Loading...

Meluruskan Persepsi Terhadap Rejeki

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Membentuk akhlak mulia pada hakikatnya tidak lepas dari membentuk pola pikir mulia karena pola pikir kita ak...

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Membentuk akhlak mulia pada hakikatnya tidak lepas dari membentuk pola pikir mulia karena pola pikir kita akan menentukan sikap kita dalam menjalani hidup kita. Pola pikir kita berperan besar dalam keputusan-keputusan yang kita ambil dalam hidup kita. Bila pola pikir kita “tidak mulia”, seharusnya tidak mungkin kita memiliki akhlak mulia. Bila hal tersebut terjadi, yaitu bila pola pikir tidak mulia ternyata dapat menjadikan kita berakhlak mulia, mungkin kita sedang terjerumus ke dalam kemunafikan.

Salah satu pola pikir yang perlu diperhatikan adalah pola pikir dalam urusan rejeki. Bila kita berpikir bahwa rejeki dapat diperoleh dengan segala cara, sangat mungkin kita akan terjerumus ke dalam cara-cara memperoleh rejeki yang tidak diridhai Allah SWT seperti mencuri, menipu, korupsi, atau “sekadar” mengikuti cara-cara ribawi. Ada kemungkinan kita pun rentan terhadap cara-cara yang seolah-olah tidak bermasalah, tapi pada dasarnya merupakan skenario yang kita atur (baca: paksa) agar rejeki itu menjadi milik kita, misalnya dalam bentuk honorarium atau pengganti biaya perjalanan dinas. Terjerumusnya kita ke dalam cara-cara tersebut bermula dari pola pikir kita. Seandainya kita melihat rejeki dengan pola pikir mulia atau dengan persepsi yang lurus, cara-cara tersebut dapat kita hindari.

Ada 3 hal yang perlu kita ingat untuk meluruskan persepsi kita terhadap rejeki yang kita peroleh. Saya sengaja menggunakan kata “ingat” karena sebenarnya kita semua mengetahui ketiga hal tersebut, tapi seringkali lupa menerapkannya dalam hidup kita, khususnya saat mengambil keputusan. Ketiga hal tersebut adalah:
1. Rejeki bukan hanya soal pemasukan.
2. Rejeki bukan hanya berbentuk uang.
3. Rejeki bukan hanya yang kita usahakan.

Seperti yang kita ketahui bersama, rejeki bukan hanya soal pemasukan. Saat bicara rejeki, kita juga bicara soal pengeluaran. Seperti saldo dalam rekening kita, rejeki pun dihitung dari berapa yang kita dapatkan dikurangi dengan berapa yang kita keluarkan. Seandainya kita mendapat honorarium sejumlah Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah) dan pengganti biaya perjalanan dinas sebesar Rp. 2.000.000 (dua juta rupiah), tapi tidak lama kemudian layar smartphone kita rusak akibat benturan fatal dan membutuhkan biaya Rp. 3.000.000 untuk perbaikannya, berapa rejeki kita? Apakah Rp 3.000.000 yang kita peroleh itu menjadi rejeki kita atau justru menjadi rejeki pemilik toko tempat memperbaiki smartphone kita? Seandainya kita mendapat Rp. 20.000.000 (dua puluh juta rupiah) lewat mark up anggaran, tapi tidak lama kemudian salah satu keluarga inti kita jatuh sakit dan membutuhkan biaya Rp. 20.000.000 (dua puluh juta rupiah), coba kita hitung, berapa rejeki kita? Siapa pemilik rejeki Rp. 20.000.000 yang kita dapatkan lewat “usaha” kita?

Kita pun sama-sama tahu bahwa rejeki bukan hanya berbentuk uang. Rejeki datang ke dalam hidup kita dalam bentuk kesehatan, keamanan, kenyamanan, atau bentuk-bentuk lainnya. Misalnya dalam contoh di atas, kalaupun kita tidak menerima uang Rp. 3.000.000 (tiga juta rupiah), tapi tidak ada masalah dengan smartphone kita, bukankah kita lebih beruntung? Bukankah kita mendapatkan lebih banyak rejeki dengan terhindar dari repotnya bolak-balik ke toko tertentu untuk memperbaiki smartphone kita? Hidup kita lebih nyaman dengan smartphone yang tidak rusak, bukan? Kalaupun uang Rp. 20.000.000 tidak menjadi milik kita, tapi keluarga inti kita sehat-sehat saja, bukankah kita lebih beruntung? Rejeki yang kita peroleh dengan tidak sakitnya siapa pun di dalam keluarga inti kita tentu lebih berharga dari uang Rp. 20.000.000. Hidup kita sudah pasti lebih lebih nyaman saat istri dan anak-anak kita tidak ada yang sakit, bukan?

Last but not least, kita pun sama-sama tahu bahwa rejeki, seperti halnya segala hal di masa depan, bukan hanya yang kita usahakan. Rejeki yang sudah dan akan kita peroleh nantinya merupakan wujud dari ketentuan Allah SWT, bukan hanya usaha kita. Kita memang diberikan keleluasaan untuk memaksimalkan hidup kita, tapi usaha-usaha kita hanya akan terwujud bila selaras dengan ketentuan Allah SWT. Apakah ada orang yang menginginkan smartphone miliknya terbentur dan rusak? Mungkinkah ada orang yang ingin salah satu anggota keluarga intinya sakit? Mungkin saja usaha untuk mendapatkan honorarium dan biaya pengganti perjalanan dinas itu tidak diridhai Allah SWT. Apalagi dalam hal mark up, Allah SWT sudah pasti tidak meridhai usaha tersebut. Pada akhirnya usaha-usaha untuk mendapatkan rejeki tersebut kandas di hadapan ketentuan Allah. Tambahan rejeki yang berhasil diperoleh seolah-olah menemukan jalannya sendiri untuk pergi meninggalkan kita. Kepergian mereka pun seringkali tidak sendiri karena mereka ikut membawa pergi kenyamanan-kenyamanan yang sebelumnya kita miliki. Dalam kondisi tersebut, apa yang bisa kita lakukan selain merelakan kepergian mereka?

Contoh-contoh di atas memang mengerucut kepada kondisi para pegawai, khususnya pegawai negeri sipil. Akan tetapi, rasanya mudah sekali untuk memperluas konteks paparan di atas ke profesi lain atau ke konteks yang lebih luas lagi. Apa pun konteksnya, rejeki yang kita peroleh akan memenuhi ketiga hal yang disebutkan di atas. Allah SWT memiliki kekuasaan penuh untuk memberi apa pun yang menjadi hak kita dan mengambil kembali apa pun yang bukan hak kita. Kadang diambil kembali dalam bentuk harta, kadang diambil kembali dalam bentuk selain harta. Kadang diambil kembali dalam waktu dekat, kadang diambil kembali dengan ditangguhkan terlebih dahulu. Kadang diambil dari hidup kita, kadang diambil dari hidup orang-orang di sekitar kita yang kita sayangi. Hal yang menarik dari semua itu adalah kita tidak akan pernah tahu. Kita bisa saja menduga, memperkirakan, atau menyiapkan alternatif, tapi kita tidak akan pernah tahu kapan dan seberapa banyak Allah SWT akan ambil kembali rejeki yang kita peroleh. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita berhati-hati, bukan sebaliknya membiarkan diri kita terjebak dalam cara hidup yang tidak diridhai Allah SWT.

Hal yang lebih penting lagi untuk dipikirkan adalah bagaimana dengan akhlak kita? Akibat dari kelalaian kita untuk membentuk pola pikir mulia terhadap rejeki, kita sudah terjerumus pada cara-cara memperoleh rejeki yang tidak dapat kita banggakan di hadapan Allah SWT. Apakah dengan begitu kita sudah berhasil membentuk akhlak mulia dalam diri kita atau sebaliknya akhlak kita justru jauh dari mulia? Seandainya kita pertimbangkan juga masuknya rejeki yang tidak diridhai Allah SWT ke dalam tubuh kita, apa yang akan terjadi? Bukankah akhlak mulia yang kita harapkan itu akan semakin sulit terbentuk?

Benang merahnya cukup jelas. Kemuliaan akhlak kita dipengaruhi langsung oleh kemuliaan pola pikir kita. Salah satunya adalah pola pikir tentang rejeki dalam hidup kita. Penting bagi kita untuk mengingat bahwa rejeki bukan hanya pemasukan, berbentuk uang, dan sesuai usaha kita. Rejeki adalah segala hal yang Allah SWT berikan kepada kita dalam bentuk apa pun sehingga kita dapat hidup tanpa merasa kekurangan. Seandainya persepsi kita terhadap rejeki sudah selurus itu, menjaga diri dari masuk ke dalam wilayah hitam atau sekadar wilayah abu-abu akan lebih mudah. Dalam kondisi tersebut, akhlak mulia akan lebih mudah terbentuk dalam diri kita. Kalaupun masih terasa sulit, paling tidak kita sudah mengambil satu langkah besar menuju terbentuknya akhlak mulia tersebut.

Wallaahu a’lam bishshawwaab.





___________________________________________
Amir Syafrudin
Direktorat Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi





Khasanah 4882800698446753579

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan