Loading...

Novian Tidak Pernah Mengeluh

Novian adalah adik bungsu kesayangan kami sekeluarga. Berparas tampan dan berkulit putih, beda dengan kami, kakak – kakaknya. Ia pun sering...

Novian adalah adik bungsu kesayangan kami sekeluarga. Berparas tampan dan berkulit putih, beda dengan kami, kakak – kakaknya. Ia pun sering dibilang tetangga sebagai “bule”. Tingkah laku dan tindak tanduknya demikian menyenangkan. Sopan, ringan tangan membantu Ibu dan selalu pergi sholat berjamaah. Benar-benar sosok anak sholeh di mata tetangga dan sanak famili kami.  

Ia menghabiskan masa kecil, layaknya anak-anak desa seperti kami. Ketika masih duduk di sekolah Dasar, pagi sekolah, sore pergi ke madrasah. Beranjak SMP, ia mulai sibuk dengan kegiatan ekstra kurikuler di sekolahnya. Pun, ketika Ia kemudian melanjutkan sekolah ke bangku SMA di kota kabupaten di Brebes. Ia tetap menjadi sosok good boy di mata kami. Ia aktif di ekstra kurikuler kerohanian islam. 

Selepas SMA, Ia melanjutkan kuliah di salah satu Universitas swasta di Cirebon. Keinginannya untuk kuliah di STPDN kandas, karena ia tak lolos seleksi. 

Pertengahan Tahun 2007, Novian pertama kali melaporkan telinganya hilang pendengaran. Bergegas kami membawanya ke dokter THT. Beliau cuman bilang kalo Novian syaraf telinganya terkena serangan virus dan disarankan untuk minum obat penguat syaraf pendengaran. Habis obat dari dokter diminumnya, tapi sakitnya tak kunjung sembuh. Komunikasi kami dengan Novian pun lebih banyak dilakukan dengan bahasa isyarat. Entah kami menuliskan pesan di kertas dan kemudian Ia membacanya, ataupun dengan melakukan gerakan-gerakan yang mudah dipahaminya. 

Setelah dua kali, periksa di dokter tersebut tak jua menunjukkan perbaikan kondisi,  aku yang kebetulan saat itu bertugas di Jakarta, berinisiatif mengajak Novian tinggal di rumahku. Agar Ia bisa memperoleh pengobatan yang lebih baik, juga bisa menjadi teman bermain anakku, demikian pikirku.
Untuk membantunya memulihkan pendengarannya, aku membawanya ke Klinik THT yang cukup ternama di kawasan Jakarta Selatan. Telinga Novian pun diperiksa, lewat kamera kecil yang dimasukkan ke telinganya. Tampak normal, tanpa ada tanda-tanda yang mencurigakan. Serangkaian test pendengaran pun dilakukan. Hasilnya, Novian mengalami kerusakan syaraf telinga. Dokter hanya bisa memberikan obat penguat syaraf.

Lebih dari dua kali kami berkunjung di Klinik tersebut. Disela-sela menunggu praktik, aku mendatangi beberapa toko yang menjual alat bantu dengar. Dengan harapan akan dapat membantu Novian memulihkan indera pendegarannya. Namun, kami gagal menemukan alat bantu dengar yang bisa membantunya. Di salah satu toko tersebut, aku mendapat referensi untuk membawa Novian di RS THT terbesar di Jakarta. 

Aku pun membawa Novian ke sana. Kembali, Novian menjalani beragam test audiometri. Hasilnya, mereka mengambil kesimpulan yang sama, bahwa syaraf pendengaran Novian telah rusak dan tidak bisa diperbaiki. Alat bantu dengar pun tak akan membantu banyak, menurut mereka. Tak ada solusi apapun yang dapat mereka tawarkan waktu itu. Hebatnya,  Novian tak pernah sekalipun kudengar ia mengeluh.

Ia masih tetap rajin pergi ke mushola untuk menunaikan sholat lima waktu berjamaah, maupun sholat Jumat. Ia tak menghiraukan kekhawatiran kami yang ketakutan Ia tertabrak kendaraan yang lewat, akibat Ia tidak dapat mendengar suara kendaraan melintas. Alhamdulillah, tak terjadi peristiwa yang kami takutkan. 

Tak mau hanya diam menunggu keajaiban, kami sekeluarga kemudian memutuskan untuk mencoba mencari pengobatan alternatif. Terpilih salah seorang tabib di Bogor. Tabib ini sangat terkenal di Bogor, sehingga tempat praktiknya pun selalu ramai. Saking ramainya, untuk mendapatkan pelayanannya di malam hari, kami harus mengantri dari Subuh hari sebelumnya.

Aku dan keluarga tinggal di Bogor, tapi aku dan isteriku kerja di Jakarta, tak memungkinkan kami untuk antri dan menunggu di tempat praktik tabib tersebut. Sedangkan Ibuku, mesti menemani Novian dan anak-anakku. Terpaksalah, ibu mertuaku pun turut membantu mendaftarkan. Bahkan ketika beliau berhalangan, beliau mencarikan tetangga yang bersedia menggantikannya.

Beberapa kali kami bolak-balik mendatangi tabib tersebut. Novian pun dengan sabar menjalani proses pemijatan yang menyakitkan. Tak jarang ia berteriak bahkan menjerit kesakitan, tapi sesudahnya, tak pernah kudengar ia mengeluh bahkan sekalipun. Ia masih tetap rajin pergi sholat berjamaah di mushola dekat rumah.

Tak ada perkembangan berarti pada pendengaran Novian. Entah sudah berapa bulan, waktu kami habiskan untuk berobat pada tabib tersebut. Belum lagi jamu pahit yang mesti dihabiskan oleh Novia. Hingga pada suatu sore, Novian mengeluhkan bahwa matanya mulai berkurang daya penglihatannya. Beberapa kali ia hampir menabrak benda di depannya. Saat itu barulah kami tersadar, ada sesuatu yang salah di kepala Novian, bukan cuma telinganya yang bermasalah.

Cara komunikasi kami pun perlahan berubah. Ia mulai kesulitan membaca tulisan kami di kertas. Bahasa isyarat masih bisa dengan susah payah ia mengerti. Untuk mempermudahnya menerima pesan, kami mulai menuliskan pesan tersebut di lengan tangannya. Ia mengeja satu per satu huruf yang kami tuliskan, merangkaikannya menjadi kata dan mencoba menebak pesan yang ingin kami sampaikan. 

Beruntung, Novian anak yang cerdas, sehingga Ia dapat menebak pesan yang kami maksudkan, walaupun baru sebagian pesan yang kami sampaikan. Tak jarang, ia bercanda dengan menebak pesan kami secara lucu. Ya, ia tak hilang keceriaan, walau harus menanggung beban yang sedemikian berat. Novian tak pernah mengeluh.

Berkonsultasi dengan Ibu dan anggota keluarga lainnya, akupun memutuskan membawa Novian melakukan serangkain test, mulai dari Computerized Tomography Scan (CT Scan) sampai dengan Magnetic Resonance Imaging( MRI) di RSCM. Hasilnya mengejutkan, karena Novian didiagnosa terkena serangan tumor otak. Dan setleah vonis tersebut, kami pun baru tersadar, rupanya ada perubahan fisik jidat Novian, terlihat menonjol dibanding daerah sekelilingnya. 

Segera kami berunding dan memutuskan bahwa Novian akan dioperasi. Kami membawa Novian balik ke Brebes dan memeriksakannya di RSU Tegal. Dokter di rumah sakit tersebut menyanggupi untuk menjalankan operasi pengangkatan tumor untuk Novian. Kami pun memutuskan untuk menjalani operasi di RSU Tegal. Pertimbangannya adalah kesanggupan tim dokter di RS tersebut. Di sisi lain Ibu akan lebih mudah mondar-mandir menjaga Novian di rumah sakit, karena pastinya Ibu yang akan lebih banyak menjaga Novian.
  
Tibalah saatnya Novian dioperasi. Satu hari sebelumnya, rambut Novian harus dicukur habis dan licin. Aku kebagian tugas untuk mencukur rambutnya. Perlahan aku gunting rambutnya, dan kukerok menggunakan silet. Tiba di bagian yang menonjol, aku pun tak tahan. Silet segera kuaangsurkan ke tangan adikku. Tak terasa air mata menetes membasahi mataku.

Disela-sela kegiatan mencukur itu, sempat beberapa ia bercanda dan menggoda kakaknya, dengan berpura-pura mengaduh kesakitan. Selesai mencukur rambutnya, ibu tampak berusaha mengajarkan Doa Nabi Yunus ketika di dalam perut Paus.
“La ilaaha illa Anta, subhanaKa inni kuntu mina dholimin”

Susah nampaknya, karena Novian tak dapat mendengar dan mulai berkurang kemampuan melihatnya. Kami pun mencoba menuliskan kalimat itu di kulit tangannya. Perlahan ia pun mulai dapat menghapalkannya.

Keesokan harinya, Medio Desember 2010, Ibu dan kami keempat kakaknya, dengan penuh optimis mengantar Novian menuju kamar operasi. Aku yang mendorong tempat tidurnya, sementara yang lain mengambil posisi menyesuaikan. Kamar operasi pun ditutup, tak lama lampu di atas pintu itu menyala, tanda bahwa operasi akan segera berlangsung. Kami menunggu di luar.

Ibu tampak mondar-mandir di depan kamar operasi. Adikku yang nomor dua, Obih tampak pergi menuju mushola, rupanya ia akan melakukan sholat sunah. Adikku perempuan, tampak gelisah juga. Beberapa family pun tampak hadir. Budhe tampak mendampingi Ibu. Aku mencoba membujuk ibu untuk beranjak ke kantin untuk sekedar menghirup segelas teh atau kopi. Ibu menolak, sambil berlinang air mata, beliau berkata bahwa beliau ingin bersama Novian. 

Tujuh jam tak terasa telah berlalu. Tak lama kemudian, pintu ruang operasi terbuka, tampak beberapa perawat bergegas mendorong ranjang operasi. Tampak Novian terkulai lemah. Kepala bagian atasnya tampak dibebat. Ada pipa besar yang masuk di mulutnya, sementara selang oksigen melintang dia atas mulutnya. Selang infus pun, tampak di tangan dan kakinya. Sedih rasanya bila harus mengingat kondisi dia saat itu. Novian pun segera masuk ke ruang ICU. Dan kami pun cuma bisa bergantian melihatnya.

Setelah beres bebersih, tim dokter mencari kami keluarganya. Dokter Rizal, dokter yang menangani Novian memberi penjelasan. Intinya, Tim Dokter mengalami kesulitan mengangkat tumor tersebut dan hanya berhasil mengambil sedikit bagiannya. Rupanya, tumornya telah menjalar ke batang otak Novian. Bahwa Novian tadi sempat mengalami pendarahan dan ditidurkan. Insya Allah Novian akan sadar setelah 24 jam.

Tak terasa malam pun tiba. Malam itu kami menunggu Novian sambil tidur di depan Ruang ICU. Beberapa kali aku menyempatkan diri untuk menengok Novian, khawatir kalau cairan infus Novian akan habis. Menjelang pagi, aku pun menyempatkan menengok dia lagi. Pemandangan yang kulihat kemudian terasa sangat menyentuh hati. Kulihat Novian sedang mengangkat kedua tangannya, tampak seperti melakukan gerakan takbir. Tampaknya dia sedang melakukan sholat shubuh. Subhanallah… bahkan di keadaan tidak sadarnya, Ia tetap mengingat Allah.. 

Tak sampai 24 jam, Novian sudah sadarkan diri. Tim Dokter tampak bingung, karena menurut mereka seharusnya Novian baru sadar setelah 24 jam. Mungkin semangat sembuhnya yang tinggi yang membangunkannya. 

Sepuluh hari di Rumah Sakit Novian pun diperbolehkan pulang. Tim dokter meminta maaf karena tidak bisa maksimal dalam upaya membersihkan otak Novian dari sel-sel pengganggu. Mereka berjanji apabila ada upaya yang lebih canggih, mereka akan menghubungi kami.

Seminggu sekali, kami harus mengantarnya ke RS untuk kontrol. Kondisinya puns semakin membaik. Hanya sisa bekas luka di tengkoraknya yang masih tampak. Dan sepertinya akan selalu tampak di sana. Tapi, Novian tak pernah mengeluh. 

Novian pun menjalani hari-harinya dengan gelap dan sunyi, karena perlahan, penglihatannya pun semakin berkurang. Ya, kami pun sadar bahwa operasi kemarin bukan untuk menyembuhkan pendengaran maupun penglihatannya. Itu hanya ikhtiar kami supaya kondisi tersebut tidak memburuk. 

Kami pun semakin kesulitan berkomunikasi dengan Novian. Kalau sebelumnya, kami masih bisa menggunakan kertas kosong dan kami tulisi pesan, sekarang ia tak bisa lagi membaca. Kami harus menuliskan pesan di kulit tangannya. Tapi, Novian tak pernah mengeluh.

Bahkan ketika pergi kemanapun harus selalu dituntun. Namun, Ia menolak untuk selalu dituntun. Ia hanya meminta kami menjaga ketiak Ia mencoba mengenali setiap sudut rumah. Tapi, Novian tak pernah menyerah. 

Tiga bulan kemudian, tim dokter menghubungi keluarga kami. Mereka memberitahu kami bahwa mereka telah mempelajari teknologi baru yang memungkinkan mereka mengambil lebih banyak tumor di otaknya.

Setelah mempertimbangkan berbagai hal, salah satunya bahwa tulang tengkorak Novian belum terlalu rapat menyatu kembali, kami memutuskan untuk mengikuti saran tim dokter untuk kembali melakukan operasi pengangkatan tumor di otak Novian.

Medio Maret 2011, Novian kembali masuk ke ruang operasi. Hasilnya, Nampak lebih menggembirakan pada waktu itu. Lebih banyak sel tumor yang diangkat. Tapi apa hendak dikata, setelah rangkaian operasi selesai. Kondisi Novian tidak membaik. Tapi semangat Novian tetap menyala. Sekali lagi, Ia tak pernah mengeluh. 

Hanya satu yang Ia keluhkan, Ia jadi susah sholat berjamaah di mushola. Ia tak mungkin meminta Ibu untuk menggandengnya ke mushola. Bukan apa, Ia tidak mau membuat repot Ibunya. Makanya ia begitu bergembira, apabila ada kakaknya yang berkunjung menemui Ibu, karena dia bisa meminta kakaknya mengantar dan menemani dia ke mushola. Ketika sholat berjamaah, aku terpaksa harus menyenggol anggota tubuhnya, agar Ia tahu bahwa Imam telah berpindah gerakan. Entah, apakah hal tersebut diperbolehkan atau tidak. Insya Allah, Allah tahu niatku.

Hari berganti, minggu berlalu, bulan pun pergi, setahun sudah operasi kedua, tak ada perkembangan berarti. Kondisi Novian pun naik turun. Ketika kondisinya turun, Ia bisa tiba-tiba kejang. Pernah jam dua pagi, ibu di Brebes menelponku di Bogor, memberi kabar Novian kejang. Tapi, tak ada yang bisa kami lakukan. Dokter tampak kewalahan mengatasi mengangkat tumornya, dan di sisi lain kami tidak tega melihat tengkorak kepala Novian dibuka untuk ketiga kalinya. Tapi Novian tidak pernah mengeluh.

Kehidupan Novian pun tetap berjalan dalam gelap dan sepi. Hanya goresan jari di kulit punggung maupun tangan yang menjadi temannya. Tapi ia masih bisa bercanda, menggoda para keponakannya. Ia tetap menjalani harinya dengan ceria. Kadang, sesekali ia berkata kepalanya pusing, bukan untuk mengeluh hanya untuk sekedar meminta dipijit kepalanya.

Baktinya terhadap orang tua pun tak berkurang. Semenjak Ayah meninggal, Novian hanya tinggal berdua bersama Ibu. Praktis, Ibu banyak membantunya melakukan sesuatu. Namun, dasar Novian, ia tak mau merepotkan orang lain. Sering Ibu mendapati berjalan ke arah pintu keluar, padahal ia tengah menenteng handuk dan bermaksud mandi. Ibu pun hanya bisa mengurut dada melihat anaknya. Sesekali menitikkan air mata. Padahal Ia bisa saja meminta tolong Ibu untuk mengambilkan baju atau keperluan lainnya, tapi tak pernah Ia lakukan. 

Ada satu peristiwa, yang bikin kami trenyuh. Ketika tengah terbaring di tempat tidur di rumahku, ia berseloroh sambil tersipu malu-malu, bahwa Ia minta minta dicarikan isteri. Ia merasa tidak enak hati telah banyak merepotkan Ibu.Ia berkeinginan, agar ada yang menggantikan Ibu merawatnya. Kami hanya bisa berlinang air mata mendengar permintaannya.

Ketaatannya terhadap perintah agama tak tertandingi. Sholat lima waktu selalu ia jalankan. Tak jarang ia melakukan sholat malam. Walau susah baginya untuk membersihkan diri, bisa setengah jam ia di kamar mandi, tapi Ia selalu berusaha untuk sholat tepat waktu di mushola. Ia berhenti pergi ke mushola, ketika semakin susah Ia melangkahkan kakinya, karena Ia tak mampu melihat lagi. Puasa ramadhan tak pernah ia tinggalkan. Rasanya tak pernah, bocor puasanya.

Semakin hari, kondisinya semakin memburuk. Kami semakin kesulitan memberitahu dia tentang konsep waktu. Kapan waktunya sholat, kapan waktu tidur, maupun kapan waktu makan. Acap kali terjadi, ketika tengah malam Ia terbangun, Ia tengah menjalankan sholat. Ketika selesai dan kami bertanya sholat apa yang barusan dia lakukan, dia menjawab sholat Dhuhur atau Sholat Ashar. 

Ia pun semakin sering kejang, hingga puncaknya di pertengahan tahun 2015, sekitar bulan September. Ia kejang di tengah malam. Segera kami bawa Ia ke rumah sakit. Dokter Rizal kami hubungi lagi. Beliau menyarankan agar dilakukan tindakan operasi. Aku menolak, karena khawatir dengan resiko maupun efek samping dari operasi tersebut. Setelah Novian sadar, kami pun membawa pulang paksa Novian.

Dan Novian masih bertahan, hingga akhir November 2015. Novian kejang kembali. Mau tak mau kami pun menyetujui usul Dokter Rizal. Novian pun kembali menjalani operasi ketiga.

Namun rupanya, Allah lebih sayang Novian. Novian tak pernah sadar secara penuh setelah operasi selesai. Ia hanya sempat bangun sebentar di Ruang ICU dan kembali tertidur. Beberapa hari setelah keluar dari ICU dan masuk ke ruang perawatan biasa Ia pergi. Pergi dengan Indah.

Malam itu, kebetulan aku dan Ibu yang menemaninya di Ruang Perawatan. Napasnya naik turun dengan perlahan dan terdengar seperti orang mendengkur. Aku yang terkantuk mencoba untuk terjaga dengan memainkan game di telepon genggamku. Pukul setengah 4 pagi, ibuku terbangun dan sholat tahajud, selepas tahajud beliau menyuruhku tidur. Aku pun menurutinya, karena kulihat Novian sudah pulas tertidur, napasnya tak lagi mendengkur. Ibu pun terjaga dan aku tertidur. 


Pukul 5 pagi, ketika perawat jaga mendatangi Novian dan mengecek suhu serta denyut nadinya tampak ragu dengan temuannya. Ia memanggil temannya untuk mengkonfirmasi. Oh ternyata, sebelum aku terlelap dan Ibu terjaga, Ia telah terlebih dulu tidur. Ya, tidur yang abadi. Rupanya, di akhir hayatnya pun, Ia pun tak mau merepotkan kami. Ia memilih tertidur dalam diam.
Selamat jalan adikku, maafkan kami yang tak mampu mengupayakan kesembuhanmu.




*** Pemenang 2 Lomba Menulis Ramadhan 1437H Masjid Salahuddin KPDJP



_____________________________________

Moh Makhfal Nasirudin
KPP Pratama Curup






Moh Makhfal Nasirudin 9214727047710015021

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan