Loading...

Alumni Ramadhan: Mujahid Reformis Pajak Untuk Indonesia Makmur Sejahtera

Marhaban Yaa Ramadhan . Selamat datang tamu agung yang lama dirindukan. Sebelas bulan dinanti, merugilah yang menyia-nyiakan hadirnya kemba...

Marhaban Yaa Ramadhan. Selamat datang tamu agung yang lama dirindukan. Sebelas bulan dinanti, merugilah yang menyia-nyiakan hadirnya kembali. Ramadhan membawa tidak hanya pesan kedamaian, tapi juga menjadi sarana penyucian dan pembasuh jiwa nan dahaga, penenteram batin yang gelisah dan gundah gulana, pengingat bagi yang khilaf, salah, lalai atau lupa, pemulih vitalitas dan energi raga yang aus dan kerontang setelah hampir setahun tanpa henti digunakan untuk semata kesibukan dunia. Saatnya jenak beristirahat sembari mengingat kelak tempat kembali: Kampung Akhirat.

Ibarat balapan mobil, setelah sebelas lap berpacu di dalam lintasan, tiba saat masuk pit stop, memeriksa kondisi kendaraan, memperbaiki kerusakan, mengganti suku cadang, mesin atau roda, sebelum kembali lanjut berlaga. Kendaraan normal pun butuh periodik perawatan berkala, setiap 5000 kilometer atau sekali per semester, maintenance perlu untuk memastikan performa tetap optimal dan terjaga. Begitupun “mesin” organ tubuh kita. Tak hanya pompa jantung yang tak pernah henti dipacu - 60-80 kali per menit, atau 40 juta denyut dalam satu tahun, memompa 20 liter darah setiap 60 detik, setara 8000 liter per hari, mencapai 40 juta galon seumur hidup - kinerja lambung, paru-paru, ginjal, pankreas, hati, limfa, usus dan organ dalam lain tentu butuh istirahat atau direvitalisasi secara periodik. Jika jantung adalah motor sebuah kendaraan, bayangkan jika ia tidak berkesempatan untuk istirahat, tentu mesin akan panas hingga meledak dan rusak. Jika ada sarana yang dapat membuat kendur kinerja jantung agar tak over melulu di-forsir, itu adalah puasa. Dan puasa tiga puluh hari di bulan Ramadhan adalah sarana terbaik memulihkan kinerja jantung dan organ tubuh lain.

Kita butuh Ramadhan. Tak hanya agar jadi bugar tetapi juga sebagai sarana belajar. Ya, ibarat ulat sebelum menjadi kupu-kupu, ia harus rela masuk dulu ke dalam kepompong. Penelitian ilmiah membuktikan bahwa kondisi ulat dalam kepompong memang sungguhan puasa, yang setelah berlalu dalam gelap sekian masa, akhirnya mengubah ulat jadi kupu-kupu yang cantik rupa dan perangainya. Ibarat sebuah metode belajar, Ramadhan laksana diklat penyegaran. Kita mungkin merasa sudah pernah tahu atau telah belajar, misal tentang Pengelolaan Barang dan Jasa, tetapi setelah berlalu sekian waktu, boleh jadi kita lupa, maka baik ada diklat penyegaran. Meski pula rutin dipraktikkan dalam pekerjaan, diklat tetap dibutuhkan agar kita tidak jenuh oleh monoton dan marathon bekerja.

Begitu pula Ramadhan. Ia menyegarkan tidak hanya raga tapi juga menyucikan jiwa, membersihkan hati dan menjernihkan kembali akal pikir kita. Tak seperti dugaan puasa menjadikan lemah, justru saat berpuasa konsentrasi belajar bisa menjadi lebih fokus. Ia juga tak dapat menjadi alasan tubuh merasa lemas, sebab aktivitas tetap giat dapat dilakukan. Sejarah mencatat, pertempuran besar yang dimenangkan kaum Muslimin semasa hidup Rasulullah Muhammad SAW kerap terjadi di bulan Ramadhan, mulai dari perang Badar pada 2 Ramadhan 2 Hijriyyah, hingga Fathul Makkah, pembebasan kota Makkah dengan takbir damai, 10 Ramadhan 8 Hijriyyah, bertepatan 630 Masehi, dua tahun sebelum Nabi dan Rasul terakhir wafat.

Jadi tak ada alasan bermalas-malasan. Justru ghirah dikobarkan, semangat mesti kian digelorakan. Ramadhan adalah momentum fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan dengan ikhlas mengharapkan ridho Tuhan. Di bulan ini, Allah SWT mengganjar limpahan pahala berkali lipat. Satu jadi sepuluh, sepuluh jadi seratus, seratus jadi tujuh ratus hingga tak terhingga, seperti anugerah kemuliaan Lailatul Qadar yang jika jiwa yang suci mendapati insya Allah diganjar pahala setara beribadah tanpa putus seribu bulan! Yakni delapan puluh empat tahun masa hidup manusia! Rentang usia yang belum tentu kita sendiri akan sampai padanya. Maka, sungguh merugi mereka yang beribadah tapi luput mendapatkannya. Apalagi yang ibadah sudah merasa cukup dengan yang sekadarnya saja.

Laksana diklat, hendaknya Ramadhan tak hanya dijalani sehingga terlewat, semoga beroleh ilmu baru atau terbaharu yang bermanfaat mendatangkan maslahat, bukan hanya beroleh predikat atau sertifikat. Ibarat diklat pula, untuk melaluinya dibutuhkan tingkatan ujian. Puasa menguji tidak hanya untuk meningkatkan kesabaran, tapi juga daya tahan, supaya teruji mampu menahan diri dari hawa nafsu serta bertahan dari berbagai godaan.

Sebagai ajang menempa, Ramadhan adalah proses menggodok Jabang Tetuka dalam kawah bergolak Chandradimuka untuk menjadi ksatria tangguh pinilih dewata, Raden Gatotkaca! Begitu pula bulan yang dari akar kata Ramadh memang berarti membakar itu. Tak hanya lantaran Ramadhan adalah bulan terpanas yang menyapa belah jazirah Arab, tapi esensi Ramadhan membakar pula kerak-kerak dosa serta meluruhkan bercak-bercak noda, hingga jiwa yang terkotori menjadi bersih dan fitrah tersucikan kembali. Setelah sebelas bulan boleh jadi kita bergelimang dalam kubang nista lumur dosa, kesempatan kungkum dalam rebusan tungku Ramadhan jauh lebih baik daripada kelak tiada lagi kesempatan taubat dan jiwa celaka dilempar tanpa ampun ke dalam luapan amuk api abadi Jahannam neraka, na’udzubillahi min dzalik. Semoga setelah berlalu Ramadhan, kita laksana para alumni peserta diklat kembali berseri dalam pujian agung khidmat, beroleh tak hanya rahmat, tapi juga ampunan dan terjauh dari siksa api Neraka, lulus memuaskan serta paripurna, siap kembali terjun ke dunia untuk kali ini melakukan perbaikan, mengerjakan kebaikan, dengan sebenar niat dan untuk sebesar maslahat bagi umat.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”
(Q.S. Al Baqarah: 183)


Ukuran kelulusan diklat Ramadhan adalah beroleh predikat Muttaqiin, yakni orang yang bertakwa. Tentunya hanya Allah SWT yang berhak menganugerahkannya, tapi siapa yang ternilai pantas mendapatkannya sebenarnya dapat terukur dan teramati dari bagaimana perbaikan kualitas diri dan hidup setelah Ramadhan. Jika orang itu bertambah keimanan dan kecintaannya kepada Allah SWT, tampak dari peningkatan ibadahnya dan terpancar dari kemuliaan akhlak karimah-nya, maka amat boleh jadi kian dekat ia menjadi orang yang didekatkan kepada-Nya. Segala amal perbuatan dan pekerjaannya di dunia pun selalu berlandas niat ikhlas mengharapkan ridho-Nya, bernafas ibadah, bernilai pahala, sehingga tidak ada yang sia-sia, sebaliknya makin dahsyat dampaknya bagi kebaikan sesama dan alam semesta. Inilah, Insya Allah, wujud manusia terpujikan Rahmatan Lil ‘Aalamin.

Subhanallah, Walhamdulillah, Wa laa ilaaha illa Allah, Allahu Akbar!
Ramadhan adalah bulan perjuangan. Tak berjuang di dalamnya selain para mujahid yang telah mantap ber-azzam, bertekad teguh meraih keridhoan Allah SWT. Buah dari perjuangan para mujahid menjadikan lahir para mujadid atau pembaharu zaman. Mereka inilah yang dalam bahasa kekinian dinamakan Reformis.

Reformasi adalah keniscayaan. Perubahan tak dapat terhindarkan akan terus terjadi, seperti negeri ini mengalami pasang surut, peralihan Orde Lama ke Orde Baru, serta Orde Baru ke Reformasi, itulah tuntutan zaman. Bangsa Indonesia untuk kesekian kalinya terus diuji agar bertahan dari terpa goncangan hebat ombak nan bergolak di gelegak samudera, nahkoda diuji kepiawaiannya mengendalikan terombang-ambing bahtera. Setiap insan pasti akan diuji. Mereka yang adaptif dan responsif terhadap perubahan berpeluang lebih besar selamat hingga dapat lulus dari ujian.

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sebagai institusi pemerintah dengan tanggung jawab berat menjadi tumpuan penerimaan negara telah mengalami beberapa kali Reformasi, sebagai upaya beradaptasi terhadap hempas perubahan. Sejak tonggak peralihan cara pemungutan pajak dari Official Assessment menjadi Self Assessment pada tahun 1983, gelombang reformasi besar kedua terjadi pada tahun 2001 diawali Reformasi Sistem dan Modernisasi Administrasi Perpajakan dengan titik berat pada upaya penegakan hukum menuju kemandirian APBN. Tahun 2010 bergulir jilid dua dari Modernisasi Administrasi Perpajakan dengan berfokus kepada pembinaan wajib pajak, penegakan hukum, serta pengampunan pajak.

Kini gelombang baru menghempas lagi. Hampir dua dekade setelah itu, kebutuhan akan peremajaan sistem dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi yang uzur dan usang, seiring tuntutan pelayanan optimal dan prima, tak dapat tidak butuh disegerakan. Terlebih satu dekade terakhir DJP terseok-seok dalam mengejar target penerimaan perpajakan, yang melejit terus meroket, sementara pemerintah tengah gencar mengupayakan kemandirian ekonomi dan pemerataan pembangunan. Hal ini mensyaratkan sekali lagi diperlukan Reformasi yang bersifat menyeluruh, mencakup berbagai bidang. Ibarat tulang tua mulai keropos, maka sendi-sendi penopang tulang punggung institusi perlu dikokohkan kembali, demi mewujudkan cita-cita menjadikan DJP institusi berwibawa, kuat, kredibel, akuntabel, optimal dalam mengumpulkan penerimaan perpajakan, serta dipercaya oleh masyarakat.
Tim Reformasi Perpajakan telah dibentuk oleh Menteri Keuangan akhir tahun 2016, dan telah merumuskan pondasi serta pilar-pilar Reformasi yang meliputi antara lain Sumber Daya Manusia, Organisasi, Sistem dan Teknologi Informasi, Basis Data, Proses Bisnis serta Peraturan. Program Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) yang baru berakhir diakui signifikan berkontribusi terhadap penerimaan. Meski demikian, pekerjaan rumah belum berakhir, karena faktanya rasio pajak terhadap penerimaan masih rendah dan stagnan di kisar 11%. Tim telah menggariskan, sebagai pondasi ideal membangun kemandirian APBN, rasio pajak minimal harus menjadi 14% pada tahun 2019. Artinya, mesin kerja DJP tidak boleh kendur. Oleh karena yang menjadi organ vital dalam suatu organisasi adalah sumber daya manusianya, petugas pajak yang teruji dan tangguh niscaya dibutuhkan, dan untuk lebih meningkatkan performa, momentum diklat Ramadhan menjadi esensial untuk menyegarkan dan melahirkan mujahid-mujahid dan mujadid-mujadid pajak, yang siap gigih bekerja dan berjuang demi bangsa dan negara, sebagai bagian dari upaya meraih keridhoan Allah SWT.

Semoga dengan perkenan rahmat dan keridhoan-Nya, para mujahid reformis pajak alumni diklat Ramadhan senantiasa dimampukan mengemban amanah, dikuatkan, dimudahkan, dilindungi dan diberi pertolongan dalam mencapai target penerimaan serta meningkatkan tax ratio, demi memakmurkan negeri, menyejahterakan seluruh bangsa dengan adil dan merata, mewujudkan cita-cita para Founding Fathers kita:

Indonesia menjadi negara yang mandiri dan berdikari serta dicintai rakyatnya.
   
Amiiin Amiiin Amiiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin…



 ________________________________________
Dhimas Wisnu Mahendra
Pegawai pada Bagian Umum, Sekretariat Direktorat Jenderal Pajak dan Sekretaris untuk Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak.





Ramadhan 1122757625998535220

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan