Loading...

Duduk-duduk di Anak Tangga

Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta’ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat. (HR. Muslim). —o0o— ...

Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta’ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat. (HR. Muslim).
—o0o—

“Jangan duduk di depan pintu, nanti susah dapat jodoh!”
“Jangan berdiri di depan pintu, nanti rezeki jadi seret!”

Mungkin di antara kita pernah mendengar kalimat tersebut terlontar dari lidah orang tua kita. Kalimat yang intinya bermuatan nasihat yang baik. Mungkin kalimat tersebut juga dapat diberlakukan di tempat lain, semisal jangan duduk-duduk atau berdiri di anak tangga masjid, sekolah, atau kampus, dan jangan nongkrong di pinggir jalan. Sebab pesan moral yang tersimpan di dalamnya adalah sama.
—o0o—
 
Shalat Zhuhur berjama’ah di Masjid Shalahuddin Kantor Pusat Direktorat sudah selesai dilaksanakan. Sebagian jama’ah ada yang meninggalkan masjid setelah berdoa atau shalat sunnah ba’diyah. Sebagian lagi ada yang menyambung ibadah mereka dengan membaca al-quran.
 
Jika tidak ada jadwal ceramah yang biasanya rutin seminggu sekali atau dua kali, biasanya saya langsung kembali ke ruang kerja meskipun tidak langsung bangkit setelah imam mengucapkan salam. Jika iman di dalam dada ini sedang naik, saya akan melaksanakan shalat sunnah ba’diyah dan melanjutkan bacaan beberapa ayat Al-quran. 

Keluar dari pintu masjid, saya melihat banyak para jama’ah yang sedang duduk-duduk di anak tangga. Sebagian jama’ah yang duduk tersebut ada yang terlihat sedang mengenakan kaos kaki dan sepatu. Sebagian lagi terlihat duduk-duduk sambil mengaktifkan aplikasi smartphone di tangan mereka. Sebagian lagi ada yang duduk berkelompok dan asyik bicara satu sama lain.

Satu hal yang saya alami dengan kondisi tersebut adalah, saya agak kesulitan untuk mencapai titik di bawah anak tangga di mana saya meletakkan sepasang sandal yang saya kenakan ketika datang ke masjid. Kedua mata saya memang bisa langsung melihat sandal saya tersebut. Namun untuk mencapainya, saya tidak bisa berjalan lurus dan langsung menuju sepasang sandal saya itu  karena ada beberapa jama’ah yang duduk-duduk di anak tangga. Saya harus mencari celah yang bisa saya lalui. Mungkin sedikit berputar. Tak jauh memang, paling cuma beberapa langkah saja. Hanya saja sering muncul perasaan terganggu dengan kondisi para jama’ah yang sedang duduk-duduk di anak tangga tersebut.

Adakah yang merasakan hal yang sama? Atau saya saja yang terlalu sensitif?
Kembali ke kalimat di awal coretan ini. Kalimat tersebut mungkin bisa dianggap mitos. Sebab selintas, tak ada hubungannya antara duduk atau berdiri di depan pintu dengan jodoh atau rezeki. Jadi kalimat tersebut mungkin bisa dibilang mengada-ada.

Tapi jika mau berpikir sedikit lebih dalam, mungkin antara berdiri di depan pintu memiliki kaitan dengan jodoh atau rezeki. Mungkin kalimat tersebut terlahir dari pengalaman hidup yang dilalui oleh para orang-orang tua di jaman dahulu. Mungkin pada saat itu ada seseorang yang memiliki kebiasaan duduk atau berdiri di depan pintu yang kemudian kesulitan dalam mendapatkan jodoh atau seret dalam mencari rezeki. Dari mulut ke mulut, pengalaman tersebut menyebar lintas orang, kampung, bahkan lintas zaman.

Menurut pemikiran saya yang masih dangkal, kalimat tersebut ada benarnya. Namun saya tidak sepakat jika kalimat tersebut dijadikan sandaran atau acuan. Ada sebuah kalimat yang jauh lebih tepat untuk dijadikan dasar. Berikut adalah kalimatnya :
 
Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta’ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat. (HR. Muslim).
 
Membaca terjemahan hadits tersebut saya teringat tentang salah satu materi dalam pelajaran Tata Negara ketika saya duduk di bangku SMA. Materi tersebut membahas tentang metode penafsiran undang-undang di mana salah satu metodenya bernama a contrario.
 
Metode a contrario adalah suatu cara menafsirkan undang-undang yang didasarkan pada perlawanan pengertian antara soal yang dihadapi dan soal yang diatur dalam suatu pasal peraturan perundang-undangan. Mungkin metode ini tidak cocok untuk menafsirkan hadits di atas. Sebab untuk menafsirkan sebuah hadits ada banyak ilmu yang dibutuhkan. Sayangnya saya belum pernah mempelajarinya.
 
Seandainya metode ini diperkenankan dalam menafsirkan hadits di atas, maka bisa artikan sebaliknya, yaitu  jika seseorang mempersulit orang lain, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mempersulit urusannya di dunia dan akhirat.
 
Maka berdiri atau duduk di depan pintu, duduk-duduk di anak tangga masjid, sekolah, dan kampus, atau nongkrong-nonglrong di pinggir jalan yang sempit adalah perbuatan yang bisa menyulitkan orang lain yang akan masuk dan keluar melalui pintu tersebut, yang akan menaiki atau menuruni tangga, dan yang akan melewati jalan.
 
Ketika kita menyulitkan urusan orang lain, maka bukan hal yang mustahil jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mempersulit urusan kita di dunia seperti terkait dengan jodoh, rezeki, prestasi, dan lain sebagainya. Bukan mustahil juga jika kelak di akhirat, urusan kita dipersulit oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Wallaahu a’lam.


______________________________
Rifki
Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan



Rifki 7774376695004969459

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan