Loading...

Ada Istimewa Dibalik Mutasi

Bagi petugas pajak seperti saya, mutasi ke kantor baru adalah hal yang sudah biasa. Karena itu bagian dari akad dengan Negara yang harus di...

Bagi petugas pajak seperti saya, mutasi ke kantor baru adalah hal yang sudah biasa. Karena itu bagian dari akad dengan Negara yang harus ditunaikan. Sejak penempatan pertama tahun 2001, sudah enam kali saya pindah-pindah kantor. Walau mutasi itu terasa sudah biasa, tapi selalu saja ada cerita-cerita istimewa di balik perjalanan mutasi itu. Apa itu? Cerita tentang kenangan yang tidak selalu ada hubungannya dengan pekerjaan. Bagi saya, cerita-cerita itu adalah sesuatu yang istimewa.

Sudah satu tahun ini saya bekerja di KPP Madya Jakarta Pusat. Akhir bulan April, satu bulan yang lalu, saya menerima sepucuk surat yang dikirim melalui layanan kilat swasta. Suratnya tipis dan amplopnya berwarna-warni berukuran 15cmx10cm, didominasi warna merah muda. Suratnya langsung ditujukan ke saya. Tidak biasa? Ya. Selama berkantor di Jalan M.I. Ridwan Rais, baru kali ini saya menerima surat pribadi seperti itu. Saya buka, saya baca, saya pun kaget, heran dan ada sedikit tebersit rasa senang.

Astaghfirullah, ini surat cinta. Surat lamaran! Ya, lamaran, gila bukan. Intinya, ini permintaan serius dari seseorang agar saya mau menjadikannya pasangan hidup. Ia memang sudah aku kenal baik, inisialnya CC. Saya sering bekerja sama dengan orang tuanya. Parasnya cantik, punya jabatan cukup tinggi, dan tentu saja berduit.  Pokoknya,  ia idaman banyak lelaki. Bahkan banyak wanita tak segan untuk menjadikan temannya. Ooh bagaimana ini? Pikir saya.

Saya mencoba menganalisa kenapa dia mau melamar saya.  Padahal seharusnya kan saya yang melamar dia. Tapi tidak juga ketemu alasannya. Memang saya ini laki-laki seperti apa dalam pandangannya. Saldo tabungan minim, rumah belum selesai, anak banyak, kaya juga tidak, ke kantor naik motor, dan cuma PNS lagi. Apa karena saya ganteng ya. Ahhh, tidak tahu saya.

Sorenya, saya pulang kantor seperti biasa. Saya bawa pulang surat itu dengan pikiran yang masih bingung. Terima apa tidak. Abaikan atau selesaikan. Ceritakan ke istri atau diam saja. Malamnya, saya tidak kuasa untuk tidak berterus terang kepada istri. Saya ceritakan apa adanya, tidak ada yang dilebihkan dan juga dikurangkan. Apa tanggapan istri saya? Ia hanya tersenyum dan tidak berkata banyak. Dia cuma bilang kalau saya mampu menyelesaikan persoalan ini dengan bijak. Ooh bagaimana ini? Pikir saya lagi.

Besoknya, saya berangkat ke kantor, naik motor seperti biasanya. Saya bawa lagi surat itu baik-baik. Saya bertekad untuk memberi keputusan hari itu. Saya ingat pesan ustadz saya, hidup adalah pilihan dan kita harus memilih. Setelah mempertimbangkan semua kemungkinan. Manfaat dan mudharatnya. Akhirnya keputusan saya mantap. Saat jam istirahat siang, saya datangi salah satu kediaman orang tuanya yang memang tidak jauh dari kantor. Persis di seberang kantor. 

Saya diterima dengan baik, kebetulan rumahnya sepi sedang tidak ada tamu. Tanpa basa basi. Saya sampaikan kepada mereka, saya tidak bisa menerima lamaran ini. Saya kembalikan surat ini dan mohon tidak mengirimi saya lagi surat seperti ini. Mereka tentu bertanya, mengapa menolak, bukankah ini rezeki yang tidak perlu susah payah untuk memperolehnya. Tinggal jawab iya, kamu sudah bisa memilikinya. Namun bagi saya, ini keputusan yang tidak bisa ditawar.

Saya tidak bisa meng-qabul-kan ijabnya. Ia mungkin halal, tapi buat apa kalau akhirnya bisa menjerumuskan pada yang haram. Gak bisa. Walau cantik, kaya, punya kuasa, jadi rebutan, saya lebih baik menolaknya. Saya lebih memilih setia pada yang sudah dimiliki. Alhamdulillah, lega rasanya. Hari itu saya kembali ke kantor dengan harapan optimis, semua lelaki yang dilamarnya akan bersikap sama dengan saya. Dilamar saja gak mau, apalagi melamarnya. Itulah pelajaran istimewa saya di kantor ini.

Satu setengah tahun sebelum cerita itu, saya masih berada di lingkungan Direktorat Peraturan Perpajakan I, sebagai pelaksana Seksi PPN Industri III. Satu waktu, seksi kami dapat giliran mengisi acara rapat pembinaan 1b. Agenda rutin setiap hari jumat pagi di lantai 9 gedung utama, tempat kami bekerja. Singkat cerita. Praktek bekam jadi pilihan acara. Kami undang terapis bekam yang kebetulan teman dan memang ahli di bidangnya. Terus siapa  modelnya? Siapa yang mau dibekam di depan kolega sekantor? Tanpa ragu. Tanpa malu. Kepala seksi saya langsung aksi. “Saya siap”, ujarnya. Sontak, gemuruh terjadi. Ibu-ibu terutama. Karena bekam harus buka baju. Biasanya bagian punggung harus dibuka karena akan dikeluarkan darah kotornya. Entah apa perasaan beliau saat itu. Mungkin agak malu juga sebenarnya. Akhir cerita. Acara sangat sukses. Apresiasi dan applaus teman-teman cukup mewakili. Berkat keberanian dan kenekatan beliau menjadi modelnya. Kami anak buahnya sepakat. Bangga punya pimpinan seperti beliau.

Mundur lagi sekitar sembilan tahun ke belakang. Pada medio Juli tahun 2008, saya memula tinggal di Jawa Timur. Lebih tepatnya di kota Malang. Bukan murni ingin pindah domisili, namun karena memang mutasi pekerjaan yang mengharuskannya. Singkat cerita. Saya pun 'jatuh cinta' pada Malang. Kotanya tenang. Udaranya sejuk. Kulinernya mantap. Orangnya ramah. Teman kerjanya asyik. Walau hidup bukan di 'home base' tapi serasa di kampung sendiri. Hingga akhirnya dapat lagi SK mutasi. Tak terasa dua tahun sudah bekerja di KPP Malang Selatan.

Ada juga satu kenangan yang tak terlupakan di kantor itu. Walau kami berbeda asal. Berbeda suku. Berbeda bahasa. Tetapi di tempat kerja, kami sepakat. Kami adalah 'kera' (arek; orang) Jawa Timur. 'Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung', mungkin itu peribahasanya. Karenanya, kami tidak segan tuk saling memanggil 'cak' sebelum menyebut nama. Dan saya yang orang sunda asli pun, harus ikhlas dipanggil 'Cak Ipin'. Hingga kini.

Jakarta, 2 Juni 2017

Catatan:
Inisial CC di cerita pertama adalah Credit Card (Kartu Kredit), salah satu bank BUMN (bukan nama orang).



__________________________________________

Pipin Zaenal Aripin
KPP Madya Jakarta Pusat





Pipin Zaenal Aripin 3380396910747526672

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan