Loading...

Bertemu Ummi Hurairah

Hari hampir senja, namun masih menyisakan sedikit waktu sholat ashar saat saya tiba di terminal Purabaya - orang lokal lebih mahfum dengan ...

Hari hampir senja, namun masih menyisakan sedikit waktu sholat ashar saat saya tiba di terminal Purabaya - orang lokal lebih mahfum dengan sebutan Bungurasih - dalam rangka sejenak pulang ke kampung halaman, melepas kerinduan akan hangatnya pelukan ibu yang sudah berbulan-bulan lamanya tak saya rasakan. Alasannya klasik, selama ini saya terlalu larut dalam kesibukan. Sedangkan di akhir pekan, giliran keegoisan yang saya puaskan. 

Meskipun perut cukup lapar saat itu, ditambah fatamorgana di mana pemandangan mbak-mbak pelayan warung makan yang menjual menu makanan khas Jawa Timur favorit saya seolah melambai-lambai menggoda menawarkan nasi rawon lezat ke arah saya, namun dengan langkah teguh (dan menahan rasa lapar, tentu saja) saya memilih menuju masjid untuk menunaikan sholat ashar terlebih dahulu. Meskipun saya tahu, resiko akan bayangan sepiring nasi rawon berlauk daging dengan taburan toge di atasnya, sambal terasi dan renyahnya kerupuk bakal terngiang-ngiang di kepala saat saya sedang (mencoba) khusyuk-khusyuknya sholat. Tidak apa.

Ketika saya tiba di masjid yang terletak di dekat pintu masuk kedatangan bus itu, tidak ada hal yang tampak istimewa atau apa. Semua masih tampak relatif sama, dan sepenjang ingatan (payah) saya, tidak ada yang berubah dari saat terakhir kali saya singgah ke masjid ini beberapa bulan sebelumnya. Lain hal saat saya sempat dibuat terpesona akan tampilan mutakhir bagian dalam terminal Purabaya yang sekarang menjadi begitu menawan. Setidaknya untuk ukuran sebuah terminal bus di Indonesia. Pemandangan umum yang saya dapati sore itu hanyalah beberapa musafir yang tampak mengambil air wudhu dan bersiap sholat ashar seperti saya, mas-mas penjaga toilet yang duduk terpekur dengan muka malas di depan kotak amal berwana kusam yang dimakan usia, dan beberapa santri yang tidur-tiduran di selasar masjid – yang salah satunya sembari asyik memutar lagu Surat Cinta Untuk Starla-nya Virgou dari handphone-nya. Sungguh, ingin rasanya saya berdendang mendengarnya, tapi buru-buru niat itu saya urungkan. Demi kemaslahatan bersama.

Seperti yang saya bilang, semua tampak biasa dan tidak ada yang istimewa. Kecuali satu, sesosok perempuan tua di sudut halaman masjid yang terlihat sibuk dengan bungkusan – entah apa – dan beberapa ekor kucing yang duduk manis mengelilinginya.

Dilanda penasaran, saya pun berlalu menghampirinya. Dan ketika saya mencoba menyapanya, ada nada galak di suara paraunya. Sempat mengira saya salah ucap atau bagaimana, sebelum saya cepat tersadar, memang begitulah nada bicara kebanyakan orang Surabaya. Keras dan ceplas-ceplos. Lihat saja ibu Risma sang walikota itu.

Perlahan , obrolan kami pun mulai mencair. Sembari mencampur nasi hangat yang terlihat masih mengepul dengan lauk ikan yang baru saja dibelinya seharga sepuluh ribu rupiah, cerita mengalir dari mulutnya.

Sudah sejak sepuluh tahun lalu beliau tinggal di masjid ini. Ketika saya bertanya, apakah beliau menghidupi diri dengan berjualan makanan seperti ibu-ibu lain yang memiliki lapak di dekat situ atau bagaimana, beliau menggeleng. Beliau tidak punya lapak, dan beliau tidak berjualan. Sempat beliau menawarkan diri menjadi pembantu rumah tangga ke para tetangga, namun berakhir sia-sia. Tidak ada yang sudi menerimanya karena beliau dianggap terlalu tua dan tidak punya cukup tenaga.
Akhirnya, beliau memilih mengabdikan diri untuk menjaga dan merawat masjid ini, sekaligus menjadi ibu bagi kucing-kucing yang hidup di sekitar masjid.

Setiap hari, beliau merelakan dua puluh ribu rupiah keluar dari kantongnya untuk membeli nasi bungkus berlauk ikan, pagi dan sore, demi kucing-kucing yang ia cinta. Bagi sebagian dari kita – yang sekali nongkrong bisa saja habis berjuta-juta - uang dua puluh ribu rupiah mungkin tak seberapa. Namun bagi beliau, yang tak jarang mengalah menahan lapar asalkan kucing-kucing ini bisa tetap makan, tentu saja berbeda. Namun begitu, toh tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya. Lembar rupiah hanyalah angka, dan lapar hanyalah rasa. Kecintaan dan kasih beliau yang begitu besar terbukti mengalahkan itu semua.

Masih dari kisahnya. Pernah suatu ketika – entah karena alasan risih, bahaya rabies atau apa – petugas terminal mencoba merelokasi paksa kucing-kucing malang yang hidup di terminal. Kasus yang jamak terjadi sebenarnya, tapi tetap saja , mendengar kalimat ‘kucing-kucing dimasukkan paksa ke dalam karung’ rasanya begitu ngilu. Maksud saya, bagaimana orang sampai bisa setega itu, memasukkan kucing-kucing secara paksa ke dalam karung, yang jangankan untuk bergerak, bernapas pun pasti susah! Orang lain mungkin tak ambil peduli. Kecuali beliau tentu saja, yang dengan gagah berani pasang badan menghadapi para petugas itu. Meskipun, demi kebebasan kucing-kucing itu beliau harus rela merogoh kocek lebih dalam lagi sebagai uang tebusan.

Mendengar segala ceritanya, tidak saja membuat saya hampir menitikan air mata. Lebih dari itu, saya merasa hina. Merasa hina melihat bagaimana beliau dengan segala keterbatasannya, mencintai, mengasihi sekaligus berjuang seorang diri menghidupi kucing-kucing yang hidup di sekitar masjid ini. Sementara saya, dan mungkin sebagian dari kita, sudah pongah merasa beriman dengan sholat dan segala amalan. Namun ketika dihadapkan pada mereka yang hidup berkeliaran di jalanan, yang bisa saja kelaparan, bahkan tak jarang ternistakan, kita acuh dan peduli setan. Padahal mereka sama-sama seperti kita, makhluk ciptaan Tuhan. 

Terimakasih Nek, terima kasih atas pelajaran yang kau tunjukkan hari ini.  
     



_______________________________________

Samsul Hudha
KPP Pratama Subang




Samsul Hudha 5632011979464612614

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan