Loading...

Ode Untuk Ayah

ayah..  kau ajarku melangkah, kasihmu tak menyerah beri cintamu, tuntun jalanku ku tau kau tak selamanya namun hati percaya setia...

ayah.. 
kau ajarku melangkah, kasihmu tak menyerah
beri cintamu, tuntun jalanku
ku tau kau tak selamanya
namun hati percaya
setiap langkahmu untuk hidupku

Sepenggal lirik lagu yang berjudul “ode untuk ayah” dari pandji di atas membawa kenanganku pada seorang ayah. Membuatku ingin sedikit bercerita dan mengenang kembali tentang sosok yang telah meninggalkan kami. Papa, kami anak-anaknya biasa memanggilnya. Beliau adalah sosok yang pendiam, tidak banyak bercerita, dan sedikit ngomong kepada kami anak-anaknya. Kami, anak-anaknya lebih dekat kepada mama karena sikap papa yang seperti itu. Tapi di balik pendiamnya, beliau sosok ayah yang bertanggung jawab atas keluarganya. Beliau seorang pekerja keras dan keras kepala atas pendapat atau keinginannya. Kami memang lebih takut atas diamnya papa daripada marahnya mama.

Sosok yang kami takuti itu pun ternyata lebih kami khawatirkan ketimbang mama. Ketika mama dan papa pergi menunaikan ibadah haji, melalui sambungan telefon kami selalu bertanya “bagaimana papa?” “papa sehat?” atau pertanyaan lain senada yang mengisyaratkan kekhawatiran seorang anak kepada orangtuanya. Hal ini bukan berarti kami, anaknya tidak mengkhawatirkan mama, mungkin di mata kami mama lebih kuat dari papa. Air mata pun jatuh untuk pertama kalinya ketika kami, anak-anaknya menyambut papa dan mama pulang dari ibadah haji.

Kedekatan antara kami, anak-anaknya dan papa justru mulai terasa pada saat beliau diuji dengan sakitnya. Sakit yang ternyata baru ketahuan setelah beliau tidak lagi bekerja. Sakit yang tidak pernah kami sangka akan mengerogoti tubuh kecilnya. Sakit yang akhirnya membuat beliau harus melakukan pengobatan rutin. Air mata pun tak kuasa kembali jatuh melihat sosok pemimpin keluarga terbaring, kami, anak-anaknya tak kuasa menahan sedih karena harus melihat tubuh yang dulu bekerja membanting tulang demi keluarganya tak lagi berdaya, hanya tergolek lemah di tempat tidur dengan rambut yang semakin tipis.
kini kau berbaring di dekap bumi
tapi suaramu masih nyaring
segala kisah dan cerita, segala pengalaman
jadi rambu-rambuku untuk kehidupan

Awal tahun 2006, papa berpulang ke Yang Maha Pencipta. Sosok yang keras dan pendiam itu meninggalkan mama dan kami, anak-anaknya. Meski beliau jarang bercerita dan berkisah kepada kami, kami sangat kehilangan sosok itu. Dalam percakapan dengan staff papa yang pernah ke kantorku aku mengetahui sedikit pandangan mereka terhadap papa. Mereka bangga melihat kami, anak-anaknya sekarang yang telah bekerja, dan mereka menitipkan pesan agar bekerja dengan hati-hati. “Bapak (papa kalian) adalah seorang yang 10 betul, beliau bekerja dengan benar, tidak pernah untuk melakukan kecurangan dan tidak mau neko-neko dalam bekerja, kalian harus hati-hati seperti beliau dalam bekerja

mungkin kita tak pernah berpelukan
mungkin kita jarang berjabat tangan
mulut tak pernah ucapkan rasa sayang
bibirku tak pernah menyentuh tanganmu
dan hormatku tak dengan tangan terbuka yang menyilang

Genap 9 tahun sudah beliau meninggalkan kami. Sosok pendiam itu tidak sempat menyaksikan keempat anaknya menikah atau merasakan jerih payah yang didapat dari kerja anak-anaknya. semoga kami, anak-anaknya senantiasa menjadi amal yang tak pernah putus bagi beliau.
Allahummaghfir lahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bil-ma’i watstsalji wal-baradi

Meski kini kau tak lagi bersamaku
Benarkan setiap salahku
Namun kan ku ingat slalu semua ajarmu
Aku sayang kamu..
  


_______________
Tri Putra
KPP Pratama Prabumulih





Tri Putra 8573844394678276225

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan