yang kita beri adalah standar atau mungkin yang terburuk, itu berarti kita hanya mempunya yang standar atau yang terburuk pula. Pemberian kita menandakan betapa kaya atau miskinnya (hati) kita. Kepada Isa as. kita belajar, sangatlah mudah untuk memperkaya diri dan menjadi yang terkaya, cukup dengan ikhlas memberi yang terbaik yang kita punya untuk setiap mereka yang membutuhkan.



Sebagai penutup, adalah syair yang begitu indah mengenai pembebasan makna ikhlas dalam memberi kebajikan yang dikutip dari buku Salim A Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang. Semoga darinya memberi ibroh (manfaat), bahwa ikhlas berarti siap memberi yang terbaik, dan kemudian siap melupakan (pemberian itu). Cukuplah Allah sebaik-baik penghisab (penghitung) dan pemberi balasan (atas apa yang telah diberikan).

Ikhlas, kata yang tak mudah dan selalu menyisakan tanya
dan kita adalah manusia
yang tak dapat tidak
suka menuliskan kebajikan-kebajikan kita
Maka aku menuliskan kebajikan di atas air
menjadi gelombang kecil, kecil saja
di permukaan, meriak dan (lalu) menghilang
lalu yang tampak hanya wajahku kehausan
Atau terkadang kutulis ia di atas pasir
agar angin keikhlasan menerbangkannya jauh dari ingatan
agar ia terhapus, menyebar bersama butir pasir ketulusan




_____________________________
Nurbarida Intan Fajriah
Bagian Umum Sesditjen KPDJP







Nurbarida Intan Fajriah 1183947071528237601

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan