Loading...

Al-Islamu Mahjuubun bil Muslimin

Beberapa waktu lalu saya baru selesai membaca sebuah novel. Didalamnya saya mendapati sebuah pelajaran yang menarik tentang kalimat yang di...

Beberapa waktu lalu saya baru selesai membaca sebuah novel. Didalamnya saya mendapati sebuah pelajaran yang menarik tentang kalimat yang ditulis dalam bahasa Arab “Al-Islamu mahjuubun bil muslimin,” yang artinya Islam tertutup oleh umat Islam.

Ketika menemukan kalimat ini, saya langsung berkaca pada keadaan umat Islam saat ini. Dikisahkan dalam novel tersebut, kalimat ini terucap dari mulut Syaikh Muhammad Abduh, seorang ulama terkenal Mesir yang menangisi kondisi umat Islam.

Syaikh Muhammad Abduh pernah berdakwah di Paris. Dalam dakwahnya beliau menerbitkan majalah dakwah ‘Al-Urwah Al-Wusqa’ untuk menyadarkan dan menggerakkan kaum muslimin di seluruh dunia. Berkat kegigihannya dalam menyebarkan ajaran Islam dan kepandaiannya menjelaskan keluhuran dan kemuliaan ajaran Islam, tidak sedikit penduduk Prancis yang memeluk Islam. Mereka takjub dengan keindahan dan keluhuran ajaran Islam.

Suatu hari, Syaikh Muhammad Abduh harus meninggalkan Paris dan kembali ke tanah kelahirannya untuk kembali mengajar di Universitas Al-Azhar Mesir. Sekian lama ditinggal sang guru, murid dan jamaahnya merasakan kerinduan untuk berjumpa.

Tersebutlah beberapa murid dan jamaah melakukan perjalanan panjang untuk menjumpai sang guru. Mereka juga berharap dapat menemukan saudara seiman dengan kualitas hidup yang indah dalam peradaban yang indah. Mereka membayangkan Mesir sebagai sebuah negeri dengan cara hidup sangat Islami yang indah. Hadist ‘Kebersihan sebagian dari iman’ membawa mereka membayangkan kebersihan Mesir yang sangat terjaga melebihi Paris. Ketiadaan orang miskin disebabkan orang islam membayar zakat juga terbayang dalam benak mereka. Keindahan ini muncul begitu saja dikarenakan penjelasan Syeikh Muhammad Abduh tentang kesempurnaan ajaran islam.

Saat kapal yang mereka tumpangi merapat di Pelabuhan Port Said, betapa kaget murid-murid ini menyaksikan pemandangan dihadapannya, semrawut. Penduduk Mesir tidak tertib, kata-kata mereka keras dan kasar, pengemis di mana-mana serta kebersihan yang tidak terjaga. Mereka mencoba menghibur diri, memaklumi keadaan sebuah kota pelabuhan. Merekapun meneruskan perjalanan ke Kairo. Setibanya di Kairo, mereka benar-benar kaget dan kecewa. Apa yang mereka harapkan tidak sesuai kenyataan.

Gambaran keindahan peradaban Islam seperti yang disampaikan Syaikh Muhammad Abduh, tidak mereka jumpai. Mereka sangat kecewa menyaksikan tidak jauh dari Masjid Al-Azhar, seorang pria berjubah buang air kecil sambil berdiri. Mereka mulai bertanya-tanya, ‘Mana adab Islami yang indah itu? Bukankan buang air kecil ada adabnya? Apakah mereka tidak tahu ilmunya? Bukankan mereka hidup dekat Al-Azhar?’

Mereka juga melihat banyak pengemis di area Madyan Husein. Dan kembali bertanya-tanya, ‘Bukankan Rasulullah tidak menyukai umatnya jadi peminta-minta? Apakah mereka tidak malu kepada Rasulullah? Apakah orang kaya tidak membayar zakat?’ Ribuan pertanyaan memenuhi kepala mereka. Mereka terpukul dan kecewa. Mereka sedih disebabkan lezatnya iman yang mereka rasakan selama ini, dibenturkan dengan kenyataan umat Islam jauh dari bayangan keluhuran ajaran Islam yang mereka imani.

Hingga murid-murid ini berhasil menemui sang guru, mereka mengungkapkan kekecewaannya. Mereka berharap mendapatkan contoh Islam yang hidup di Mesir, namun kenyataan sebaliknya mereka hampir tidak menemukan Islam dipraktikkan dengan benar.
‘Mana Islam yang indah, Islam yang luhur seperti yang Syaikh ajarkan kepada kami saat di Paris? Kenapa Paris yang tidak mengenal ajaran Islam jauh lebih bersih dan lebih teratur daripada Kairo? Apa yang terjadi Syaikh?,’ tanya murid kepada gurunya.

Syaikh Muhammad Abduh hanya terdiam. Ulama besar itu tidak dapat menjawab pertanyaan yang bernada protes dari murid-muridnya. Kedua matanya basah, sambil menahan isak tangis keluarkah kalimat yang terkenal hingga kini “Al-Islamu mahjuubun bil muslimin”
Yang artinya Islam tertutup oleh umat Islam. Cahaya keindahan Islam tertutupi oleh perilaku para pemeluknya. Perilaku-perilaku yang tidak mencerminkan ajaran Islam sama sekali. Tidak juga bagian dari ajaran Islam.

Kisah Syaikh Muhammad Abduh dan murid-muridnya ini masih terus terjadi hingga sekarang. Dan kalimat yang terucap dari bibirnya, juga masih sangat relevan dengan keadaan saat ini.
Dari gambaran cerita diatas, kita mendapati bahwa ada kesenjangan serius antara ajaran Islam yang luhur dan sempurna, dengan perilaku umat Islam yang jauh dari nilai-nilai Islam. 
Ironi ini tidak hanya terjadi di Mesir, tetapi di hampir semua negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Contoh nyatanya adalah negeri kita sendiri, Indonesia, negeri dengan mayoritas penduduk beragama Islam, 85% penduduk mengaku muslim dengan KTP Islam.

Tapi lihatlah kenyataannya, tidak jauh berbeda dengan gambaran negeri Mesir dalam kisah Syeikh Muhammad Abduh di atas. Hadist ‘Ath thahuru syatrul iman,’ kebersihan sebagian dari iman pada kenyataannya, praktiknya sangat jauh dari apa yang diajarkan.
Lihatlah sekeliling kita. Lingkungan tempat tinggal kita apakah sudah bersih? Dapatkan dikatakan telah mencerminkan keadaan iman kita? Adakah kita telah menjaga kebersihan pakaian kita, tempat ibadah kita saat menemui Sang Pencipta?


Pengemis dimana-mana. Di tempat makan, di lampu merah tidak jarang kita menjumpai wanita-wanita dengan penutup kepala menengadahkan tangannya, meminta rasa iba. Tidakkah umat Islam di negeri ini membayar zakat?
Karena dari mulut mereka setiap saat mengaku umat Islam, maka wajar saja banyak orang menganggap seperti itulah ajaran Islam. Akibatnya jika perilaku sebagian umat Islam yang salah yang dijadikan acuan, maka akan timbul sikap anti-Islam.

Semoga kita tidak termasuk dalam golongan umat Islam dalam kalimat yang pernah diucapkan Syeikh Muhammad Abduh, umat Islam yang menutupi Islam. Marilah kita berjuang semampu yang kita bisa dan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi umat Islam yang memancarkan keluhuran ajaran Islam.

Jika diri kita tidak bisa menjadi orang yang menebarkan keindahan ajaran Islam, minimal kita harus berusaha dan berdoa agar tidak menjadi orang yang menghalangi tersebarnya keindahan ajaran Islam dibumi ini. 




_________________________

Nur Farida
KPP Pratama Jakarta Kalideres





Nur Farida 4089813499315182384

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan