Loading...

Nenek, Sampaikan Salamku Pada Mereka Yang Bergerak!

Hari ini matahari cerah sekali, hari-hari kelabu sepertinya akan segera berlalu. Hari dimana mendung menyelimuti matahari, hangat sinarny...

Hari ini matahari cerah sekali, hari-hari kelabu sepertinya akan segera berlalu. Hari dimana mendung menyelimuti matahari, hangat sinarnya tak pernah sampai ke kulit. Pagi ini matahari memuaskan kerinduan alam akan kehadiran dirinya. Orang-orang beraktifitas antusias, burung-burung berdecit riang, pohon pohon gemulai menyambut bersama angin. What a wonderful day! Sayup terdengar alunan lagu jadul yang udah di remix dan dinyanyikan ulang oleh John Legend mengalun merdu dari pemutar lagu entah dimana asalnya.

Telah lewat kehebohan di awal bulan kemarin, dimana banyak orang-orang digerakkan dengan paksa. Tak lebih karena keterpaksaan mereka juga sebab dari konsekuensi. Konsekuensi yang diambil karena menerima penghasilan tetap setiap bulannya. Konsekuensi mengabdi di tempat ini, tempat yang manusianya cepat atau lambat akan segera di robotisasi, tempat dimana manusianya akan dikondisikan agar tak mengenal tetangganya, tempat dimana keluarga adalah nomor sekian setelah pekerjaan. Disitulah aku bekerja nek, disitulah aku menumpahkan segala saripati kehidupanku, setidaknya sejak sebelas tahun yang lalu. Disinilah tempat dimana cucumu yang pernah nenek kenal dahulu tak lagi sama, cucumu kini telah menjadi dewasa dengan cepat bahkan mungkin telah menjadi orang tua dengan tergesa.

Nenek pasti sudah tahu, namun nenek mungkin tak akan pernah faham. Ketika nenek pergi ke sawah nenek berangkat dengan bahagia, sedangkan diriku, aku berangkat dengan segala keterpaksaan. Walau pada akhir hari aku selalu bersyukur, masih diberi kesempurnaan untuk mendatangi tempat kerjaku. Namun bangun tidurku tak seriang saat aku masih di rumahmu nek. Saat aroma nasi yang baru saja matang membangunkan pagiku, saat kicau burung belum hilang dari ranting-ranting pohon di sekitar rumah kita.

Ada banyak cara yang kulakukan agar jenuh, bosan dan kegamangan ini tak menggerogoti akal sehatku. Kuyakin pasti setiap orang juga melakukan hal yang sama denganku, mengubah kebosanan dan kejenuhan itu menjadi menyenangkan. Hanya saja mungkin ada sebagian yang melakukannya dengan cara yang mungkin tak begitu menyehatkan bagi akalnya. Atau bahkan tak menyehatkan bagi akal orang disekitarnya dan akal para bos dan atasannya.

Hari ini ada bisikan baru yang mulai menggelayut, rekan rekan kerjaku dibuat resah. Berdasar pengalaman pergerakan orang-orang sebelumnya, maka bisikan kali ini dan mungkin selanjutnya barang tentu akan membuat resah siapapun. Bila yang dibuat resah bawahan maka atasan juga akan mendapat imbasnya salah satunya ya penelanjangan di depan publik melalui media massa. Sudah semakin cerdas dan kreatif rekan rekan kerjaku ini. Era reformasi membawa perubahan yang signifikan, bahkan menulis diary pun sekarang bisa di media massa. Tak ada tedeng aling-aling lagi, yang penting bisa teriak dan memaki, ah… dunia.

Bila yang dibuat resah adalah atasan, maka kebijakan bisa direfisi dan diperbaiki ulang sehingga keresahan itu hilang dan tak ada yang tahu apa yang terjadi. Apakah nenek punya informasi, di tempat lain juga berlaku begini? Karena bila hal itu tak terjadi di tempat lain, maka seharusnya tempat kerjaku juga harus lebih eksklusif dalam hal kompensasi. Namun apalah daya kompensasi itu wewenang orang langit nek. Kami yang di atas bumi ini nunggu saja, siapa tahu hujan datang lebih cepat dan lebih deras dari biasanya.

Nenek pernah menceramahiku tentang ikhlas dan bekerja dengan kesungguhan hati. Jangan pedulikan apa yang kau terima tapi selalu koreksi apa yang telah kau beri. Namun hal itu adalah sebuah pekerjaan yang berat nek, pekerjaan yang mungkin hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang memulai harinya tidak dengan bosan, jenuh dan penuh kegamangan. Di tempatku bekerja ini, bosan adalah sarapan paginya, jenuh adalah makan siangnya dan kegamangan adalah makan malamnya.

Nenekku sayang, biarlah cucumu ini menjalani hidup dengan ketidak pastian itu. Karena akan rugi menjadi manusia bila telah mampu melihat masa depan, setidaknya si jenius Einstein pernah berujar begitu. Telah sempurna Allah menciptakan waktu sehingga tak ada satupun manusia yang mampu melihat masa depan barang sedetik pun. Begitupun apa yang terjadi dengan pergerakan orang –orang di sekitar tempat kerjaku ini. Sedih, duka, kecewa, lara, akan terobati dengan waktu yang diciptakan Allah membungkus alam semesta. Sehingga sejarah akan selalu menjadi pelajaran bagi yang mau belajar.

Nenekku sayang, sudah kututup saja curhatku kali ini, daripada nanti semakin banyak yang membaca dan memaki diriku. Padahal sejatinya seharusnya neneklah yang seharusnya mencubitku terlebih dahulu bila ada kalimat yang tak biasa cucumu ini keluarkan dari kerongkongan. Maka nenekku sayang, sampaikan salamku pada bunga-bunga yang masih setia engkau rawat di kebun. Mungkin saja bunga-bunga itu akan mengabarkan kepada matahari bahwa pergerakan sinarnya akan selalu menghangatkan hati yang sedang gundah gulana.




____________________________________
Fahrizal Ardhi Nugroho
KPP Pratama Natar






Inspirasi 1263843305946213902

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan