Loading...

Ramadan Terakhir

“Bu, ini infak saya buat ibu,” kataku kepada seorang tetangga miskin yang ditinggal mati suaminya lima tahun lalu.  “Ya Allah, banyak ama...

“Bu, ini infak saya buat ibu,” kataku kepada seorang tetangga miskin yang ditinggal mati suaminya lima tahun lalu. 

“Ya Allah, banyak amat Pak,” kata ibu beranak empat yang kesemuanya masih sekolah itu.

“Ini setengah gaji saya. Semoga bermanfaat buat ibu dan keluarga,” sambil mengucap salam sembari pamit. Di kejauhan, azan asar hari ke tujuh bulan Ramadan berkumandang. Ramadan terakhir buatku.
Aku ingin berkumpul dengan Rasulullah di Jannatul Firdaus. Teringat perkataannya, “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini,”  kemudian ia mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya, serta agak merenggangkan keduanya.

Mimpi yang sama selama tiga hari berturut-turut tentang seorang tua yang wajahnya teduh dan bercahaya serta mengatakan hal yang sama kepadaku membuatku termenung. “Ramadan ini adalah Ramadan terakhir buatmu,” katanya sambil tersenyum. 

Tergugah dengan kecemasan mengingat Ramadan yang sebentar lagi datang dan aku sama sekali tak punya persiapan apa-apa menyambutnya. Aku panggil istriku dan menceritakan mimpi itu. Dia menenangkanku dengan mengatakan kalau mimpi itu hanyalah kembang tidur belaka. Tapi tertegun dengan akhir kalimatnya, “Tapi kalaulah itu benar, susun saja amalan apa yang harus Ayah kejar. Tak ada salahnya bukan?”

Bakda magrib menjelang hari pertama Ramadan, aku kumpulkan anak dan istriku. “Ini Ramadan terakhir Ayah. Ayah ingin benar-benar memanfaatkan sebaik-baiknya bulan Ramadan ini. Ayah akan cuti besar dari perusahaan. Tolong semuanya dukung ayah. Ibu, coba cek kita  punya utang enggak. Kalau ada segera bayar. Aku tak mau mati dengan membawa utang. Ramadan sekarang ini ayo kita kejar keberkahannya sama-sama, raih keutamaannya. Ayah tak mau berpisah dengan kalian nanti di akhirat,” kataku kepada mereka.

“Randy, kamu datangi rumah orang-orang yang berhutang kepada Ayah dan bilang kepada mereka untuk tidak usah bayar utang mereka. Ayah ikhlaskan mereka. Hitung juga zakat yang harus kita bayar,” lanjutku.

“Imam, nanti setiap sore tolong antarkan makanan berbuka ke masjid dan ke pangkalan ojek di depan komplek kita,” kataku kepada anak keduaku ini.

Kepada  Anita anak bungsuku yang sudah kuliah semester dua itu aku memintanya untuk membersihkan kamar kosong yang menghadap taman belakang dan pemandangan terindah Gunung Salak dan terpenting untuk menyiapkan sajadah serta Alquran di sana. 

Khusus untuk istriku yang sudah menemaniku bertahun-tahun lamanya itu aku minta ia menyiapkan pakaian terbaik buatku setiap akan salat di masjid.  Aku berpesan kepadanya untuk membangunkanku setiap malam. Aku tak mau melewatkannya tanpa tahajud dan berdoa panjang dan lama. Doa-doa di bulan Ramadan adalah doa-doa yang mustajab. Memanjatkan segala harap kepada Rabb untuk diriku, keluarga, agama, dan negeri ini. 

Aku minta kepada adikku yang tinggal di Bandung untuk membawa ibu yang tinggal bersamanya ke Bogor. Biar Ramadan ini atau selamanya ia tinggal di rumahku. Aku ingin setiap malam, sepulang tarawih, mencium tangan dan membasuh kakinya. Meminta ridanya atasku.  Sungguh banyak sekali perjuangan hidupnya untukku. Untuk bapak yang sudah meninggalkan kami bertahun-tahun lampau, biar doa-doa ampunan terpanjatkan untuknya. 

Sejak malam dan hari pertama Ramadan itulah aku tak mau melewatkan sedetik pun untuk lalai dari mengingat Allah.  Istriku pun sampai heran, karena melihat kuantitas dan kualitas ibadah Ramadanku ini lain daripada Ramadan-Ramadan sebelumnya yang biasa-biasa saja itu. 

Setiap waktu salat, aku datang lebih awal ke masjid.  Aku sudah meminta izin kepada pengurus masjid untuk menggantikan tugas marbot saat azan. Aku ingin menjadi orang yang pertama membangunkan dan menggerakkan orang-orang untuk pergi ke masjid. Aku berada di barisan terdepan dalam salat. Tak melewatkan sedikit pun salat-salat sunah rawatib.
Sorenya aku sempatkan untuk bersilaturahmi kepada satu tetanggaku. Sekadar bersalaman dan meminta maaf atas segala salah. Sambil tak lupa membawa buah tangan. 

Sepertiga malam benar-benar aku manfaatkan untuk berkontemplasi dan meminta ampun kepada-Nya. Taubat atas segala salah di hari-hari yang lalu. Merugi benar aku kalau melewatkan Ramadan tanpa diampuni Allah. Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna. Ya Allah Engkau suka memberi ampun, maka ampunilah aku.

Aku juga banyak menangis. Dan ketika di suatu malam aku tak bisa menangis, aku menangis karena ketidakbisaan menangisnya itu. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan itu? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu melengahkannya? Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Dia. Ayat-ayat ini terngiang-ngiang di kepalaku.

Malam-malam pun tak luput dari tarawih mengingat tarawihku di tahun-tahun sebelumnya kebanyakan berada di mal atau rapat di kantor. Tilawah sudah barang  tentu jadi tak terlewatkan. Satu hurufnya bernilai sepuluh kebaikan. Apalagi di bulan suci ini akan dilipatgandakan lagi. 

Aku ingin sekali berumrah di bulan Ramadan karena kata ustad, umrah di bulan Ramadan setara haji pahalanya. Tapi sudah barang tentu, tak bisa serta merta daftar ke travel haji untuk bisa umrah seketika. Maka aku menggantinya dengan kegiatan salat subuh berjamaah di masjid, kemudian duduk berzikir sampai matahari terbit, dilanjutkan dengan salat dua rakaat. Sempurna sebagai pahala haji dan umrah. 

Aku juga tak melewatkan sepuluh hari terakhir untuk beriktikaf di masjid menjemput malam yang lebih baik daripada 1000 bulan. Pikirku, mana bisa aku beribadah selama 83 tahun empat bulan tanpa henti. Umurku pun entah bisa mencapai usia segitu atau tidak. Tapi Allah kasih kesempatan, memberikan malam istimewa setara itu kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Aku ingin menjadi salah satu dari mereka.

Aku menangis terisak-isak saat malam Lebaran, karena Ramadan telah usai. Sepertinya waktu berlalu begitu cepat. Dua puluh empat jam sehari tidaklah cukup untuk mengejar semua kebajikan. Syukurnya aku dilimpahkan kesehatan dan kekuatan sehingga aku bisa menjalani Ramadan terakhirku ini sepenuh waktu. 

** 

    Bagas masih termenung di depan laptopnya. Ia sedang berpikir keras mau di bawa ke mana cerita tentang tokoh Aku yang menjalani Ramadan terakhirnya itu. Sudah berhari-hari ia terpaku di paragraf terakhir. Padahal besok lusa adalah deadline cerita pendek buat majalah kampusnya. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu malam. Kantuk sudah mulai menderanya. 

    Bagas berdiri dari kursi dan melangkah ke kasurnya yang berada di lantai. Meluruskan badan dan memejamkan mata sejenak mungkin akan membantu menyingkirkan rasa pedas di matanya. Baru sebentar ia merebahkan tubuh, sebuah suara tiba-tiba menggema memenuhi kamar kosnya. Suara itu terasa nyata, tidak sekadar muncul dalam tulisannya. “Ramadan ini adalah Ramadan terakhirmu....”

Dan Bagas ingat, Ramadan yang biasa saja itu telah lewat tiga minggu lalu.


________________________________________________
Riza Almanfaluthi
Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat



 




Riza Almanfaluthi 3480154008008551286

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan