Loading...

Lima Tips Ini Bisa Membuat Anak Cinta Masjid

"Jika suatu masa kelak kamu tidak lagi mendengar bunyi bising dan gelak ketawa anak anak riang diantara shaf-shaf solat di masjid ...


"Jika suatu masa kelak kamu tidak lagi mendengar bunyi bising dan gelak ketawa anak anak riang diantara shaf-shaf solat di masjid masjid, maka sesungguhnya takutlah kalian akan kejatuhan generasi muda kalian masa itu". 
Sultan Muhammad Al Fatih.


Sepulang dari kantor yang saat Ramadhan 1437 H ini memberikan “discount” waktu kerja pulang 1,5 jam lebih awal dari biasanya membuatku dapat menikmati sholat berjamaah di masjid dekat rumahku. Perjalanan yang cukup menyita waktu setiap hari membuatku jarang sekali berkesempatan sholat berjamaah dengan para tetanggaku.

Seperti biasanya, beberapa tetangga membawa serta anaknya yang masih berumur dibawah lima tahun (balita), bahkan ada yang masih dibawah tiga tahun (batita) untuk turut sholat berjamaah. Mereka berusaha untuk mengajarkan anak-anaknya menjadi anak yang cinta masjid, hingga tak jarang disetiap kesempatan mereka membawa anak-anaknya tersebut. Mereka seperti berusaha memenuhi pesan Sultan Muhammad Al Fatih diatas.

Beragam tingkah pola anak-anak tersebut pada saat berjamaah Isya yang bahkan dilanjutkan Tarawih. Tak jarang anak-anak tersebut bermain dengan riang bersama temannya diantara shaf. Ketika mereka sudah mulai mengantuk ada yang rewel dan menangis, bahkan ada pula yang tertidur. Tentunya kondisi ini dapat mengganggu kekhusyukan sholat berjamaah. 

Namun, rasanya tak bijak juga jika atas nama kekhusyukan ibadah kalangan dewasa, anak-anak dilarang masuk ke masjid, yang pada akhirnya dapat membuat anak-anak ada rasa takut, canggung, dan tidak nyaman pergi ke masjid.

Logika sederhana, bagaimana mungkin akan lahir generasi yang cinta masjid, jika sejak masa anak-anak saja mereka sudah dilarang ke masjid hingga mereka jarang ke masjid, karena anggapan yang salah kaprah. Sejak anak-anak mereka tidak mendapatkan “kenikmatan psikologis” ketika berada di masjid.

Mungkin, ini satu pekerjaan rumah seluruh keluarga muslim dan pengurus masjid, bagaimana menemukan strategi jitu yang bisa diterapkan agar masjid bisa menjadi tempat favorit anak-anak, remaja bahkan para pemudanya. Karena jika kondisi ini terus dibiarkan, maka akan semakin banyak generasi muda yang kian asing dengan masjid dan kian akrab dengan dunia yang tidak seharusnya. Mereka lebih memilih nongkrong di café atau mall atau tempat hiburan hingga larut malam, menghabiskan waktu senggang dengan bermain, dan yang lebih menyedihkan hampir tidak terpikir oleh mereka untuk merapat ke masjid.

Agar kondisi tersebut dapat dihindari berikut beberapa tips yang dapat dilakukan. Tips-tips ini berdasarkan informasi yang dikumpulkan dan pengalaman pribadi saja.
Pertama, anak-anak pertama kali dikenalkan (dibawa ke) masjid pada usia 2,5 tahun. Pada usia tersebut, ayahku, pamanku atau kakekku sering membawaku ke masjid. Anak-anak dibawa ke masjid saat waktu sholat yang “lengang” saja dulu seperti sholat Dhuhur dan Ashar. Biasanya waktu-waktu tersebut jarang sekali ada anak-anak sebaya lain yang ikut sholat. Tanamkan untuk tidak bermain saat sholat.

Kedua, setelah sukses tidak lari-lari, tenang, dan tidak mengganggu jamaah lain, barulah anak-anak dibawa ke waktu sholat yang cenderung lebih ramai yaitu sholat Maghrib dan Isya. Lakukan latihan ini terus menerus sambal terus ditanamkan agar selalu tenang saat sholat.
Ketiga, setelah berminggu-minggu dan berbulan-bulan sudah relatif lebih tenang dengan kondisi agak ramai tersebut, anak-anak diajak ke waktu sholat yang relatif agak panjang waktunya yaitu sholat Jumat. 

Kenapa harus jumatan dulu, tidak langsung tarawih saja? Alasan sederhananya, sholat Jumat dilaksanakan tiap pekan, sedangkan tarawih dilaksanakan tahunan. Lagipula, sholat Jumat yang membuatnya relatif agak lama bukan sholatnya, tapi khutbahnya. Meskipun tidak diperkenankan berbicara saat khotib sedang berkhutbah, orang tua/wali si anak dapat menahan dengan tangan agar anak yang dibawanya tidak berlari dan bermain. Lain halnya jika dibawa tarawih terlebih dahulu. Orang tua/wali cenderung akan terus sholat dengan khusuk, sehingga sang anak akan lebih sulit dikontrol.

Keempat, jika anak sudah mulai TK, mulai biasakan datang ke masjid lebih awal (sebelum adzan/masuk waktu sholat). Sang anak dibiasakan dengan atmosfer masjid sebelum waktu sholat tiba, jadi gak datang pas waktu sholat. Sambil menunggu adzan, orang tua/wali bisa mengisi dengan menjelaskan atau cerita macam-macam yang berhubungan dengan masjid atau sejarah Islam. Sebagai contoh orang tua bisa menjelaskan sejarah bagaimana adzan pertama kali dikumandangkan oleh Bilal bin Rabah, atau tentang sejarah apa pun yang dapat menambah wawasan keislaman sang anak, setelah itu baru sholat. Bukankah anak-anak suka sekali dengan cerita atau dongeng?

Jika dalam naskah, istilahnya ada prolog yang menyenangkan dan child-friendly. Apalagi jika saat pulangnya hujan, mereka akan bersama-sama menunggu reda atau menembusnya sambil main hujan.
Kelima, semakin usia sang anak semakin besar maka 'instalan sebelum adzan'-nya  semakin tambah kompleks dan berbeda. Misalnya, setelah SD, dikenalkan tahiyatul masjid dan shalat sunnah rawatib sebelum/sesudah sholat wajibnya. 

Orang tua dapat juga menjelaskan bahwa anak muda yang mengikat hatinya di masjid dijanjikan naungan Allah di akhirat kelak. Orang tua juga bisa menceritakan masa kecilnya tentang bagaimana ayah atau ibunya dulu berjuang mencintai masjid, dan keberhasilan orang-orang yang dulunya mencintai masjid.

Cinta masjid adalah proses yang panjang para pembaca sekalian. Hal itu tidak bisa dilakukan secara instan. 

Perlu diingat pula, tips-tips diatas bukan hanya untuk anak laki-laki saja, namun itu juga berlaku bagi anak perempuan. Meskipun kelak kodratnya di rumah, tapi suatu saat mempunyai anak laki-laki juga dan siapa tahu suaminya sedikit punya kesempatan membawa anak-anak ke masjid walau hanya sekedar sholat Isya. Seandainya ibunya dahulu tidak pernah dibawa ke masjid, bagaimana bisa berinisiatif untuk membawa anak laki-lakinya ke masjid.

Indonesia dikaruniai jumlah penduduk muslim terbesar. Suara adzan bersahutan. Masjid-masjid hampir disetiap kampung ada, jaraknya pun tak terlalu jauh dari rumah kita. Kesempatan membawa anak-anak ke masjid sangat terbuka. Seharusnya mengajarkan anak-anak kita cinta masjid, jauh lebih mudah daripada yang dilakukan oleh saudar-saudara muslim diluar negeri sana.

Jangan pula demi anak cinta masjid, usaha kita jadi ‘gangguan” orang lain beribadah dengan khusuk. Itulah mengapa kenapa tidak bisa anak kecil dibawa tarawih serta merta, minimal ada waktu setahun ke depan untuk melatih anak kita agar bisa tenang saat dibawa ke masjid, jika masih belum bisa jangan terlalu dipaksakan, karena apa yang dipaksakan itu biasanya tidak baik.

Ingat juga, biasanya hanya orang tua yang cinta masjid yang bisa menurunkan cinta itu kepada anak-anak mereka. Jadi, sebelum sibuk membuat anak cinta masjid, pastikan para orang tua dulu yang cinta masjid. Wallahu a’lam.


____________________________
Herry Prapto
Kanwil DJP Jawa Barat I




Ramadhan 2704218136503738272

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan