Loading...

Bekerja dan Niat Memberi Manfaat

(Menabur Benih Gandum Keberkahan) 1. Inspirasi Tulisan       Tulisan ini terinspirasi dua kisah yaitu  Kisah Kakek lanjut Usia dan ...

(Menabur Benih Gandum Keberkahan)

1. Inspirasi Tulisan 

     Tulisan ini terinspirasi dua kisah yaitu  Kisah Kakek lanjut Usia dan Pohon Kurma Kisah Kisah orang Shaleh yang menabur benih gandum berdzikir  ( Novel Al Aidrus;  2011) [1] dengan harapan dapat menginspirasi dan menggelorakan semangat Pegawai Direktorat Jenderal Pajak agar bekerja dengan Niat Karena Ibadah dan visi yang lebih Panjang ke depannya, tidak hanya memenuhi target pekerjaan, mencari nafkah buat keluarga, atau kesuksesan jangka pendek  namun menjalankan tugas sebagai insan  Allah SWT yang mana pekerjaan tersebut harus selalu memberi manfaat dan mewariskan manfaat  dan Barokah bagi generasi Bangsa ke depannya.

     Terdapat sebuah kisah  Suatu hari Anu Syarwan berjalan melewati seorang pria lanjut usia yang sedang menanam pohon kurma.  “Untuk apa engkau menanam pohon kurma sedangkan usiamu sudah cukup tua. Bukankah kemungkinan besar engkau tidak akan menikmati buahnya?”

     “ Orang-orang yang telah meninggal dunia yang menanam kurma dan saat ini kita yang menikmati buahnya, kini akupun menanam pohon kurma ini dengan harapan agar orang-orang sepeninggalku nanti dapat menikmati hasilnya “, jawab lelaki tua itu.

     Kisah lain yang serupa , di sebuah desa di dekat kota Thus tinggallah hamba Allah yang shaleh, Imam Ghazali yang telah tiba dari Kota Thus pun segera mengunjunginya. Menyaksikan kedatangan imam Ghazali, orang shaleh yang sedang menabur benih gandum di kebunnya tersebut serta merta menyambutnya. Salah seorang teman orang saleh itu bermaksud menggantikannya menabur benih gandum sementara dia menemui Imam Ghazali, namun orang Shaleh itu menolak permintaannya. Dalam hati Imam Ghazali bertanya kenapa orang shaleh ini menolak untuk digantikan dan pada suatu waktu ditanyakanlah. Orang Shaleh ini pun menjawab, “ Aku selalu menabur benih gandum ini dengan hati yang khusyuk dan lisan yang berdzikir kepada Allah. Aku berharap agar setiap orang yang memanen gandum ini ini nantinya memperoleh keberkahan. Karena itulah aku tidak menyerahkan benih ini kepada orang lain yang menaburnya dengan hati tidak khusyuk dan lisan yang tidak berdzikir kepada Allah. [2]

     Hikmah dari kedua kisah itu dapat di uraikan bahwa bekerja mencari rezeki yang halal merupakan sebuah perbuatan mulia, hanya ia akan menjadi semakin mulia dan berbobot jika disertai dengan Niat-niat yang mulia. Habib Abdullah bin Alwi Al Hadad dalam sebuah nasehatnya berkata:
Seseorang hendaknya bekerja dengan Niat untuk memberikan manfaat kepada orang lain dan kepada semua yang akan lahir sepeninggalnya kelak. Sesungguhnya sebagian besar orang zaman inipun hidup dengan harta peninggalan orang-orang terdahulu dan tinggal dirumah-rumah mereka. [3]

     Pada kisah kedua terkandung Hikmah bahwa orang-orang terdahulu selalu menanamkan niat baik dalam setiap gerak dan diam mereka. Karena itulah kehidupan orang-orang saleh terdahulu diliputi keberkahan. Lain halnya dengan kita yang hidup dizaman sekarang. Saat ini, jangankan ketika menanam benih, dalam shlalat pun kita sering lupa dan tidak mengingat Allah. Yang teringat adalah dunia; anak, pasangan hidup, pekerjaan, dan berbagai hal yang mewarnai kehidupan.


2. Tugas Di Direktorat Jenderal Pajak itu Mulia

     Saat kita ingin bekerja di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) siang malam kita belajar, berusaha meluangkan waktu berusaha dengan extra kemampuan agar bisa lolos seleksi penerimaan sebagai pegawai dan memang terkenal input hasil test di DJP ini ketat dan ga sembarang orang bisa nembus, namun apa yang terjadi setelah kita masuk dan bekerja di dalamnya kita mulai melupakan hakekat kita bekerja.

     Yang terasa adalah rutinitas keseharian dan segunung tugas keseharian dan target ekonomis mencukupi kebutuhan keluarga dan membahagiakannya. Sering terlewat keinginan untuk memberikan konstribusi yang positif dalam hal tidak hanya capaian kerja terwujud. Hal ini memang Wajar rutinitas keseharian sering menyita waktu kita bahkan pikiran kita pun terbagi antara kewajiban di Kantor dan keluarga.

     Seakan Rasa bersyukur ini perlu kembali ditanamkan dengan merenung kembali, apa sih yang akan kita berikan bagi Negeri ini? Bahkan ketentuan-ketentuan perpajakanpun adalah hasil pemikiran orang-orang sebelum kita bekerja, kita hanya melaksanakan, menjalankan dan mengikuti , dan begitu terus menerus kita melakukannya seolah kita hanya jadi robot di hidup ini. Padahal jika kita di DJP tertanam niat mewariskan yang baik bagi roda perkembangan DJP tentunya organisasi ini akan semakin kuat dan diandalkan Negara untuk menunjang penerimaan Negara. Kita bukan hanya melakukan rutinitas namun selalu memberikan masukan bagi organisasi dengan melakukan pekerjaan yang merupakan amanah yang diberikan pada kita yang mengemban tugas sebagai Aparat Sipil Negara di DJP dengan jujur, amanah dan Profesional.

Sebagaimana pada Alquran disebutkan Surat Luqman ayat 12

31:12

:“Sesungguhnya Kami telah memberikan hikmah kepada Lukman, yaitu nikmat syukur kepada Allah. Barang siapa yang bersyukur kepada Allah maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang tidak bersyukur maka Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” 

    Intinya setelah kita “KLIk” dengan tombol Syukur telah tergabung di dalam organisasi DJP selebihnya kita harus memberi manfaat bagi sesama. Parameter bermanfaat bukan hanya jangka pendek namun mampu menembus batas waktu “ The Future” hasil kerja kita masih dirasakan bahkan sampai kita tiada menjadi suatu amal jariyah kebaikan. Rasa bersyukur ini akan kembali kepada kita sebagai pegawai DJP yang mampu memberikan konstribusi yang pada Negara sehingga menjadikan Organisasi ini Kuat dan Solid, dan jika kebalikannya kita bekerja sekedarnya saja untuk memenuhi kewajiban, tanpa ada inovasi baru dan mengikuti perkembangan yang ada maka selain organisasi yang rugi juga diri kita sebagai bagian DJP tentulah terkena imbas penilaian pihak luar yang kurang baik dalam memegang amanah.

    Dalam memberikan manfaat kita harus berpikir secara komprehensif, dalam hal hasil pekerjaan kita akan sangat mendukung geliat pendanaan negeri dalam Pembangunan Sarana dan prasarana, infrastruktur, fasilitas-fasilitas umum , dan Persenjataan Tentara dan Gaji Pegawai Negara. Dengan Pajak geliat perkembangan negara akan dapat didanai oleh bangsa kita sendiri. Yang terpikir oleh Aparat DJP adalah kemajuan bangsa lewat penghimpunan Dana. Hal ini bukanlah kerja biasa namun mulia. Oleh karena itu tugas kita harus dilakukan dengan amanah dan hasilnya tetap selalu bermanfaat bagi kehidupan anak bangsa di masa mendatang. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain

    Manfaat pekerjaan ini tentunya kita Niatkan untuk beribadah pada Allah SWT tidak semata-mata rutinitas bekerja, juga Keberkahan pekerjaan ini tentunya diiringi dengan berdoa dan menyerahkan segala sesuatunya pada Allah SWT. Mind set bahwa Allah SWT mengawasi kita dan kelak akan meminta tanggung jawab harus tertanam kuat di benak kita. Karena kita sebenarnya bekerja untuk Allah SWT dan Tawakal atas apapun pada Nya, sembari tetap memperbaiki ikhtiar. Spiritual dan religus terlihat perbedaannya disini, religius hanya terpacu pada rutinitas agama semata namun spiritual selalu mengedepankan tanggung jawab, akhlak yang baik dan kejujuran dalam bekerja sehingga dapat dihindari korupsi dalam arti sempit yaitu korupsi waktu dan korupsi dalam arti luas yaitu penyalahgunaan wewenang yang menguntung diri sendiri dan orang lain tentunya.

    Dalam bekerja selalu kita berdoa, berpikiran baik dan selalu ingat Allah SWT dengan rutin membaca Kitab suci Alqur’an, membaca Hadist, mengamalkan yang kita baca tersebut, mendengar nasehat ulama, berdzikir, bershalawat dan sebagainya. Juga menjauhi bergunjing, berlaku tidak jujur, berkonflik dan tidak menjalankan tugas yang diberikan dengan baik. Agar ada Barokah pekerjaan kita, selain itu ada Keberkahan secara luas di organisasi DJP jika kita selalu mengingat Allah SWT. Karena pada dasarnya setiap perbuatan maka akan kembali kepada orang yang berbuat. Seperti kita Memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri dan juga sebaliknya. Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman:

Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7)

    Mengutip pernyataan Mantan Menteri Keuangan Indonesia, Agus Martowardoyo, pernah mengungkapkan bahwa tugas pegawai pajak itu mulia karena mereka harus mengejar pendapatan negara yang akan dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Ungkapan tersebut memang benar, tugas pegawai pajak itu mulia. Namun akan lebih baik lagi apabila tugas tersebut dilakukan dengan akhlak dan perilaku mulia pula. Hal penting itulah yang harus diperhatikan oleh semua pegawai pajak demi terciptanya kinerja yang baik dan pulihnya nama baik DJP

    Dan tentunya tugas ini akan dirasakan terus hasilnya oleh generasi mendatang dan tentunya kedisiplinan dan kerja yang amanah yang kita wariskan sebagai budaya organisasi DJP, jika diteruskan oleh penerus DJP dimasa mendatang tentunya akan menjadi suatu amal jariyah yang akan mengalir terus kepada kita yang memberikan contoh pada generasi muda, agar memiliki etos kerja yang selalu merasa amanah. Kelak semua akan dimintai pertanggungjawaban oleh  Allah SWT dan tentunya tiada setitikpun akan lolos dari pandangan Allah.

    Tentunya hal ini tidak dilakukan serta merta namun membutuhkan tekad kuat dari semua insan yang ada di DJP, yang di atas selalu memberikan motivasi dan teladan baik. Demikian pula yang dibawah harus senantiasa disiplin menjalankan perintah atasan sesuai dengan ketentuan yang ada. Tekad ini harus dimulai dulu dari Diri Sendiri, Dari Hak yang Kecil dan dimulai dari sekarang sebagaimana sering kita dengar Tausiyah KH. Abdullah Gymnastiar. Dan menjadikan Allah  sebagai tempat Tawakal artinya kita sadar bahwa pekerjaan kita akan dimintai pertanggung jawaban kelak, dan apakah bermanfaat ataukah hanya meninggalkan warisan keburukan bagi generasi mendatang, semoga Allah selalu memberikan kita pertolongan. Aamiin.




[1] Ustad Naufal Al aidrus, Akhlak Para Wali –Kisah-Kisah Yang Menggetarkan Jiwa Sepanjang Masa,Penerbit Taman Ilmu Solo, 2011 hal 48-49 dan hal 125-126
[2] Ta’riful Ahya Bifadhailil ihya, Darul Fikr, Beirut, Juz 1 hal 172
[3] Habib Ahmad bin Hasan bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad bin Ahmad Al Hadad, Tatsbitul Fuad, Juz 1 hal 110-111

______________________________________

Eko Bayu Aji
KPP Pratama Mojokerto






Khasanah 2211321819341797076

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan