Loading...

Khianat Cinta

“Mas, nanti makan malamnya dimana?”  “Kalau bisa, kita nyari tempat yang agak tinggi aja, biar dapat view bagus!” Dua kalimat tanya...

“Mas, nanti makan malamnya dimana?” 

“Kalau bisa, kita nyari tempat yang agak tinggi aja, biar dapat view bagus!”

Dua kalimat tanya  tersebut saling berebut muncul di layar 4 inci gawai milikku ini. Pesan melalui sebuah aplikasi WhatsApp ini sebenarnya biasa saja. Hanya membahas masalah makan malam. Oh ..tapi jangan salah, pesan ini bagiku adalah sebuah pesan yang cukup istimewa.Kalian tahu maksudku kan?

“Ok, nanti saya coba cari-cari dulu!” Balasku , tak lupa menyertakan emoticon hati berwarna merah. Pesan itu masih tercentang dua, belum berubah menjadi warna biru, pertanda pesan ini belum di baca olehnya. 

Hatiku berdegup kencang. Sebuah rasa itu muncul layaknya seorang ABG SMA yang sedang kasmaran.

Ah, padahal aku sudah lama mengenalnya. Memang baru setahun ini diriku mulai akrab dengan wanita yang suka memakai jilbab modis ini. Ditambah lagi, wajah imutnya yang selalu menghiasi banner selamat datang di kantor kami, semakin mengukuhkan dirinya sebagai salah satu wanita yang eye catching.

Anita ini orangnya manja. Pernah saya ke ruangannya, menyampaikan surat dari divisi saya, eh dirinya malah mencubit-cubit lengan saya. Karakternya yang lucu, dan suka menyapa kepada siapa saja membuatnya cukup supel dan mudah diterima dimana saja.

“Jadi di Restoran Maribeth ya Mas?” tanyanya melalui telepon, ingin meyakinkan pesan WA yang sejaman lalu aku kirim.

“Iya, disana kan termasuk restoran yang halal. Selain itu makanannya juga enak. Untuk view nya, gak kalah lah sama Restoran Adele yang terkenal itu” Jelasku

“Oke, kalau gitu lepas solat magrib di kantor, kita berangkat ya!” Dia mengakhiri telepon dengan girang.

Aku sih mengiyakan saja dengan perasaan yang tentu saja bahagia.

Kalau hari ini jadi, ini adalah makan malam yang kesekian kalinya aku dengan Anita. Ya, saking seringnya kami makan malam seperti ini, aku lupa ini adalah makan malam yang keberapa kalinya.

“Ding----dong……ding….dong……kukuruyuk……”

Alarm dari gawai yang kubeli setahun yang lalu ini langsung kumatikan. 

“Sudah jam 3 pagi rupanya” gumamku. Aku langsung beringsut dari kasur dengan sedikit malas. Segera aku ke kamar mandi untuk menunaikan hajatku, yakni untuk buang air, gosok gigi dan berwudhu.

Selesai dengan semua aktivitas itu, segera kugelar sajadah dan menunaikan shalat malam. Tanpa bermaksud riya dan menyombongkan diri, aku sudah terbiasa rutin Shalat Tahajud sejak bergabung dengan kegiatan rohis di kampusku dulu. Kampus yang terletak di Ibukota Provinsi Jawa Barat tersebut menautkanku pada kegiatan mesjid saat itu. Hingga, aku lupa bagaimana awalnya, yang pasti aku aktif di segala kegiatan rohis. Tetapi yang paling aku ingat adalah saat itu aku pernah menjadi penanggung jawab kegiatan mentoring disana.

“Dret…dret…..dret” bunyi getar gawaiku membuyarkan konsentrasi di rakaat teakhir witirku
.
Usai salam, langsung kuraih benda kotak itu dari atas kasur. Banyak nya pemberitahuan baru, dari aplikasi WA membuatnya kinerjanya lemot akhir-akhir ini. Mungkin kapasitas RAM nya yang tidak begitu mumpuni ditambah dengan banyaknya aplikasi yang ku unduh dari Playstore turut andil membuat performanya menurun.

Kubuka pesan itu satu persatu. Tentu saja yang paling spesial adalah pesan dari Anita. Lucuk begitu aku memberikan nama pada kontak profil dirinya di gawai ini. Kata ini tentu saja sengaja kulabelkan pada dirinya yang memang lucu.

“Wah, panjang sekali chat dari wanita penyuka sate Madura ini. 30 pesan belum terbaca. 

Kukernyitkan dahi saat membaca pesan-pesannya. 

“Mas, kemarin pas pulang dari kantor, mas Bara menegurku. Katanya aku pulang malam terus!”

“Padahal sudah kujelaskan, bahwa  hari-hari ini banyak lembur kantor” tulis Anita.

“Mas Bara kayaknya dah kesel banget deh. Ngurusin anaklah dan sebagainya” lanjutnya.

“Kayaknya saya sudah gak nyaman kalau kayak gini terus….” 

“Deg!” dadaku berdegup kencang. 

Kucoba mengulangi lagi membacanya pada bagian ini. Kuatur sedemikian rupa dudukku diatas kasur ini agar nyaman.

Kulanjutkan membaca pesannya hingga habis. Pada bagian akhir pesan itu, Anita berkata “Mas Bara minta saya jujur, apakah saya punya pujaan hati yang lain?”

Setelah itu, tak ada pesan lagi.

Kemudian aku merenung. Kali ini agak lama.

“Bara….., kurang apa dia. Sebagai lulusan Akpol 1997 dan terkenal taat beribadah, harusnya Anita bangga bersuamikan dia” pikirku. 

Tapi, anehnya, di sudut hatiku, terselip rasa senang.

Gawai yang sedang kupegang hampir saja terjatuh ketika tiba-tiba dari layar 4 inci itu keluar gambar wanita berjilbab putih. Incoming Call…..tulisan itu berkedip kedip bergantian dengan bunyi ringtone nasyid Suara Persaudaraan yang mendayu-dayu. Memang dari dulu aku penggemar nasyid. Berpuluh-puluh kaset dan CD nya sudah kukoleksi. Favoritku adalah, tentu saja Nasyid Suara Persaudaraan.

“Udah sayang,barusan aja abi selesai witir!” Jawabku mencoba menjawab pertanyaan  dari suara diujung telepon itu.

“Oke bi, jangan lupa sarapan ya nanti!”

 Oiya bi, kemarin Mas Hasan juara adzan, seneng banget dia bi dapat hadiah buku dari Bu Enok”

Wah Mas Hasan pinter ya Mi, pasti pinternya kayak Abinya, hihi!” canda saya.

“Waalaikumsalam sayang!” tutup saya mengakhiri telepon dari Nadia yang berlangsung sekitar lima belas menit itu. 

“Ah, istri yang saleha. Entah mengapa aku mengkhianatimu….!” Lirih batinku.

Kulemparkan benda persegi itu begitu saja keatas bantal. 


******

“Jadi gimana suamimu Nit?” tanyaku saat di dalam mobil. 

“Dia sepertinya curiga deh mas!” Jawabnya sambil sejurus matanya menatap jalanan di depan. 

“Kita kayaknya terlalu jauh deh mas. Mas Bara tuh orangnya baik dan soleh!” Anita mulai mengelap sudut matanya dengan tisu. “Tapi, terus terang aku gak bisa ngelupain kamu Mas!” Anita sesenggukan. 

Aku hanya terdiam. Dada ini seperti mau pecah. Ada semacam energy dahsyat yang hendak keluar dari dalam dirinya. Tapi aku tetap diam.


****

Kucoba memejamkan mata dan mengingat-ingat saat-saat indah taaruf  dengan seorang wanita yang kini menjadi istriku itu. Nadia tampak anggun saat itu. Menunduk terus saat prosesi taaruf itu berlangsung. Sikap nya yang demikian semakin membuatku ingin cepat-cepat meminangnya saat itu.
Sepuluh tahun sudah, istriku yang berasal dari Sukabumi itu telah melahirkan dua orang anak yang lucu. Mas Hasan yang umurnya 5 tahun kini sudah sekolah di TK Islam disana. Sedangkan adiknya, Asma, masih berusia 3 tahun. Sungguh karunia yang sangat berharga. Tapi aku, ternyata lelaki yang busuk!

Memang kuakui, Nadia adalah istri yang tangguh. Bagaimana tidak tangguh, sejak mengandung mas Hasan dulu kita sudah berpisah dan harus rela bertemu sebulan sekali. Aku yang di mutasi ke Kalimantan, saat itu harus rela meninggalkan permata hatiku di Sukabumi bersama orang tuanya. Orang tua yang sudah lanjutlah yang menjadi alasan kami harus menjalani hubungan Long Distance Relationship ini.

Sekarang, meskipun aku sudah dimutasi ke Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur, istriku memilih tidak ikut dengan aku. Saat itu alasannya adalah orang tuanya sering sakit, dan sebagai anak semata wayang tak sampai hati kalau harus meninggalkannya. Meskipun dengan berat hati dan kita sudah pake analisis SWOT segala untuk mengambil keputusan, toh akhirnya tetap saja harus LDR.

Ini merupakan tahun kedua aku berada di Jawa Timur, tepatnya di kota yang terkenal dengan sotonya. Kota Lamongan 

Tak terasa, bulir bening-hangat, keluar melalui sudut mataku.

“Maafkan abi, Umi!” kataku pelan. Segera kuambil air wudhu dan menggelar sajadah. Belum juga takbiratul ihram, aku sudah sesenggukan. Selama salat malam itu, tak henti-hentinya ku kutuki diriku sendiri. Selepas witir, tangisku pecah. “ Ya Allah kenapa bisa aku jatuh hati dengan perempuan lain?” 

“Ya Allah, kenapa aku tega dengan istri dan anak-anakku? Astaghirullah” Untaian doa tak henti-hentinya aku lantunkan. “ Sungguh Ya Allah, masih ada cinta bersemayam untuk Anita, Kaulah penguasa hati, berikan yang terbaik buatku dan keluargaku Ya Rabb!”


********** 

Kantor siang ini, terasa sejuk. Selain AC nya sudah semua diservis, ditambah lagi hujan yang tak terlalu besar di luar sana semakin menambah kesyahduan suasana. Ku tatap kaca jendela dari dalam ruanganku. Air hujan tampak membasahi permukaanya, meluncur perlahan, dan membentuk garis-garis panjang berderet. Sementara langit di luar sana masih tampak bermuram durja, pertanda hujan ini belum akan segera selesai. Bayangan wajah manis Nadia tiba-tiba muncul dari balik kaca. “Nit, kita tobat ya,setelah ini kita hanyalah rekan kerja biasa saja!” Teks yang sudah kupersiapkan sejak semalam ini segera kukirim ke Anita. Singkat dan jelas. Tak bertele-tele. Kupandangi kembali hujan di luar sana. 

“Ah, rasa-rasanya aku mulai rindu suasana seperti dulu. Saat aku dipanggil akhi. Saat aku rutin ikut kajian mingguan. Ah indah sekali rasanya ada yang mengingatkan!” Gumamku.

Mataku sembab,aku merasa selama ini sudah tidak butuh yang namanya kajian atau apalah itu namanya. “Kan bisa googling materi pengajian mah!” Pembelaanku saat itu. Lamat-lamat bayangan kajian di Masjid Salman, kampusku dulu hadir dihadapanku. Lengkap dengan ustad dan kawan-kawanku yang aku panggil akhi itu. Ustad yang teduh itu tengah membacakan Al-Qur`an dengan sangat indahnya, dan mentadaburinya. Ayat yang kemudian menjadi akrab saat ini “dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek” (QS Al Isra : 32).

Mataku kembali meleleh……





___________________________

Umbar Aprianto
Kanwil DJP Jawa Barat I





Umbar Aprianto 8225165148450121135

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan