Loading...

Pangeran Dengan Warisan Triliunan Rupiah

Pemuda paruh baya berkemeja biru tua dengan bawahan senada itu terengah-engah membawa seperangkat berkas yang harus segera diserahkannya ke...

Pemuda paruh baya berkemeja biru tua dengan bawahan senada itu terengah-engah membawa seperangkat berkas yang harus segera diserahkannya kepada petugas yang akan membantunya mendata sekian hartanya.

“kalau bukan karena syarat pencalonan kepala daerah, malas sekali rasanya berurusan dengan birokrasi yang meminta data aset kekayaan seperti ini” keluhannya tumpah bersamaan dengan bulir keringat pada wajahnya yang begitu terawat.

“sedikit lagi selesai Pak” gadis jangkung yang bertugas mendata harta calon pejabat itu merasa perlu menyampaikan tahapan pekerjaan yang sedang digarapnya.

“gila nih orang, kayanya gak nanggung-nanggung” gumam sang gadis sambil jemari lentiknya menari diatas tuts keyboard menyalin berderet-deret daftar harta tersebut. 

Bunyi gesekan kertas di alat pencetak memecahkan keheningan di ruangan yang mesin pendinginnya sering rusak itu.

“Pak.. ini aset banyak sekali begini untuk apa aja? Rumah, apartemen, ruko, mobil mewah, berhektar-hektar tanah di beberapa tempat, belum lagi logam mulia, lembar-lembar saham, ya ampun Pak, itu duit semua kan ya?” perempuan belia itu coba mengungkapkan rasa penasarannya.

“sebagian itu warisan dek, nah sisanya juga nanti bakal saya wariskan ke anak-anak saya”

Pria itu menjawab sekenanya dengan tatapan tak lepas dari gawai di genggamannya.

“nah ini sudah selesai semuanya Pak” gadis itu menyerahkan tiga lembar kertas yang berisi tabel-tabel isian harta. 

“oke, terimakasih ya”


***

Kejadian ini biasa adanya, seorang kaya raya dengan harta yang berlimpah. Seperti si gadis yang penasaran dan kemudian memaklumi atas banyaknya harta dan peruntukannya nanti. Bahkan diam-diam, sang gadis juga bermimpi bisa bersuamikan lelaki hartawan dengan limpahan kemewahan.
Jika nanti dianugerahkan anak, maka ia berniat untuk membeli sekian aset sebagai simpanan agar kelak bisa diwariskan ke anak-anaknya.

Apalagi budaya ditempatnya mendukung hal semisal itu. Banyak sekali orang tua yang mati-matian bekerja untuk bisa membeli aset ini dan itu, kemudian disimpan untuk selanjutnya diwariskan.
Alasannya apalagi kalau bukan untuk membahagiakan anak-anaknya.

“kita yang sudah pada tua-tua begini, cari uang ya buat anak senang.” Ungkapan seperti ini lazim ditemui di kalangan orangtua di kampungnya.

Mimpi hanya tinggal mimpi. Takdir menuntunnya menikahi lelaki kampung yang miskin. Satu-satunya kekayaan yang dimiliki lelaki itu adalah keluarganya, mereka sepuluh bersaudara. Lengkap sudah kepingan takdir hidupnya, maka menjadi kaya adalah suatu kemusykilan.

Hari berganti minggu, bulan berbilang tahun, pernikahan mereka terus melaju, tak ada yang istimewa, selain bersuamikan lelaki kampung yang ternyata begitu banyak membawa keberkahan dalam pernikahan mereka.

Lelaki yang begitu kuat baktinya kepada ayah dan ibunya, begitu lapang hatinya untuk menolong sesama. Maka arus keberkahan itu seperti air bah yang tak dapat ditahan-tahan. Perlahan kehidupan finansial mereka membaik. Memiliki rumah, mobil, pekerjaan yang bagus, serta beberapa bisnis yang berjalan dengan lancar.

Ah, akhirnya sang istri bisa memulai untuk mengumpulkan aset sebagaimana mimpinya dulu. Anaknya kini berjumlah empat, dirinya siap memburu beberapa kapling tanah untuk nantinya dia wariskan ke anak-anaknya.

Tekad bajanya untuk menumpuk harta seketika meleleh ketika di suatu malam ia membaca sebuah kisah nyata berabad-abad silam tentang seorang raja yang memiliki sebelas orang anak, dan tiap anak hanya diwariskan setengah dinar dan seperempat dinar.

Raja adil yang memimpin rakyatnya, dimana  pada masa kepemimpinannya akan sangat sulit untuk menemukan orang miskin yang layak untuk menerima zakat. Perempuan itu terperangah, seorang pejabat calon kepala daerah yang dulu hartanya pernah ia ketik berderet-deret itu tentu belum ada apa-apanya dibandingkan sang raja ini.

Ia mulai berhitung, setengah dinar ini setara dengan satu juta sekian kalau dikonversikan ke rupiah, jumlah yang sangat sedikit untuk ukuran warisan yang diperoleh para putri dan pangeran seorang raja yang dibawah kepemimpinannya rakyatnya adil, makmur, dan sejahtera.
Adalah wajar jika kemudian staf raja tersebut merasa perlu untuk mempertanyakan perihal warisan yang jauh dari kata layak bagi anak seorang raja.

“Tuanku, sesungguhnya anda sudah menguapkan harta anda dari mulut anak-anak anda. Akan lebih baik jika anda mewasiatkan anak-anak anda kepada saya atau orang-orang seperti saya yang akan menanggung biaya mereka.” Staf kerajaan ini mengkhawatirkan keberlangsungan hidup anak-anak raja tersebut.

“Aku tidak pernah menzalimi mereka jika itu memang hak mereka, sebagaimana aku tidak mungkin memberikan sesuatu yang bukan merupakan hak mereka. Adapun agar aku mewasiatkan anak-anakku kepadamu. Maka wasiatku untuk mereka adalah firman Allah subhanahu wata’ala.

7:196
Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Quran). Dia melindungi orang-orang saleh. (QS. Al A’raf : 196)

Masya Allah, luar biasa sekali keyakinan sang raja kepada Allah subhanahu wata’ala. Jika memang anak-anaknya termasuk golongan orang yang saleh, maka Allah yang akan mencukupkan kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, jika tidak saleh, maka tak mungkin ia yang mengulurkan harta untuk membantu kemaksiatan.

Ketika menjelang ajalnya, seluruh anak-anaknya berkumpul. Dengan berurai air mata ia berkata “Sudah, pergi lah kalian. Semoga Allah menjaga dan memberikan rezeki kepada kalian.”

Raja itu adalah dia yang kita kenal dengan nama Umar bin Abdul Aziz. Seorang khalifah dari Dinasti Bani Umayyah.


Mari kita bandingkan keadaannya dengan seorang Hisyam bin Abdul Malik, khalifah yang berasal dari dinasti yang sama. Ia juga meninggalkan sebelas orang anak. Satu orang putranya saja memperoleh satu juta dinar. Setara dengan dua triliun rupiah.
Sejarah kemudian mencatat bahwa tidaklah setiap anak dari Umar bin Abdul Aziz itu melainkan kelak menjadi hartawan dan dikagumi kesalehannya. Bahkan salah satu putranya menginfakkan seratus ribu kuda untuk jihad fisabilillah. (Alfi Qishshah wa Qishshah, hal.8)
Sementara anaknya Hisyam bin Malik, oleh Muqatil bin Sulaiman seorang penasihat khalifah Dinasti Abbasiyah ditemukan dalam keadaaan terlantar sedang mengemis di pasar. 

Perempuan jangkung itu menutup lembar-lembar bacaannya dengan bulir bening yang membasahi pipi tirusnya.

Allah, naif sekali selama ini tekadnya dalam memburu dunia. Betapa keberlimpahan harta bukan jaminan kebahagiaan hidup. Semangatnya kini masih membaja, tetapi bukan untuk mengejar kemegahan panggung dunia. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mulai merenda hari, merajut benang-benang takwa. Belajar menjalin keyakinan utuh atas janji Tuhannya.





Banda Aceh, 2 juni 2017



_________________________________________________________

Fri Okta Fenni
KPP Pratama Banda Aceh






Kisah 1066541874839274776

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan