Loading...

Maghrib Bersama Ayah

“Allahu Akbar, Allahu Akbar… “ Gema suara adzan memecah senja,  hampir bersamaan dengan suara deru motor Ayah yang baru saja tiba di ru...


“Allahu Akbar, Allahu Akbar… “

Gema suara adzan memecah senja,  hampir bersamaan dengan suara deru motor Ayah yang baru saja tiba di rumah. Aku dan Bunda yang sedari tadi menunggu Ayah tersenyum menyambut kedatangannya.

“Ayah kok telat sih?” ucapku sambil menghambur ke dalam pelukan Ayah.  

“Iya nih, tumben ayah pulangnya telat. Biasanya sebelum maghrib sudah sampai rumah”, komentar Bunda yang ikut merasa heran. 

“Maaf, ayah ada urusan penting tadi. Sekarang kita siap-siap sholat maghrib yuk. Yang terakhir wudhu jadi imam ya”, canda Ayah.

“Oke…” sahut Bunda dan aku yang diiringi tawa kami berdua.
….

Namaku Alif, lahir sepuluh tahun lalu dari keluarga sederhana namun berkecukupan. Ayah adalah seorang abdi negara yang bertugas mengumpulkan rupiah untuk kemakmuran bangsa. Sedangkan Bunda adalah sosok ibu rumah tangga yang serba bisa. Di rumah mungil kami, hanya aku satu-satunya anak dari Ayah dan Bunda. Tak heran jika mereka selalu mendidikku dengan pengetahuan dan akhlak terbaik mereka. 

Oh iya, karena jam kerja Ayah yang padat, keluarga kami hanya bisa berkumpul di saat-saat tertentu saja. Maghrib adalah salah satu waktu favoritku. Di saat maghrib kami semua dapat berkumpul bersama. Karena lokasi masjid yang jauh, Ayah selalu mengajak kami untuk sholat maghrib berjamaah di rumah. Seusai sholat, Ayah mengajariku membaca Al-Qur’an agar aku tak tersesat hidup di dunia katanya. Sesekali, Ayah dan Bunda bergantian membawakan cerita-cerita tentang Nabi dan orang-orang saleh beserta hikmah di balik kisahnya. Aku begitu menyukai saat maghrib. Bisa bercengkrama bersama keluarga adalah saat-saat terbaik.

“Bunda, Alif, hari ini Ayah dimutasi. Insya Allah minggu depan sudah mulai pindah”, ucap Ayah membuka percakapan malam itu. 

"Mutasi? Ke mana, yah?" jawab Bunda antusias.

"Jakarta, Bund."

"Jakarta? Berarti kita juga pindah?"

"Tidak usah. Biar Ayah saja yang bolak-balik Jakarta-Bogor. Kasihan kalian kalau harus pindah. Pertimbangkan sekolah Alif juga kan."

"Ya, kalau Ayah memang sanggup. Mudah-mudahan ini tempat terbaik bagi Ayah."

"Aamiiin," jawab aku dan Ayah berbarengan. Malam itu aku belum begitu mengerti. Toh, ayah hanya pindah kantor saja. Sedangkan aku dan Bunda tetap tinggal di kota kelahiran kami.

Pagi-pagi sekali Ayah sudah berangkat kerja. Kata Bunda wajar saja karena kantor baru Ayah cukup jauh. Aku yang biasanya ke sekolah menumpang motor Ayah, hari ini harus rela naik angkutan umum. Aku mengerti keadaan Ayah yang harus bekerja setiap hari demi mengabdi pada negeri. Akan tetapi sore ini Ayah belum pulang juga. Mungkin ayah terlambat lagi, pikirku.

"Bunda, Ayah kok belum pulang ya?"

"Kan kantornya sekarang pindah jadi lebih jauh. Alif tunggu yang sabar ya," nasihat Bunda.
"Tapi kita tetap sholat maghrib bareng kan, Bun?"

"Insya Allah, Lif. Sekarang lebih baik Alif siap-siap. Sebentar lagi adzan tuh."

"Gak mau. Alif nunggu Ayah aja. Alif gak mau sholat maghrib kalau gak sama Ayah," ucapku sambil menatap pintu pagar, berharap Ayah segera pulang.

Adzan maghrib kembali berkumandang. Dulu Ayah pernah bilang bahwa dalam kondisi sesulit apapun, utamakan selalu sholat. Apalagi bagi seorang laki-laki, usahakan untuk selalu sholat berjamaah. Namun kini Ayah sendiri yang melanggar kata-katanya. Hingga adzan maghrib usai, tak kutemui sosok Ayah di rumah. Kemana Ayah? Tak biasanya Ayah telat hingga seperti ini tanpa memberitahu terlebih dahulu. Pikiran penuh tanyaku segera dijawab Bunda.

"Lif, Ayah baru saja sms. Katanya hari ini sholat maghrib di jalan, gak keburu kalau menunggu sampai di rumah. Kamu sholat duluan ya, keburu maghribnya abis loh."

"Jadi Alif sholat sendiri, Bunda?"

"Maafin Bunda ya Lif. Hari ini lagi gak bisa sholat. Besok-besok Bunda temenin deh."

Aku berjalan gontai menuju musholla mungil di pojok rumah kami. Ini pertama kalinya aku sholat maghrib sendirian. Aneh rasanya, tanpa Ayah di petang hari ini. Apalagi sebentar lagi bulan Ramadhan tiba. Sedih rasanya jika membayangkan jika tiap maghrib rumah sepi tanpa Ayah. 

...


"Assalamu 'alaikum.." 

Suara Ayah memberi salam dari arah pintu depan. Adzan Isya baru saja berkumandang beberapa menit yang lalu. Kudengar Bunda membukakan pintu dan menjawab salam Ayah.

"Alif mana, Bunda?"

"Di kamarnya. Sejak setelah sholat maghrib tadi belum keluar. Mungkin ia sedikit kecewa maghrib ini gak bisa sholat bareng lagi. Ayah coba minta maaf sama Alif, mungkin dia mau mengerti."
Kudengar langkah Ayah menuju kamarku. Ya, sedari tadi aku tak berkeinginan keluar kamar. Jujur saja, aku merasa sedih bisa kehilangan waktu-waktu kebersamaan bersama Ayah secepat ini. Kudengar ketukan pintu beberapa kali di depan kamarku.

"Alif, maafin Ayah ya. Tadi gak sempat sholat maghrib bareng Alif. Kantor baru Ayah jaraknya lebih jauh. Ayah harap Alif bisa mengerti. Tapi Ayah janji deh, tiap weekend kita sholat bareng-bareng lagi," ucap Ayah memohon. Mendengarnya membuatku tak tega harus membiarkan Ayah minta maaf. 

"Gak apa-apa, Yah. Alif tahu Ayah sudah berusaha sebisa mungkin," ucapku walau tak tahan menyembunyikan kekecewaan.

"Nah gitu dong anak Ayah. Besok bisa dong sholat bareng Bunda? Biar Alif belajar jadi Imam nantinya."

"Iya sih. Tapi bulan depan kan sudah bulan puasa, Yah. Ayah gak bisa pulang lebih cepat biar bisa buka puasa bareng Alif sama Bunda?"

"Insya Allah, Lif. Doa'in Ayah aja ya. Mudah-mudahan kantor Ayah bisa pulang lebih cepat jadi bisa sampai rumah sebelum berbuka."

"Aamiiin. Mudah-mudahan ya, Ayah."

...

Hari pertama Ramadhan terasa luar biasa. Walau harus menahan lapar dan haus, aku tetap mampu bertahan hingga sore ini. Banyak hal yang telah kupelajari selama persiapan menyambut bulan puasa kali ini. Sekarang pun aku sudah terbiasa sholat berdua dengan Bunda, bahkan belajar jadi imam. Walaupun selama ini maghrib tanpa Ayah terasa sepi, aku bertekad untuk tetap belajar mengaji. Untungnya masih ada Bunda yang setia mengajariku dan membimbingku. Aku bersyukur masih punya Ayah dan Bunda yang selalu peduli dan berusaha menjadi yang terbaik untukku. 

Menjelang waktu berbuka puasa, tiba-tiba aku teringat janji Ayah tempo hari. Mudah-mudahan Ayah bisa pulang cepat hari ini. Aku rindu dengan suasana bulan Ramadhan tahun lalu dimana aku, Ayah dan Bunda biasa membuat makanan berbuka puasa bersama. Namun kini aku mungkin harus rela jika buka puasa tahun ini harus tanpa Ayah. 

"Lif, kok bengong terus sih? Yuk masuk ke dalam. Sudah mau adzan maghrib tuh."
Suara Bunda menyadarkanku dari lamunan. Dengan lemas, kulangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah. Namun tanpa sadar aku melihat sosok Ayah berdiri di depan pagar.

"Assalamu 'alaikum. Surprise!!"

"Ayaaaaaahh!!" Aku menghambur ke pelukan Ayah. Tanganku memeluk erat tubuh Ayah. Aku masih tak percaya Ayah bisa pulang maghrib ini. 

"Kok Ayah bisa pulang secepat ini sih?" tanya Bunda. 

"Alhamdulillah, kantor Ayah pulang lebih cepat bulan Ramadhan ini. Dan mulai sekarang, kita tetap puasa bersama. Seru kan?" 

"Alhamdulillah. Bilang sama bos Ayah ya terima kasih dari Alif karena bisa membiarkan Ayah pulang cepat hari ini. Mudah-mudahan bisa seperti ini terus ya Yah. "

"Aamiiin. Yaudah sekarang kita buka puasa bareng dulu yuk," ajak Bunda.



“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”

Adzan maghrib berkumandang jauh lebih merdu hari ini. Alhamdulillah, bulan Ramadhan kali ini membawa begitu banyak berkah. Kami semua dapat sholat maghrib bersama lagi.  Banyak pelajaran yang telah kuambil. Mudah-mudahan dapat menjadi pelajaran bagi yang lainnya juga. Terima kasih, Ramadhan!





_____________________________________
Andi Muhammad Nur Fauzan Hayyu
KPP Penanaman Modal Asing Tiga


Inspirasi 3705770662359812654

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan