Loading...

Pajak Dalam Perspektif Ibadah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Segala puji bagi Allah SWT, Rabb semesta alam, Tuhan yang maha memberi rezeki kepada setiap...

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT, Rabb semesta alam, Tuhan yang maha memberi rezeki kepada setiap hambanya. Tuhan yang menjamin setiap rezeki hambanya mulai dari hidup sampai akhirnya ajal menjemput. Rasa syukur ini pun harus kita panjatkan atas nikmat islam yang masih Allah berikan sampai saat ini, semoga Allah senantiasa memberikan kita hidayah agar nikmat islam yang sangat besar ini akan kita bawa sampai akhir hayat kita. Amin ya rabbal ‘alamin. Shalawat serta salam marilah senantiasa kita sampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sosok Nabi yang sangat mencintai umatnya. Semoga kelak di yaumil akhir nanti, kita termasuk ke dalam golongan umatnya dan mendapat syafaat  dari Beliau amin ya rabbal ‘alamin. 

Pada kesempatan kali ini, penulis ingin memberikan gagasan tentang bagaimana pajak dilihat dari sudut pandang ibadah. Prinsip dasar dalam hidup ini adalah segala aktivitas yang kita lakukan harus menjadi sarana untuk beribadah kepada Allah SWT sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 21-22 dengan arti sebagai berikut : “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa (21). Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui (22)”. 

Sebagai pegawai pajak pasti akan terasa berat bagi kita untuk mengumpulkan uang triliunan rupiah jika kita hanya mengandalkan kemampuan kita saja. Bahkan sekalipun dengan mengerahkan 37ribu pegawai di seluruh Indonesia. Hal tersebut setidaknya memberikan pelajaran kepada kita bahwa kita tidak dapat berlepas diri dari tangan (bantuan) Allah SWT. Bagi Allah uang triliunan rupiah itu sangat mudah untuk dikumpulkan tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT. Lalu pertanyaan yang muncul adalah “Sudahkah kita dekat dengan Allah agar Allah senantiasa memudahkan kita termasuk dalam mengumpulkan penerimaan negara ini?” atau jangan-jangan kita terlalu sibuk dengan menggali potensi tetapi lupa bahwa segala sesuatu yang kita lakukan itu tidak dapat berjalan dengan maksimal tanpa bantuan dari Allah SWT. 

Gambaran di atas tadi, penulis sajikan sebagai pandangan awal bahwa penerimaan pajak pun harus bernilai ibadah di sisi Allah SWT agar Allah memampukan kita dalam mengumpulkan penerimaan tersebut. Modernisasi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak adalah langkah untuk membuat sistem di tubuh DJP lebih baik lagi tetapi modernisasi ini hanyalah satu dari sekian upaya formal sebagai sarana untuk mencapai perbaikan sistem DJP. 4 sifat dasar kerasulan Nabi Muhammad SAW itu yang sudah kita kenal seharusnya menjadi syarat mutlak yang ada pada setiap diri insan pajak yaitu siddiq, amanah, fathonah, tabligh

Mari kita teliti lebih dalam jika keempat sifat ini ada di tubuh setiap insan pajak. Seorang pegawai pajak diharapkan mempunya sifat siddiq di dalam kehidupan sehari-hari. Pegawai pajak menjadi tulang punggung negara untuk mengumpulkan penerimaan. Sifat integritas yang selalu ditekankan sejatinya merupakan sifat siddiq yang ada pada diri Rasullullah SAW. Kita bisa bayangkan betapa indahnya DJP jika setiap pegawainya memiliki sifat jujur ini. Kemudian yang kedua adalah sifat amanah. Sifat ini juga merupakan salah satu sifat yang harus ada pada diri insan pajak. Setiap dari kita mempunyai peranan yang strategis dalam mencapai penerimaan negara. Sumpah PNS yang pernah kita ucapkan tidak akan menjadi sebuah peristiwa yang sakral jika kita menganggap bahwa kegiatan itu hanyalah agenda seremonial yang sudah turun temurun ada. Haruslah kita tanamkan dalam diri kita bahwa sumpah PNS adalah janji kita kepada Allah SWT sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah SWT dengan cara menjadi pegawai pajak yang sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah SWT. 

Kemudian sifat tabligh. Pajak sangat berkaitan erat dengan undang-undang dan bersifat semi-dinamis. Di satu sisi bersifat rigid karena segala aktivitas perpajakan haruslah berdasarkan undang-undang dan di sisi yang lain bersifat dinamis karena sering terjadi perubahan dalam undang-undang. Maka dalam hal ini, adalah kewajiban bagi setiap pegawai pajak untuk memberikan pemahaman yang sejelas-jelasnya kepada para wajib pajak untuk setiap kebijakan yang baru. Kita tidak bisa bersikap untuk tidak peduli kepada mereka, sifat tabligh ini adalah salah satu wujud bentuk peduli kita terhadap mereka. 

Kemudian sifat fathonah atau bersikap bijaksana. Dimensi pajak adalah dimensi yang sarat dengan konflik. Tidak ada manusia di dunia ini yang mau memberikan hartanya secara cuma-cuma apalagi definisi pajak adalah sebagai pungutan yang dipaksakan. Pajak tidak selalu berbicara tentang materi, tidak selalu berbicara tentang bagaimana sebuah sistem dibuat sedemikian rupa. Sehingga pada akhirnya wajib pajak mau membayar pajaknya dengan baik. Ada aspek-aspek yang jika kita perhatikan lebih dalam justru akan sangat membantu kita agar wajib pajak mau membayar pajaknya karena sejatinya sistemnya hanyalah benda mati yang tidak memperhatikan aspek psikologis misalnya yang jauh lebih penting dalam mengajak wajib pajak untuk membayar pajaknya. Seorang pegawai pajak yang mempunya sifat fathonah dalam dirinya akan mampu membawa suasana wajib pajak menjadi nyaman dengan sifat bijaksananya. Kita tidak perlu merisaukan wajib pajak yang mau membayar pajaknya dengan baik. Yang kita risaukan adalah wajib pajak yang tidak mau membayar pajaknya. Maka sifat fathonah ini akan sangat membantu pegawai pajak dalam menghadapi konflik-konflik yang terjadi dengan wajib pajak. Dengan uraian yang telah saya jelaskan tadi memberikan pemahaman kepada kita bahwa justru aktivitas keseharian pegawai pajak dituntut untuk memiliki uswah hasanah atau teladan yang baik agar dapat menjadi contoh bagi masyarakat selaku wajib pajak dan memberikan rasa nyaman apabila kita mampu meneladani empat sifat Rasullullah SAW. 

Penulis ingin memberikan pandangan bahwa marilah kita jadikan profesi kita sebagai pegawai pajak sebagai ladang untuk beribadah kepada Allah SWT. Marilah kita berakhlak seperti akhlak Rasullullah SAW karena sesungguhnya akhlak-akhlak seperti yang Rasullullah milikilah yang akan membantu keseharian kita dalam menjalani profesi kita sebagai insan pajak. Ada kekhawatiran dalam diri penulis, Mampukah tahun ini kita mencapai penerimaan yang semakin tinggi? Jawabannya adalah, ya kita mampu, syaratnya adalah marilah kita meminta kepada Allah untuk menggerakkan hati para wajib pajak agar mau membayar pajaknya dengan baik. Penulis ingin menegaskan bahwa pajak tidak hanya bersifat materi. Bukan hanya sesuatu yang transaksional. Bantuan Allah lebih mampu berkuasa dari penggalian potensi yang selalu kita kerjaan. Yakinlah bahwa 1400 triliun terasa sangat sedikit di sisi Allah SWT. Marilah kita senantiasa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT agar Allah mau menolong kita, mau menolong DJP, mau menolong bangsa Indonesia agar target penerimaan pajak dapat tercapai. Marilah kita kembali menyadari bahwa aktivitas yang kita lakukan haruslah bermuara kepada Allah SWT. Jadikanlah aktivitas kita sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT. 

Hadits yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib al-Quraisy al-Adawi beliau bersabda : 
”Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung dengan niat-niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Karena itu, barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa hijrahnya untuk dunia yang ingin dia raih, atau untuk wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia berhijrah karenanya”. Marilah kita niatkan usaha kita untuk mencapai penerimaan pajak semata-mata karena Allah SWT. Pada akhir penulisan ini penulis ingin memberikan sedikit kata motivasi bagi diri penulis dan bagi pegawai yang lain “ 

Marilah kita tengadahkan tangan kita kepada Allah SWT meminta kepadanya untuk menggerakkan hati para wajib pajak agar mau membayar pajaknya. Sesungguhnya membolak-balikkan hati sangatlah mudah bagi Allah SWT. Yakinlah bahwa ribuan tangan yang menengadahkan tangan untuk berdoa kepadaNya jauh lebih dahsyat dari sekedar jutaan goresan tinta dalam menghitung potensi pajak. Yakinlah bahwa 1400 triliun itu sangat mudah di sisi Allah SWT.” 

Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi diri penulis pribadi dan bagi para pegawai lainnya. Semoga Allah senantiasa menolong kita dalam setiap kehidupan kita. Semoga Allah senantiasa meneguhkan kita untuk senantiasa berada di jalannya. Akhir kata semoga tulisan ini bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.         





_________________________________________________
Hananto Haryadi
KPP Pratama Bontang



Khasanah 8723341450060158326

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan