Loading...

Katakan Tidak untuk Tidak !

Dewasa ini, setidaknya dari apa yang saya perhatikan langsung dalam pergaulan sehari-hari, kurangnya aktivis-aktivis dakwah yang melaku...


Dewasa ini, setidaknya dari apa yang saya perhatikan langsung dalam pergaulan sehari-hari, kurangnya aktivis-aktivis dakwah yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Bukan karena mereka tidak ingin berdakwah, melainkan karena mereka merasa tidak dianggap, seperti diabaikan atau dikucilkan ketika mereka akan menasehati teman-temannya. 

---Nggak usah sok alim deh… Nggak usah gila urusan… It’s my life, not yours--- tak jarang kita mendengar kalimat-kalimat tersebut ketika kita menasehati mereka. Hal yang seperti itulah yang kadang membuat para aktivis dakwah merasa ragu, takut bahkan malas untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.

Menurut saya ini merupakan hal yang tidak bisa diteruskan. Para aktivis dakwah harusnya tetap bersemangat dalam menyiarkan agama Islam dan tidak pernah merasa jenuh. Mungkin kita sering berfikir, sudah banyak sekali cara kita untuk menyadarkan seseorang yang kita cintai, untuk merubah sifat seseorang yang sangat disayangi. Akan tetapi, segala cara dan upaya kita, ternyata tidak mampu untuk merubahnya menjadi seseorang yang baik. Sebenarnya apa yang salah dengan upaya kita, bagaimanakah caranya agar kita dapat merubah seseorang?

Mengenai hal ini, perlu kita ketahui, bahwa yang salah bukanlah cara kita untuk mendakwahkannya, bukan pula dari materi yang kita sampaikan. Dalam hal ini memang tidak ada yang salah, namun ada yang kurang. Yah, apalagi kalau bukan hidayah atau petunjuk dari Allah. Hidayah atau petunjuk hanyalah milik Allah, bagaimana pun upaya kita untuk merubah seseorang, bagaimana pun kerja keras kita untuk menyadarkan seseorang, maka itu tidak ada artinya jika Allah tidak menghendaki hidayah kepadanya, orang tersebut tidak akan berubah sampai Allah memberikannya hidayah. Bahkan, para nabi dan rasul pun tidak mampu memberikan hidayah atau petunjuk kepada orang yang mereka kasihi. Sebagaimana halnya nabi Nuh alaihissalam yang tidak bisa memberikan hidayah kepada anaknya, atau nabi Ibrahim alaihissalam kepada ayahnya. Begitu pula halnya dengan nabi Muhammad shallalahu alahi wassallam yang tidak mampu menyadarkan pamannya untuk mengucapkan kalimat tauhid, meskipun pamannya telah membantunya dalam penyebaran kalimat “la ilaha ilallah” itu sendiri.

Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56).

---Nabi dan rasul aja gak bisa apa-apa, apalagi kita !!!. Kalau seperti itu, kita gak usah repot-repot berdakwah. Toh, hidayah kan datangnya dari Allah--- Bukan begitu pola pikirnya, kita memang tidak bisa memberikan hidayah kepada seseorang, tapi kita dapat menjadi sebab seseorang itu mendapat hidayah dari Allah. Sekarang pertanyaannya, apakah nabi Nuh alahissalam berhenti berdakwah setelah ia tidak mampu menyelamatkan anaknya dari kesyirikan ?. Apakah nabi Ibrahim alaihissalam berhenti menyiarkan agama Allah ketika ayahnya mengabaikan peringatan yang disampaikan kepadanya ?. Apakah nabi Muhammad shallalahu alaihi wasallam berhenti menyerukan kalimat tauhid ketika pamannya menolak untuk megucapkannya ?. Jawaban Tidak ! Tidak ! dan Tidak !. Nabi Nuh alaihissalam tetap berdakwah walaupun anaknya tidak menerima nasehatnya, bahkan dalam sejarah dijelaskan bahwa nabi Nuh alaihissalam berdakwah selama 950 tahun lamanya, dan hanya memiliki kurang lebih 80 pengikut saja. Nabi Ibrahim alaihissalam tetap menyiarkan agama Allah meskipun ayahnya menolak peringatan yang disampaikannya, bahkan nabi Ibrahim alahissalam menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya pada saat itu dan hanya menyisakan berhala yang paling besar. Nabi Muhammad shallalahu alaihi wasallam pun tidak berhenti menyerukan kalimat tauhid, walaupun beliau tidak bisa membuat pamannya mengucapkan kalimat tauhid itu. Karena memang tak ada seorangpun yang bisa memberi hidayah atau petunjuk kepada siapapun kecuali dengan izin Allah.

Maka dari itu kita harus tetap bersemangat dalam melakukan kegiatan dakwah ini. Ingat ! semua orang bisa melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, bahkan setiap muslim diwajibkan untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Dalam hal mengajak kepada kebaikan tidak dituntut seseorang untuk menjadi ustazd atau ulama terlebih dahulu. Dakwah juga tidak harus menunggu kesempatan-kesempatan formal seperti majelis taklim, pengajian-pengajian maupun kesempatan sejenis. Tetapi, harus menjadi bagian dari kehidupan yang menyatu dengan keseharian seseorang muslim, baik dirumah, di kantor, pasar dan dimanapun selalu terbuka lahan untuk berdakwah. Dakwah juga tidak selalu harus berceramah seperti para da’i dan ustazd. Dakwah dapat disampaikan dengan cara yang sederhana dalam obrolan dengan teman, cengkrama dengan keluarga, sms, wa, facebook dan lain-lain.

Dakwah juga tidak harus menunggu seseorang menjadi baik terlebih dahulu. Lakukan dakwah bersamaan dengan proses perbaikan diri. Jika harus menunggu baik dulu, kapan dakwahnya? Bahkan jika sudah menjadi baik pun, belum tentu Allah memberi kesempatan untuk melakukan dakwah kan?. Bukankah dakwah merupakan upaya perbaikan diri. Mengapa begitu? Karena ketika kita menyeru orang lain kepada kebaikan, secara otomatis akan ada dorongan atau tuntutan untuk melakukan kebaikan terlebih dahulu sebelum menyerukan kebaikan kepada orang lain. Kita berbuat kebaikan dan mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan. Jika hal ini sudah menjadi kebiasaan yang kita lakukan, bukankah dengan ini dakwah bisa disebut upaya perbaikan diri?

Hasan Al-Bashri berkata, “Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya.”

---Saya tidak pantas berdakwah, karena sudah punya banyak dosa--- Jangan sampai alasan kita banyak dosa untuk tidak berdakwah, karena Allah mengingatkan bahwa manusia pasti melakukan dosa, Allah berfirman, “Sekiranya bukan karena karunia dan belas kasih Allah kepada kalian, selamanya tidak seorang pun di antara kalian bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu). Hanya Allah yang dapat membersihkan hati orang yang dihendaki-Nya dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu.Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui setiap perbuatan kalian.” (QS. An-Nuur : 21)

Setiap kita pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat. Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalau sekiranya kamu tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kamu. Kemudian Allah akan mendatangkan kaum selain kamu. Mereka berbuat dosa dan mereka meminta ampun kepda Allah, lalu Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim)

Maka jangan sampai kita berhenti beramar ma’ruf nahi munkar dengan alasan kita adalah seorang pendosa. Dalam kitab Talbis Al-Iblis, Ibnu Jauzi mengatakan, “Sungguh Iblis telah berhasil membujuk rayu sebagian ahli ibadah. Dia melihat kemungkaran. Lalu orang tadi berkata, “Yang mencegah kemungkaran dan yang menyuruh kebaikan adalah orang yang sudah bagus dan baik. Semantara saya belum baik betul, bagaimana mungkin saya menyuruh orang lain?” Hal ini adalah sebuah kesalahan, karena dia seharusnya mencegah kemungkaran dan menyuruh kepada kebaikan.”
Ibnu Taimiyyah dalam kita Al-Fatawa berwasiat, “Seorang hamba pasti melakukan kesalahan dan dosa adalah sebuah kemestian yang ada pada seorang hamba. Namun dia harus meminta ampun kepada Allah, sehingga seseorang tidak beralasan untuk tidak melakukan kebaikan hanya karena ia telah berdosa.”

Dari apa yang saya paparkan diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa tidak sepatutnya para aktivis dakwah berhenti dari kegiatan amar ma’ruf nahi mungkar hanya karena apa yang mereka sampaikan tidak dilakukan oleh mereka yang mendengarnya, karena sekali lagi hidayah itu hanya berasal dari Allah dan didapatkan atas izin-Nya. Maka dari itu kita harus tetap bersemangat dan berlomba-lomba dalam menyiarkan agama Islam ini. Allah berfirman, ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).



__________________________________
Heru Sidik Ibrahim
KPP Pratama Majene





Heru Sidik Ibrahim 2882330059257117176

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan