Loading...

Surau Itu

Rindu ini terus bertumbuh perlahan hingga kini tak lagi mampu ku bendung. Entah sudah berapa lama aku tak mencium udara lembut kota ini, k...

Rindu ini terus bertumbuh perlahan hingga kini tak lagi mampu ku bendung. Entah sudah berapa lama aku tak mencium udara lembut kota ini, kota tercintaku. Langit merah menyapa dikeheningan pagi, cahaya mentari menyusur perlahan menembus kaca mobil depanku. Aku hanya mampu tersenyum lembut mengingat semua ini. Sebuah tanda lalu lintas tertulis nama kotaku disertai tanda panah ke kanan. Roda mobil ku arahkan mengarah kesana. Perlahan namun pasti ujung jalan tol mulai terlihat, dibaliknya adalah kota ku, kota yang penuh kenangan. Semarang.

Rem mobil berderit perlahan menghentikan mobil yang melaju melalui beberapa kota di pulau Jawa. Aku menghentikan mobil tepat di depan sebuah surau. Taukah kau surau? Orang jawa sering menyebutnya dengan "langgar"  atau mungkin bahasa yang ramah ditelingamu dengan sebutan mushola. Surau ini hanya berjarak tigarumah dari kediaman masa kecilku. Disinilah semua kisahku bermula, disebuah desa nelayan di kawasan petani Kota Semarang.

"Ayah, ini rumah siapa? Katanya mau ke rumah nenek,tapi kan bukan disini?"  rengek bocah kecil usia 5 tahun. Dia adalah anakku, Said. Aku memang sengaja mengarahkan mobil ke surau ini untuk sekedar beristirahat sembari mengenang masa kecilku. Aku ingin mengajarkan kisahku kepada anak dan istriku, agar mereka tau siapa ayah dan suaminya.

"Kita istirahat sebentar ya, sholat Dhuha sekalian sarapan. Mau enggak?"

"Asik... Mau yah.. Sarapan bekal yang dibuat ibu ya?"

"Iya, kan ibu sudah membuat yang istimewa khusus untuk adek dan ayah," jawab istriku dengan senyum manis menenangkan anakku yang tak sabar melahap makanannya.

Aku tersenyum dan mengajak semua masuk ke dalam surau. Semua masih sama. Surau kecil diujung sebuah gang masuk perkampungan. Aromanya masih sama, hangatnya udara masih sama, ruangan ini sama, hanya beberapa yang mengalami peremajaan. Disana sini memang harus diperbaiki, pikirku. Kami pun sholat dua rakaat berjamaah. Anakku disamping kanan dan ibunya dibelakangku. Bukankah semua itu indah? Batinku dalam hati.

"Ayah katanya mau cerita, mau cerita apa?" anakku tertarik dengan janjiku tadi. Ia memang seorang pembelajar. Selalu tertarik dengan hal hal yang baru.

"Ayah akan menceritakan kisah ayah ketika kecil, ketika ayah seumuranmu dan semua tentang surau ini."

"Surau ini? Kenapa?"


---------------------------------------------------******---------------------------------------------------

Surau ini dulu begitu sederhana. Lubang angin dimana mana, bukan disengaja dengan maksud agar udara sejuk mengisi surau. Bukan, tapi lebih kepada tembok tembok itu sudah tak lagi perkasa. Mereka sudah terlalu tua untuk berdiri kokoh laksana bangunan belanda. Begitu kata Ayah, Ayahku seorang modin kampung. Bila kau tak mengerti modin, dalam sebutan orang jawa ia adalah orang yang dipercaya tentang ilmu agamanya, mungkin ringkasnya adalah pemuka agama. Surau ini adalah tempatku dan kawan-kawan bermain disiang hari diantara teriknya mentari dan tempat kami belajar bahasa Ilahi disaat rembulan setia menemani. Sesekali kami ditegur karena bersuara terlalu keras ketika para orang tua dikampungku melakukan ibadah. Semua itu akan bertambah sering ketika Ramadhan tiba, ketika rakaat demi rakaat tarawih dilaksanaan berjamaah. Kami selalu dipaksa dibarisan paling belakang, aku tak mengerti mengapa. Tapi tak apalah, yang paling penting aku masih bisa bermain dan berkumpul bersama teman-teman. Disitulah aku bersyukur atas karunia Allah, dan ingat sebuah ayat yang selalu disebutkan Ayah. "Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan."

Tapi semua itu tak lama. Semua senyum itu seolah hilang ditelan bumi, lebih tepatnya hancur oleh sebuah bencana alam. Pagi itu, sekitar pukul 8 suara gemuruh mengguncang desaku. Asap tebal debu membumbung tinggi ke langit. Pekat. Udara terasa sesak oleh debu debu yang beterbangan tak tau arah. Tak hanya debu, manusia pun berlarian tak tau arah. Semua sibuk mencari keselamatan bagi diri mereka sendiri. Pagi itu desaku tertimpa bencana tanah longsor. Tujuh orang meninggal menyisakan kepedihan bagi kami yang tersisa. Aku yang kala itu masih kelas dua sekolah dasar tak mengerti apa yang terjadi. Yang kutau semua tak sama seperti sedia kala. Banyak kawan sepermainan yang pergi pindah kedaerah lain, banyak tempat permainan kami yang juga markas kami telah berubah menjadi unggukan tanah, dan yang pasti aku dan keluarga dipaksa untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Namun satu diantara semua kesedihan dan kemalangan yang menimpa, satu yang paling berat kurasa. Surau ini, surau dimana aku belajar mengenal alif, ba, ta hingga ya rusak diterjang longsor. Surau ini tak lagi mampu menemani kami beribadah kepada-Nya. Surau ini tak lagi mampu menampung tawa renyah aku dan teman temanku. Tak kusangka air mataku menetes perlahan dan berlanjut sesengukan ala anak usia 7 tahun.


---------------------------------------------------*******---------------------------------------------------

"Ayah kenapa menangis?" tanya anakku melihat beberapa bulir menetes di ujung mataku. Istriku menyekanya perlahan lalu tersenyum dan menepuk pundakku menguatkan.

"Ayah cuman teringat masa itu nak. Ayah terkadang masih sedih mengingatnya. Tapi lihat kan? Sekarang surau ini sudah bagus," ungkapku mencoba menutupi kesedihan didepan anakku seraya mengalihkan pandang ke sekeliling.

"Iya ayah. Walau enggak sebesar masjid disamping rumah kita, surau ini enak yah," aku tersenyum memandang wajah polos anakku.

"Ayah cerita lagi dong. Adek mau tau gimana kelanjutan kisah surau ini," ungkaunya sembari mencondongkan badannya, kupikir ia mulai tertarik. Istri menggenggam tanganku dan mengangguk memberi tanda agar melanjutkan kisahku.


---------------------------------------------------******---------------------------------------------------

Satu minggu lebih kami hanya bermain diantara puing puing bangunan hancur. Aku dan kawan kawan mulai menemukan permainan baru. Lebih tepatnya terpaksa harus menemukan yang baru karena kami harus menemukannya untuk bermain. Tongkat kayu kami rubah menjadi pedang, lalu kami pun berpura pura menjadi gladiator yang saling mengadu keahlian pedang kami. Pernah kami pun mengubah buah jeruk bali yangada menjadi bola sepak. Kami bermain sepuasnya dengan jeruk bali itu, meskipun kami harus pulang dengan kaki yang penuh memar. Kami tidak menyerah, lebih tepatnya kami tak ingin menyerah. Anak anak, remaja, orang tua dengan dibantu beberapa relawan, kami bahu membahu membangun desa kami.

Sebulan penuh kami harus beribadah di surau darurat. Beralaskan terpal dan beratapkan terpal, terpal yang harus kami gulung bila waktu makan telah tiba sebagai alas, atau kami buka selebar mungkin bila hujan datang semakin deras. Semua itu tak menghalangi niat kami beribadah kepada-Nya. Kata Ayah, semua ini ujian, Allah sedang menguji desa kami. Kami harus kuat, kami hanya harus tetap berusaha dan bergantung pada pertolongan Allah semata.

Sebulan setelahnya surau kami berdiri. Ia berdiri kembali dengan tembok yang tak lagi berlubang. Ia bertambah besar walau hanya beberapa meter persegi. Ia menjadi lebih baik berkat bantuan dari pemerintah. Aku tak mengerti kala itu, aku hanya mengerti surauku kembali. Namun sayangnya, saat itu adalah saat terakhir aku bertemu surau ini. Ayah harus pindah ke kota lain, kata Ayah demi mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Aku dan keluarga pergi meninggalkan desa dan surai itu. Surau dimana aku mengenal nikmat iman dan nikmat islam. Surau sederhana yang sanggup membawa cinta keseluruh desa.


---------------------------------------------------*******---------------------------------------------------

"Ayah aku ingin bermain bola dengan jeruk bali juga," teriak anakku dengan penuh semangat begitu aku selesai dengan ceritaku.

"Iya, nanti ya kita main di rumah nenek. Tapi kan Ayah sudah bawa bola. Pake itu aja ya."

"Hm.... Enggak, adek maunya pake jeruk bali seperti Ayah dan teman temannya," anakku melipat tangannya di dada. Aku hanya tersenyum atas kelakuan anakku ini.

"Adek suka enggak sama surau ini?" tanyaku padanya.

Ia mengangguk, "Suka yah, adek suka surau ini, suka sekali."

"Alhamdulillah klo adek suka. Oiya Ayah jadi teringat pesan Kakek ke Ayah ketika longsor dulu. Pesan kakek yang bagus banget. Mau denger enggak dek?"

"Apa itu yah?"

Seketika wajah Ayahku terbayang perlahan. Aku masih ingat betul kata katanya.

"Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan. Cara kita mensyukuri nikmat-Nya adalah dengan beribadah nak. Ibadah dalam segala keadaan, mau kita susah seperti ini, atau kita senang seperti sebelum longsor dulu, kita harus senantiasa beribadah kepada-Nya. Hanya kepada Allah lah tempat kita berlindung dan meminta pertolongan"








______________________________________
Ian Ardiansyah
KP2KP Indralaya




Kisah 3145144810269322661

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan