Loading...

Kopiah Ali

BRUAK! Tumbukan keras bergaung di simpang empat salah satu lalu lintas teramai di Jakarta. Seketika macet dan riuh mengerubungi seo...

BRUAK!

Tumbukan keras bergaung di simpang empat salah satu lalu lintas teramai di Jakarta. Seketika macet dan riuh mengerubungi seorang pemuda yang terlempar beberapa meter dari Suprafit model lama yang kini bodinya remuk, tak seberapa jauh dari pemuda itu tampak Honda Mobilio silver yang bempernya sedikit peyot melintang membuat macet jalanan pada jam sibuk pagi itu, di kursi pengemudi terlihat seorang pria paruh abad yang tampak shock dengan kejadian yang sedetik lalu menimpanya, tanganya kaku menggenggam erat kemudi.
Beberapa orang sigap mengangkat tubuh pemuda berjaket hijau hitam khas ojek online, disekelilingnya tampak manusia-manusia sosialita yang tengah asik merekam kejadian – baik sangkanya, mereka mungkin mengumpulkan bukti jika nantinya polisi membutuhkan rekaman tersebut untuk menulis laporan.

30 menit berlalu sejak mobil bersirine menepi pada sebuah rumah sakit yang tampak sesak ruang UGD-nya sebab dipenuhi pria-pria berjaket hijau hitam tengah menunggui rekan mereka yang baru saja siuman.

“Mas, saya pulang aja ya mas, saya nggak apa-apa, saya nggak ngerasa pusing, badan saya juga biasa-biasa aja kok.”

Dengan suara bergetar dan wajah yang pucat pasi pemuda itu memohon kepada rekannya untuk dipulangkan saja ketimbang harus berlama-lama di rumah sakit sebesar itu. Sesekali Pemuda itu mencoba bangkit namun tubuhnya justru terhempas ke kasur. Tentu rekannya menolak, tak seharusnya ia meninggalkan rumah sakit dalam keadaan yang bahkan untuk sekadar berdiri saja susah. “Udah kamu istirahat dulu, kalau pulang mah gampang, tapi kamu sekarang istirahat dulu,” ucap rekannya cukup tenang.

“Ali gimana mas?”

“Ali belum tau, biarin dulu, biar dia nggak panik, toh juga biasanya dijemput sore-sorean, kan? nanti biar saya yang jemput.”

“Biaya rumah sakit?”

“Nggak usah khawatir, Alhamdulillah orang yang nabrak kamu mau tanggungjawab, semua biaya rumah sakit dia yang tanggung, tadi keluarganya ada yang kesini tapi kamu belum siuman, lalu dia pergi.”

Raut yang tadinya khawatir mulai terlihat tenang, para pria berjaket hijau hitampun bergantian masuk dan pergi untuk memastikan keadaan rekan sepekerjaannya itu – walau mereka tampak belum saling mengenal dekat namun rasa solidaritaslah yang menjadi alasan mereka disana.
Desa Botolinggo, Bondowoso, 7 Bulan Lalu
Alunan dzikir membahanan berterbangan di udara sebuah rumah geribik yang penghuninya kini tinggal satu orang – Ia tengah meringkuk memeluk lututunya disebelah dipan satu-satunya. Kopiah hitam yang sudah memerah bagian pinggiran bawahnya itu dengan segera ia kenakan setelah tangan seorang pemuda berusia sekitar 26 tahun menggenggam erat bahunya, mengisyaratkan bahwa sang Ibu hendak segera dikebumikan. Tangisnya pecah, untuk bocah 12 tahun menjadi sebatang kara bukanlah hal yang mudah. Memang, hidupnya tak pernah berada pada tangga kesejahteraan namun setidaknya ia masih memiliki ruh kebahagiaan yang diberikan oleh Ibunya dan semua itu kini tak ia punya sebab sang Ibu telah tiada. Sudah beberapa minggu terakhir sang Ibu menunjukkan gejala yang tidak baik, sakit yang dideritanya bertambah parah hingga pada akhirnya sang Ibu meregang nyawa.

Hari itu terasa begitu lama, waktu seperti sengaja mengawetkan kesedihan bocah yang kini tak punya siapa-siapa, Ayahnya adalah sosok yang tak pernah ia temui sebab ibunya adalah korban pemerkosaan di negeri orang 13 tahun silam. Walau berada dilingkungan yang sederhana, Ali – nama bocah itu adalah anak yang cukup berprestasi di Sekolah Dasar yang baru saja ia tamatkan, beberapa kali ia mengikuti perlombaan menulis puisi dan cerpen tingkat Kabupaten Bondowoso. Sebenarnya mudah saja untuknya mendapat kursi di SMP Negeri terbaik disana, namun dengan kondisi yang seperti ini, merantau adalah keputusan terbaik yang harus ia jalani, terlebih ada seorang pemuda yang cukup peduli dan mengajaknya untuk mencari penghidupan yang lebih layak di Ibukota.

Takdir.
Walau senja begitu indah dipandang, namun takdirnya hanya sebagai pengantar siang kepada petang, kemudian menghilang.
Walau pelangi mampu memancarkan pesona, namun takdirnya hanya sebagai pelipur tatkala langit menurunkan hujan, kemudian menghilang.

Ibukota, Kontrakan 4x5 m2 dan Ali
Hari ini adalah seminggu setelah kecelakaan di simpang empat, seorang pemuda – Mas Gilig namanya masih terbaring di tempat tidur namun sudah jauh lebih baik ketimbang saat pertama kali ia pulang dari rumah sakit. Beruntung lukanya tak begitu parah sehingga ia tak perlu berlama lama menginap di rumah sakit sebab hal tersebut membuatnya berhutang terlalu banyak pada rekan-rekan sepekerjaannya, walau rekannya tak pernah pamrih.

Terdengar pintu berderit pelan, menandakan bahwa satu lagi penghuni rumah telah menjejakkan kakinya.

“Muleh karo sopo li? (pulang sama siapa li?)” suara berat Mas Gilig menyambut kedatangan Ali.

“Melaku, mas (jalan, mas),” jawabnya singkat.

“Loh kan lumayan adoh (kan lumayan jauh).”

“Ora kok mas (nggak kok mas), sekalian jalan-jalan sore,” Ali menanggalkan kopiah dan menggantungnya di belakang pintu. Sudut mulutnya selalu tampak tersenyum, dengan keikhlasan hati ia merawat Mas Gilig. Selain dari penghasilan menyemir sepatu, seminggu ini Ali beruntung karena beberapa rekan kerja Mas Gilig masih sering ke kontrakan untuk sekadar membawakan makanan atau menyumbangkan uang seadanya. Namun uang itu harus pandai-pandai mereka kelola sebab juga untuk memperbaiki motor pinjaman yang remuk akibat musibah minggu lalu.

Setiap pagi, selepas subuh, biasanya Ali diantar oleh Mas Gilig ke depan perkantoran sembari Mas Gilig berangkat ngojek. Namun semenjak Mas Gilig cidera, Ali harus menempuh perjalanan tujuh kilo meter itu dengan berjalan kaki sendirian, tak pernah ia berputus asa, untuk seusianya ia termasuk salah satu dari banyaknya bocah tangguh yang pantang menyerah. Dengan bermodal sekotak kayu berisi semir, sikat, kain kecil dan ransel usang dipunggungnya ia menyeruak keluar dari gang perkampungan menyusuri trotoar menjual jasanya yang tak seberapa.

Belum sampai di tempat biasa ia mangkal, langkahnya terhenti, matanya menyoroti orang-orang berpakaian hitam putih berseliweran disekitarnya, sangat rapi, lengkap dengan dasi hitam dan pantofel yang menjadi target pekerjaan Ali.

“Dek, semir?” Ada suara dewasa berceletuk pelan.

“Iya kak,” diikutii anggukan semangat Ali.

Beberapa detik kemudian pantofel sudah dipangkuan Ali, dengan sigap ia menunjukkan keahliannya itu.

“Kamu masih sekolah?” tanya seorang pemuda pemilik pantofel.

“Udah nggak kak, saya sampai SD saja di kampung, terus merantau.”

“Disini sama orang tua juga?”

Ali menggeleng “sama saudara kak,” lanjutnya.

Sebenarnya Mas Gilig bukan saudara atau kerabat keluarga Ali, ia hanya tetangga yang kebetulan peduli dan kasihan terhadap nasib bocah sebatang kara itu.

“Kak udah selesai.”

“Berapa dek?”

“Sepuluh ribu, kak.”

Pemuda pemilik pantofel mengeluarkan dompet dan memberikan selembar uang warna hijau bergambar Otto Iskandardinata.

“Kembaliannya ambil aja, dek.”

“Nggak usah kak, nggak usah.”

Pemuda itu memaksa Ali hingga membuat Ali tak bisa menolak pemberiannya, lagipula ia adalah pelanggan pertama Ali yang dengan demikian Ali belum memiliki uang lainnya untuk sekadar menjadikannya kembalian. Hanya ada dua lembar pecahan dua ribu rubiah saja dikantong trainingnya.

“Kak-kak-kak, ini saya ada sesuatu,” suara Ali menghentikan langkah pemuda yang hendak masuk ke lingkungan sebuah gedung.

Ali menanggalkan kopiahnya, diambilnya selipat kertas yang terselip di kopiah miliknya dan segera memberikannya pada pemuda berkacamata yang tersenyum tipis.

Esok hari, di tempat yang sama – depan Gedung Pusdiklat Pajak
Ali tampak menunggui seseorang, pandangannya tak lepas dari orang-orang berpakaian hitam putih disana.

“Dek, semir lagi.”

Ali menemukan orang yang ia tunggu – pemuda pemilik pantofel yang kemarin berbaik hati padanya. Niatnya, hari ini Ali akan memberikan semiran gratis pada pemuda itu.

“Namamu siapa, dek?”

“Ali!” jawabnya singkat sembari tangannya masih asik menggosok-gosok pantofel dengan kain putih yang sudah tampak menghitam.

“Puisi kamu bagus, kamu emang suka nulis ya?”

“Kadang-kadang kak, untuk hiburan di rumah hehe,” jawab Ali diikuti suara renyah tawa kecilnya.
Perbincangan 10 menit berakhir dengan jepretan foto oleh pemuda yang Ali kenal bernama Hendri. Sejak saat itu beberapa rekan Hendri pun turut menggunakan jasa Ali untuk menyemir sepatu mereka.

Sabtu, Hendri dan Ayah
Di ruang tamu, Hendri dan Ayahnya duduk berbincang hangat untuk sekadar bertukar pikiran tentang segala hal terutama mengenai progress karir Hendri yang baru saja menamatkan pendidikan diplomanya di sekolah kedinasan oktober 2016 lalu. Hendri adalah anak bungsu dari seorang single parent yang bekerja sebagai manager di sebuah surat kabar lokal. Hobinya adalah fotografi dan foto-foto bertajuk kemanusiaan adalah favoritenya, memang layak Hendri menjadi salah satu pengisi rubrik mingguan di koran tempat Ayahnya bekerja sebab artikel dan fotonya sangat digemari pembaca. Minggu ini, Hendri tahu betul foto mana yang akan dimuatnya di koran, terlebih setelah respon positif yang diberikan Ayahnya tentang foto dan artikel yang ia tulis: Kopiah Ali, terlampir pula beberapa bait puisi indah karya bocah malang tersebut. Niatnya, Hendri akan segera mencari keberadaan Ali setelah koran tersebut terbit untuk memberikan seluruh royalty yang ia peroleh atas artikelnya.

“Oiya yah, Ayah udah ketemu sama laki-laki yang tak sengaja Ayah tabrak dua minggu lalu?”

“Belum nak, tapi Ayah sudah dapat informasi, namanya Gilig, rencananya besok Ayah mau ke alamat kontrakannya,” jawab Ayah Hendri untuk kemudian pikirannya kembali merefleksikan kejadian di simpang empat dua minggu lalu.

Selesai



______________________________

Bedi Abdul Rahman
KPP Pratama Palopo




Kisah 4604224196022727025

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan