Loading...

Tantangan Para Generasi Di Era Globalisasi

Dari waktu ke waktu, dari hari ke hari, dari detik ke detik terus berjalan meninggalkan tahun demi tahun yang berlalu, apakah masih ada ima...

Dari waktu ke waktu, dari hari ke hari, dari detik ke detik terus berjalan meninggalkan tahun demi tahun yang berlalu, apakah masih ada iman di dalam hati kita wahai para kaum muslimin dan muslimah?

Sekarang ini kita hidup di abad 21 atau di era globalisasi bukan di zaman rasulullah. Kalau di zaman rasulullah, para pengikutnya itu selalu taat dan patuh. Mereka akan langsung mengerjakan semua apa yang rasulullah perintahkan kepada mereka. Hidup di zaman sekarang, diibaratkan sebuah kapal yang sedang berlayar di atas permukaan laut yang terombang ambing tidak mengetahui kemana tujuan yang pasti.

Di tengah-tengah pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, mari kita lihat di televisi yang begitu banyak tayangan-tayangan yang dapat merusak pola pikir para generasi bangsa yakni pornografi dan pornoaksi. Bahkan yang lebih ironisnya lagi, telah tersebar iklan di berbagai media elektronik maupun media cetak “Jikalau anda merasa kesepian, hubungi nomor sekian-sekian”. Ini merupakan tantangan bagi para generasi muda yang harus dihadapi saat ini. Karena pelaku dari itu semua adalah orang-orang yang berhati yahudi dan nasrani serta tidak percaya akan adanya Allah SWT. Apabila kita ikut melakukan perbuatan tersebut, maka kita termasuk ke dalam kelompok mereka.

Generasi muda saat ini harus mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan, halangan serta rintangan di masa yang akan datang. Kita harus senantiasa mengatakan yang benar walaupun pahit. Jangan pernah berkata bohong apalagi sampai mencampur adukkan antara yang haq dan bathil. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam surat Al Baqarah Ayat 42 yang berbunyi: Artinya : “Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui”. 

Mari kita lihat perkembangan dan kemajuan teknologi yang ada di beberapa Negara di dunia. Misalnya negara amerika yang bangga akan kemajuan teknologinya. Negara jerman yang bangga akan kemajuan otomotifnya. Negara yunani yang bangga akan kelahiran para ahli filsafat. Tapi ingat, yang bermain di balik layar ialah ilmu-ilmu agama islam. Islam adalah agama yang kongkrit, kolektif
dan universal. Allah SWT tidak suka terhadap hamba-Nya yang mempunyai sifat angkuh,
sombong dan iri hati. Meskipun wajah kita ganteng menawan dan cantik sekali namun itu semua tidak berarti tanpa ada iman di dalam hati.


Mari kita lihat selayang pandang perkembangan dan kemajuan agama islam pada zaman dahulu. Ilmu pengetahuan agama islam dikuasai oleh kaum muslimin diantaranya:
  • Ahli Ilmu matematika dikuasai oleh Al-khawarizmi;
  • Ahli Filosofi dikuasai oleh Al-kindi;
  • Ahli Ilmu kedokteran dikuasai oleh Ibnu Sina;
  • Ahli kimia dikuasai oleh Jabir Bin Hayan;
  • Ahli astronomi dikuasai oleh Al-Fazari;
  • Dan masih banyak ilmu pengetahuan lainnya yang dikuasai oleh orang-orang yang beragama islam.

Untuk menghadapi tantangan di era globalisasi, salah satu faktor yang sangat berperan penting dalam kehidupan sehari-hari ialah memperkuat persatuan dan kesatuan. Karena persatuan dan kesatuan merupakan landasan yang sangat penting bagi kita agar tidak mengalami perpecahan, permusuhan, perceraian dan pertikaian. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam surat Ali-imran Ayat 103 yang berbunyi:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ ه اللَِّ جَمِيعًا وَلََ تَفَ ه رقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ ه اللَِّ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلهفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ
عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ ال ه نارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ ه اللَُّ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلهكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya : “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Surat Ali-imran Ayat 103 tersebut memotivasi kita agar perbedaaan ideologi, organisasi, agama, adat istiadat, suku, bangsa, dan bahasa harus menjadi jembatan emas guna memperkokoh persatuan dan kesatuan. Oleh karena itu, mulai saat ini kita samakan langkah, seragamkan gerak, satukan persepsi, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Perbedaan jangan pernah melahirkan perpecahan, pertikaian dan permusuhan, tapi hendaknya perbedaan menjadikan kita harus saling menghargai dan
melengkapi.

(Alm) K.H Zainuddin MZ mengibaratkan persatuan dan kesatuan seperti kedua tangan. Para warga mengibaratkan persatuan dan kesatuan seperti sebatang lidi yang disatukan. Penulis mengibaratkan persatuan dan kesatuan laksana kue bakwan. Dimana kol nya adalah sayuran, tepungnya tidak bisa dimakan. Kedua-duanya saling membutuhkan, kemudian digabungkan dan dimasak, maka jadilah kue bakwan.

Persatuan dan kesatuan merupakan salah satu modal kesuksesan dalam menghadapi tantangan para generasi di era globalisasi. Untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan tersebut, langkah awalnya kita harus saling menghargai terhadap perbedaan di antara kita. Jika sikap ini yang kita tumbuh kembangkan, maka persatuan dan kesatuan akan tercipta dilingkungan masyarakat. Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, Semoga tulisan ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca pada umumnya.





______________________________________________

Muhammad Ridwan Sidiq
Kanwil DJP Sumatera Utara II





Muhammad Ridwan Sidiq 6626953801717955440

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan