Loading...

Aku Bersaksi Dengan Kedua Tanganku Ini

Surau Gadang, 1985 Malam Ramadhan kali ini terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya, namun peluhku tetap mengalir dengan deras....

Surau Gadang, 1985

Malam Ramadhan kali ini terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya, namun peluhku tetap mengalir dengan deras. Tetapku kayuhkan kencang-kencang laju sepeda tuaku ini. Sepeda ini pemberian ayahku sekaligus warisan turun temurun di keluargaku. Mungkin hanya ini satu-satunya benda berharga yang dapat ditemukan di rumah kami. Kusandarkan sepeda di dinding dapur belakang rumah segera aku berlari menaiki tangga. 

“Affan, cepat kau masuk” ujar Ibu, mungkin langkahku yang tergesa-gesa menggema keseluruh rumah panggung ini. Dukun beranak menyambutku di tengah rumah. Malam ini memang malam yang ditunggu-tunggu setelah 9 bulan perjuangan istriku mengandung anak pertamaku, dan 9 tahun lebih 3 bulan kurang 2 hari aku berumah tangga. “Cuci tangan dan kakimu baru boleh masuk dampingi istrimu. Kasihan dia..sudah habis nafasnya...” perintah ibuku dari balik dinding bambu dapur belakang. Secepat kilat kucuci dan kusabuni bersih-bersih setiap jengkal kaki dan tanganku. Maklum tadi baru dari pengajian di Surau Tangah, surau terbesar di kampung ini. Ada buka puasa bersama dan pengajian bersama para tetua adat kampung.

Kutatap peluh di kening istriku, keringatnya menahan sakit tak terkira hanya lafaz Astaghfirullah dan La illaha Illah yang keluar dari mulutnya, bukannya teriakan kesakitan. Andai bisa rasa sakit itu pindah ke diriku maka akan kutanggung semuanya. “Sabar ya Adinda, buah perjuangan kita Insya Allah sebentar lagi datang” kuusap keringat dan air mata yang mengalir di pelupuk matanya. Teringat saat aku meminang istriku 9 tahun lalu hanya bermodal keberanian dan sebuah cincin emas yang sampai kini masih melingkar di jari manisnya. Di Kampung Tangah Kenagarian Koto Tangah Kabupaten Agam Sumatera Barat ini masih sangat kental adat budayanya, apalagi istriku adalah seorang putri sulung dari seorang Datuak di kampungku ini. Memang butuh keberanian yang sangat besar untuk meminangnya. Tapi saat pertama kali aku mendengar suara merdu bacaan Al-Qur’annya saat ada pengajian di Suaru Tangah, aku langsung meyakinkan bahwa dia adalah calon ibu dari anak-anakku.

Tangisan suara kencang memecahkan lamunanku. Alhamdulillah si Buyung lahir. “Lengkap seluruh anggota badannya, tampan rupanya, Alhamdulillah ya Allah..Engkau kabulkan do’a kami” lirihku. Kukecup kening istriku, terima kasih adinda. Rabbi Hablii minash sholihiin...Rabbi Hablii mil ladungka zurriyatan Thayyibah, Innaka samii’ud du’aa..Ya Tuhanku anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk dalam orang-orang sholeh...Ya Tuhanku berilah aku keturunan yang baik dari Sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do’a...terima kasih ya Allah...Muhammad Alfi Syahrin...namamu nak...

Medan, 1990

Tiga tahun sudah kami merantau ke kota Medan ini. Saat Alfi berusia 2 tahun, aku memohon izin dengan keluarga besar untuk membawa istriku merantau. Susahnya kehidupan di kampung membuat keluarga kecilku harus mencoba sesuatu hal baru untuk mengubah nasib. Kebiasaan “urang awak” merantau dan berdagang menjadi pilihan terbaik. Aku mulai dengan bismillah, memikul alat-alat rumah tangga setiap hari menjadi makanan sehari-hari. Berkeliling bersepeda dari setiap gang sempit ke gang sempit lainnya, Alhamdulillah walaupun sedikit yang penting halal. Menjelang maghrib langkah kaki ini baru pulang.

“Ayah, bawa pulang apa?” begitu setiap hari sambutan si “buyung” kecilku. Matanya pasti berbinar senang jika ada sesuatu yang aku keluarkan dari balik kantong celanaku. “Cuma ada coklat ayam jago abang mau?” ujarku, disambut oleh anggukan kecilnya. “terima kasih Ayah...” jawabnya manja sambil minta digendong.

“Abang Alfi...jangan ganggu Ayah dulu, kasihan biar Ayah istirahat dan mandi dulu ya” sambut istriku dari dapur. “Abang mau ikut Ayah ke masjid? Kalau iya lekas minta Ibu ganti baju yang bersih, sebentar lagi azan maghrib”. Membawa Alfi ke Mesjid memang ingin aku biasakan sedari dini. Dari aku kecil dulu “Abak” di kampung juga biasa membawaku ke Mesjid dan ini akan aku turunkan ke Alfi agar dari dini terbiasa dengan Mesjid, walau cuma saat maghrib dan isya saja aku bisa. Ah tapi tak apa lah setidaknya ada daripada tak sempat sama sekali.

Masih sepi daerah sekitar sini, untuk ke Mesjid sambil bersepeda cukup jauh tapi tak apa, semakin jauh semakin senang si buyung kecilku. “Tahun depan abang masuk SD ya? Mau masuk SD yang mana bang?” tanyaku. “abang mau SD yang di jalan depan Mesjid yah, biar nanti Ibu bisa sekalian antar Alfi” jawabnya antusias. “Ya sudah nanti kita bilang ke Ibu ya, sekarang abang pegangan yang kuat Ayah akan kayuh sepedanya lebih kencang”. Horeeeeee....


Medan, 2003

Tahun demi tahun berlalu, selepas SMA Alfi telah mengutarakan niatnya ingin menjadi seperti BJ Habibie masuk ITB Teknik Penerbangan dan bisa mendesain pesawat. Cita-citanya membuat pesawat memang telah aku ketahui sedari kecil. Setiap menggambar pasti yang digambarinya adalah pesawat. Tak terhitung banyaknya gambar pesawat yang memenuhi dinding rumah, pesawat terbang, pesawat tempur bahkan helikopter. Mungkin karena Bandara Polonia Medan dekat dari rumah, makanya setiap hari nampak dengan jelas pesawat-pesawat yang menakjubkan itu.
Hari ini cuaca Medan sangat panas, dari pagi mentari sudah mengeluarkan semangatnya menyinari bumi Allah ini. Jualan rujak buahku masih belum ada yang laku sedikitpun. Tak terkira sudah bermacam-macam dagangan yang telah aku coba, mulai dari jualan alat-alat rumah tangga sampai jualan mainan anak-anak, namun sekarang aku tengah mencoba peruntunganku berjualan rujak di siang hari dan malamnya berjualan sate padang di simpang pajak Seikambing ini. Keduanya makanan buatan istriku dan biasanya selalu laris manis. Tapi badanku hari ini terasa kurang enak, sedikit pusing. Kuputuskan untuk pulang ke rumah sejenak. Istriku heran melihat kepulanganku yang tidak biasanya. Tergopoh-gopoh disambutnya badan kurusku ini. “Duduk dulu bang, diambilkan minum dulu ya...” sambut istriku.

Baru tegukan pertama minum, Alfi pulang dengan peluh membasahi kemeja putih abu-abunya. “Assalamu’alaikum, Ibu, Ayah, Alhamdulillah. Abang lulus. Dibukanya selembar kertas pemberitahuan. Aku baca tulisan atasnya, tertulis Institut Teknologi Bandung. Aku yang cuma lulusan SD ini masih belum mengerti. “Abang lulus di Teknik Penerbangan ITB ayah, Abang bisa belajar membuat pesawat nantinya. Abang akan berangkat sekolah ke Bandung yah, izinkan ya ayah” tanyanya antusias. Kulihat binar senang di matanya, namun aku tertunduk lemas, diakhir surat tercantum nominal 5 juta rupiah sekian sekian...

Aku akan berusaha semampuku untuk bisa mengantarkan anakku kuliah di Bandung. Untuk berangkat kesana dan biaya tersebut mungkin masih aku berhutang banyak, dan untuk biaya kuliahnya masih bingung akau memikirkannya. “Ayah jangan cemas, cukup sampai mengantar Abang saja. Untuk selanjutnya biaya sehari-hari dan biaya kuliah, tak usah ayah pikirkan. Akan Abang usahakan sendiri. Tak perlu Ayah khawatir, yang penting do’a Ayah dan Ibu itu saja sudah cukup” diciumnya tanganku takzim.

Selang beberapa hari Alfi membawa kabar gembira lainnya. Alfi ternyata juga diterima di STAN Jakarta. Enatah sekolah apa itu, tapi lokasinya di ibukota negara ini. Saat ini dia tengah bingung mau milih yang mana. “Abang akan kuliah di STAN saja yah, setidaknya STAN gratis tidak ada biaya kuliahnya, tiga tahun kuliah selesai dan langsung diterima bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil” terang Alfi kepadaku. “Ayah sama Ibu terserah saja. Semua Abang yang akan menjalani yang penting Abang bisa jaga diri di negeri orang” jelasku. Tak tega saat kulihat dia berkemas untuk keberangkatannya, dilepaskannya satu persatu gambar pesawat yang telah memenuhi dinding kamarnya. Kulihat setitik air mata tumpah. Maafkan aku anakku, telah memupuskan cita-citamu.


Medan, 2006

Kulihat anakku mulai memakai kemeja putih barunya sambil mematut-matut di depan kaca. Ah...masih terbayang aku saat menghadiri wisudanya, dengan bangga anakku disebut sebagai salah satu mahasiswa lulusan terbaik dengan nilai IPK 3.75. Buyung kecilku sudah dewasa dan pagi ini akan berangkat bekerja. Begitu lulus anakku ditempatkan di Kantor Pajak. Aku hanya tertawa, soalnya pikirku kata orang Medan pajak itu artinya pasar. Aku pikir anakku bekerja di pasar, sudah berangkat sekolah jauh-jauh ke Jakarta masa harus kerja di “pajak alias pasar”. Tapi ternyata Kantor Pelayanan Pajak berada dibawah naungan Kementerian Keuangan. Salah satu tugasnya adalah mengumpulkan penerimaan negara ini yang nantinya akan dikelola untuk membiayai seluruh pembangunan di negara kita, jelas anakku. Tapi masih tumpul untuk otakku yang hanya lulusan SD ini.

Rasanya baru kemarin aku timang-timang dia, baru kemarin kucium wangi bedak bayi di lehernya, dan rasanya baru kemarin kubonceng dia naik sepeda tuaku keliling kampung dan ke Mesjid, tapi sekarang tiba-tiba saja anakku sudah mau jadi orang kantoran, orang berpendidikan.


Medan, 2008

Dua tahun sudah kerjaanku hanya bersepeda dari rumah ke mesjid, kadang kubonceng sebentar istriku untuk berbelanja ke pajak Seikambing. Sudah lama Alfi menawariku untuk membelikan sepeda motor, tapi aku sudah terlalu tua untuk naik motor, cuma sepeda yang bisa aku naiki. Memang sejak Alfi bekerja tak diizinkannya lagi aku berjualan jadi teronggoklah gerobak sate padangku di teras rumah. Paling kerjaanku hanya menggoda istriku saja, menungguinya selesai masak.

Pagi ini tiba-tiba dari arah pintu depan terdengar salam. Siapa ya pikirku bertamu pagi-pagi. Sang tamu memperkenalkan diri sebagai atasannya Alfi di kantor, kupersilahkan atasan Alfi untuk duduk. Darahku berdesir ada apa sampai atasan Alfi ke rumah segala. Setelah sang tamu menjelaskan maksud kedatangannya, aku masih bingung harus berkata apa. Kepala penuh ubanku hanya mengangguk-angguk tak percaya dan tak mengerti. 

“Jadi Pak, total kerugian negara mencapai tiga ratus lima puluh juta rupiah. Saya selaku atasan Alfi juga tidak percaya kalau Alfi berani melakukan hal tersebut. Selama ini saya mengenal Alfi sebagai pribadi yang baik dan santun. Hal ini sedang kami selidiki apakah memang Alfi yang melakukannya atau tidak. Saya hadir disini untuk menjelaskan sekaligus melakukan klarifikasi terhadap gaya hidup Alfi. Biasanya anak-anak menghabiskan uang seperti itu itu berfoya-foya atau hidup bermewah-mewahan” terang Pak Widodo selaku atasan Alfi.

“Maaf Pak, saya berani jamin Alfi tidak terlibat. Bapak lihat saja sendiri kehidupan kami. Rumah kami masih sama seperti saat Alfi kecil cuma sekarang sudah bukan semen kasar lagi tapi sudah diberi tegel saat Alfi sudah bekerja, elektronik yang kami punya cuma tv tua ini yang telah ada sejak Alfi kecil, sepeda motor yang digunakan Alfi juga belinya bekas dari tetangga di dekat sini, punyanya Wak Hasan rumahnya di ujung gang ini bisa dicek sendiri” terangku membela Alfi.

“Sekali lagi maaf pak, soalnya rekan kerjanya melaporkan kepada kami bahwa baru-baru ini Alfi melakukan renovasi rumahnya dan kemungkinan itu dari uang yang saya sebutkan tadi. Dan juga dengar kabar bahwa Bapak pernah masuk Rumah Sakit bulan lalu dan dicurigai Alfi menggelapkan uang tersebut untuk biaya renovasi dan biaya rumah sakit. Saya hadir disini hanya untuk melakukan klarifikasi terhadap pengaduan tersebut” jelas Pak Widodo.

“Saya bersaksi pak, dengan kedua tanganku ini bahwa dari kecil saya menyuapkan Alfi dengan sesuatu yang halal. Kedua tanganku ini dapat bersaksi di hadapan Allah Azza Wa Jalla bahwa saya mendidiknya dengan iman dan selalu mengajarkan dia tentang kejujuran. Mungkin semua orang tua akan berlaku sama untuk membela anaknya, tapi pak sekali lagi kedua tangan dan kakiku ini dapat bersaksi bahwa anakku tak mungkin melakukan hal keji dengan mengambil hak orang lain” panas rasanya mata ini, mungkin mata tuaku ini memang terlalu sedih untuk menampung dan mendengar hal sekeji ini tentang anakku. Biarlah kutunggu kepulangan Alfi saja, biar dari mulutnya kudengar penjelasannya sepahit apapun itu.

Selepas Isya, terdengar suara motor bekasnya. Cepat-cepat kubuka pintu kusambut dia dengan pelukan. “Ada apa sebenarnya Abang?” tanyaku tak sabaran, kulihat wajah lelahnya, diucapkan salam sembari mencium kedua tanganku lama. “Duduklah dulu nak..biar ayah minta Ibumu menyiapkan makan dan minum” aku segera ke dapur mencari istriku.

“Ayah, ada sesuatu hal terjadi di kantor Alfi. Ayah kan tau selama ini Alfi ditugaskan sebagai Bendahara di tempat Alfi bekerja. Tapi ada kejadian tidak mengenakkan terkait uang gaji pegawai, dimana terdapat pajak penghasilan yang seharusnya disetorkan ke kas negara tapi tidak disetorkan selama 5 bulan. Selama ini Alfi mempercayakannya ke rekan Alfi, ke Pembuat Daftar Gaji. Dan saat serah terima dan penyetoran uang tersebut selalu ada berita acara serah terima ke Pembuat Daftar Gaji. Tapi sudah seminggu ini Berita Acara Penyerahan uang tersebut selama 5 bulan tidak ketemu dimanapun. Alfi sudah membongkar seluruh dokumen di ruangan Alfi namun tidak ketemu juga. Do’akan ya yah, hanya itu satu-satunya bukti bahwa Alfi tidak bersalah” jelas anakku. Tentu nak do’aku selalu menyertai setiap langkahmu.

Setelah penantian panjang selama 2 bulan akhirnya kasus anakku terungkap juga. Rekan terdekatnya, si Pembuat Daftar Gaji yang melenyapkan uang tersebut. Dan tanpa rasa bersalah melemparkannya ke wajah anakku. Do’aku agar masalah ini cepat selesai dikabulkan Allah. Alhamdulillah ya Allah bukti Berita Acara Penyerahan uang ditemukan, yang menemukannya adalah Cleaning Service saat membersihkan ruangan kerja anakku dengan posisi kertas telah terkoyak-koyak. Namun Allah berkehendak lain, berkasnya masih bisa disatukan kembali, walaupun berupa serpihan yang diselotip satu persatu. Allahu Akbar....
Sepanjang umur rentaku ini, mudah-mudahan tak pernah sekalipun anakku membawakan kepada kami, kedua orangtuanya sesuatu yang bukan haknya. Semoga engkau selalu menjadi anak yang sholeh anakku, itu do’aku setiap kali ku kayuh sepedaku dari dulu sampai sekarang, selalu do’a itu mengalir untukmu nak. Dan aku bersaksi dengan kedua tanganku ini di hadapanmu duhai Allah Tuhan Semesta Alam, semoga sesuatu yang baik dan halal yang selalu masuk kedalam perut anakku, dan begitu pula ke seluruh anak keturunanku. Amin.
͠͠͠


Bogor, 6 Juni 2017
menunggu detik-detik kelahiran putra keduaku
teriring do’a untuk para Ayah dan Suami yang bekerja keras menafkahi keluarga
juga untuk kedua orang tua kami yang telah bersusah payah mendidik dan membesarkan kami semua, tak terbalas jasamu... 





______________________________________________

Fitria Rizki
Kanwil DJP Jawa Barat III





Ramadhan 1907183905941492476

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan