Loading...

Menjadi Pohon Yang Baik

           “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan...

           “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu mengingatnya. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tegak barang sedikitpun”. (Ibrahim: 24-26)

          Kita semua bisa membayangkan ketika ada sebuah pohon di pinggir jalan, pohon tersebut besar, kokoh dengan ranting tinggi menjulang yang dengannya membuat rindang suasana di sekitarnya. Pohon terlihat bersih dan wangi dan menyajikan pemandangan yang indah. Tidak hanya itu, pohon tersebut juga menghasilkan buah segar yang menggugah selera makan baik dari bentuk, bau maupun rasanya. Pohon itu berbuah setiap saat, dengan buah yang selalu baik tidak busuk, tidak mengenal musim atau paceklik.

         Pastinya pohon tersebut akan menjadi perhatian dan menjadi tempat menarik bagi banyak manusia, layaknya rest area di jalan tol saat ini. Manusia akan banyak berdatangan untuk menikmati suasana yang nyaman dan segar, berlindung dari sinar matahari di kala panas menyengat, berteduh dikala hujan, beristirahat melepas penat, merasakan kelezatan buahnya, atau manusia yang sengaja datang untuk saling bersilaturrahim dengan banyak manusia dengan asal usul dari berbagai daerah atau bahkan memunculkan ide kreatif para pedagang yang datang menjajakan barang keperluan bagi orang-orang yang ada di situ. 

           Mereka semuanya bisa mendapatkan manfaat keberadaan pohon tersebut tanpa kekhawatiran sedikitpun. Tidak ada kekhawatiran roboh atau tertimpa dahan ranting karena pohon tersebut sangat kokoh akarnya kuat menghujam bumi, mereka juga tidak khawatir kepanasan atau kehujanan karena ranting dan daunnya yang menjulang tinggi, mereka juga tidak khawatir dengan kelaparan karena setiap saat buah dari pohon tersebut siap dinikmati. Tidak ada ketakutan ada jin dan syetan karena banyak manusia yang berkunjung dan merasakan kenyamanan, tidak  khawatir terluka karena pohon tersebut tidak berduri.

            Pohon seperti itulah yang akan dibutuhkan, dirindukan dan selalu diingat oleh manusia karena mendatangkan begitu banyak kebaikan, manfaat serta mampu menumbuhkan produktifitas manusia lainnya.

           Dan sebaliknya ketika ada pohon dengan akar yang lemah sehingga pohon tersebut tidak bisa berdiri tegak, goyah saat diterpa angin dan hujan, serta tidak ada buahnya. Tentu tidak akan membuat tertarik manusia untuk mendatanginya karena Tidak memberikan perlindungan, manfaat dan kebaikan apalagi kenyamanan. Manusia justru khawatir akan mendapat musibah kalau berdekatan dengan pohon tersebut. 

           Begitulah Allah SWT memberikan permisalan yang indah dan sempurna terhadap kalimat yang baik (kalimah thayyibah), dan kalimat yang buruk (kalimah khabîtsah). Kalimat tauhid (La Ilaha Illallah), jika diucapkan seorang mukmin dengan benar dan ikhlas, dia akan menjadi kokoh dan tangguh sebagaimana layaknya pohon yang kokoh, tegak dan teduh.

           Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya: “Dari Ibnu Abbas bahwa (kalimat tayyibah) adalah syahadat Laila illallah,  (pohon yang baik) adalah orang beriman, (akarnya menghujam ke dalam tanah) adalah  Laila illallah di dalam hati orang beriman. (cabangnya menjulang) adalah amal orang beriman yang diangkat ke langit.“

           Bahwa seorang mukmin yang mengucapkan kalimat “lailaha illah “ dengan benar, maka dia akan memiliki keyakinan kuat yang menancap di dalam hati sanubari. Dia akan memegang Islam kuat-kuat, dan dia akan pertahankan aqidah tersebut sekuat tenaga sampai akhir hayatnya. Dengan kalimat tersebut manusia akan dijauhkan dari bersujud kepada berhala harta, menyogok, riba, mencuri dan melanggar. Dia tidak akan pernah berbohong untuk mempertahankan posisinya, tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan kriminal untuk mempertahankan hartan dunianya. 

           Manusia dengan keimanan seperti ini, sekali-kali  tidak akan menjual aqidahnya dengan dunia dan seisinya, dalam posisi kondisi dan situasi apapun. Orang beriman yang mempunyai sifat seperti ini hidupnya tidak akan pernah goyah, stress dan bingung dengan ujian apapun juga. Sebaliknya, hidupnya penuh optimis, semangat dan energik, karena ia yakin bahwa semuanya di bawah pengawasan dan  lindungan Allah. Dan buah keberadaan seorang mukmin ialah adalah keberanian, kedermawana, kasih sayang, kecintaan, kebaikan, iman, dan kebaikan lain selama hidupnya.

           Cita-cita tertinggi seorang mukmin adalah menggapai kebahagiaan akhirat. Oleh karenanya akan memandang dunia hanya sebagai sarana untuk mewujudkan citanya, merasa mulia dengan Islam, bersemangat dalam kebaikan setiap saat dan harus bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Karena mereka yakin dengan janji Allah SWT seperti Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Siapa yang memulai untuk memberi contoh kebaikan (dalam Islam) maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu sampai hari Kiamat” (HR. Muslim) 

           Sebaliknya, kalimat yang jelek, yaitu kata-kata kekafiran, seperti pohon yang jelek  yang akarnya tercabut dari tanah (ujtutsat min fauqil ardi) mudah goyah (ma laha min qarar). Pohon tidak enak dipandang, berbau busuk, dan kalau berbuah buahnya pun pahit. Pohon jelek tidak dapat dijadikan tempat bernaung, dan tidak dapat dimanfaatkan kecuali sebagai kayu bakar saja. Seperti itulah orang-orang kafir, mereka tidak mendatangkan manfaat apapun, menjadi kekhawatiran dan ketakutan manusia lainnya, dan tidak pantas untuk menjadi tempat perlindungan.

           Kita selaku seorang mukmin tentunya akan memilih menjadi pohon yang baik dan menjauhi pohon yang jelek. Dengan menjadi pohon yang baik di manapun kita berada akan menjadi perhatian dan daya tarik orang lain untuk membangun kebersamaan yang membawa manfaat. Mereka nyaman bersama dengan kita karena merasa aman, terlindungi, dan tercukupi kebutuhannya bahkan menemukan inspirasi untuk lebih produktif kehidupannya tidak terbatas kehidupan dunia namun hingga kehidupan akherat kelak.

           Sebagai seorang mukmin sekaligus insan Direktorat Jenderal Pajak, kita dituntut  untukAccount Representative, Penelaah Keberatan, pelaksana semuanya saling membantu dan bekerja sama sesuai bidang tugas masing-masing demi mewujudkan tujuan yang sama. 
berkinerja baik sesuai tugas masing-masing berkontribusi untuk kesuksesan mewujudkan amanah Direktorat Jenderal Pajak. Dan untuk itu kita tidak bisa melakukan seorang diri, karena amanah yang diemban Direktorat Jenderal Pajak sangatlah besar. Amanah itu kita pikul bersama dengan insan Direktorat Jendral Pajak lainnya. Ada yang menjadi pejabat struktural, fungsional,

           Dengan masing-masing kita menjadi pohon yang baik, yang memiliki keyakinan kuat, merasa selalu dalam pengaawasan Allah Yang Maha Mengetahui, berkesinambungan amal baiknya, menghindarkan diri dari menyogok, mencuri, melanggar, berbohong untuk mempertahankan posisinya, berbuat kriminal untuk mempertahankan harta dunianya, hal ini telah menjadi sikap dan perilaku nyata  Nilai Kementerian Keuangan integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan dan kesempurnaan pada diri kita. Buah dari semua itu akan menjadikan hubungan antar sesama menjadi nyaman, aman dan produktif karena dapat saling berbagi buah amal dan pengetahuan yang dimiliki, yang pada akhirnya akan membawa kebaikan pada diri kita khususnya sekaligus kebaikan bagi Direktorat Jenderal Pajak pada umumnya.

           Momentum ramadhan sangat tepat untuk menjadikan kita sebagai pohon yang baik. Allah SWT telah memberikan kondisi ideal di bulan ramadhan bagi orang-orang beriman untuk menjadi pohon yang semakin baik, sebagaimana tujuan diwajibkan puasa agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Segala hambatan dan halangan Allah minimalkan dengan dibelenggunya para syetan dan ditutupnya pintu neraka. Sebaliknya kesempatan dibuka seluasnya dengan dibukanya pintu surga, bonus pahala berlipat ganda, serta malam yang lebih baik dari seribu bulan. Kepada seluruh mukmin insan Direktoral Jenderal Pajak, mari kita menjadi pohon yang baik untuk menjadikan Direktorat Jenderal Pajak menjadi lebih baik. 



___________________________________________

Mashari Taufik
Kanwil DJP Jawa Barat II




Ramadhan 808054174905880273

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan