Loading...

Sahabat Dunia Akhirat

Model sahabat atau kawan seperti apakah yang kita idolakan? Apakah yang suka membiarkan kita saat berbuat salah? Ataukah yang suka menginga...

Model sahabat atau kawan seperti apakah yang kita idolakan? Apakah yang suka membiarkan kita saat berbuat salah? Ataukah yang suka mengingatkan kalau kita terlambat sholat berjamaah? Atau ada pertimbangan lainnya. Bagaimanapun, kita harus cermat dan waspada terhadap pengaruh seorang sahabat. Pertimbangan utamanya adalah kecenderungannya pada masalah keimanan.

Abu jahal adalah salah seorang pemimpin kaum kafir. Ia sangat ingkar hingga hampir tidak ada setitik harapan sama sekali untuk masuk islam. Namun demikian dia mempunyai seorang teman yang sangat dicintai yang bernama Uqbah bin Abu Mu’ith. Hubungan keduanya terjalin sedemikian akrab. Hanya saja, kepribadian Uqbah lebih baik daripada Abu Jahal. Ia masih bisa diharapkan untuk menerima dakwah dari Nabi Muhammad SAW. Bahkan sudah ada kemajuan, dia mulai memberikan salam, sering mendatangi Nabi Muhammad dan mau mendengarkan ucapan beliau. Lebih dari itu hatinya mulai tergugah dàn tergerak. 

Suatu ketika Abu Jahal melakukan perjalanan jauh keluar kota. Uqbah menjumpai Nabi Muhammad SAW dan beliau menawarkan Islam kepadanya. Uqbah pun menjawab “Ya Nabi, tapi tunggu sampai esok pagi”. Tidak lama kemudian dia pulang dan ternyata malah berjumpa dengan Abu Jahal yang baru datang dari perjalanan jauh. Uqbah lalu berkata, “Sahabatku, besok aku ingin pergi kepada Muhammad untuk masuk islam.” 

Mendengar berita langsung seperti itu Abu Jahal balik berkata, demi persahabatan antara diriku dan dirimu, hendaklah kamu hari ini kembali kepada Muhammad dan meludàhi wajahnya. Pembaca, setelah nyaris akan rnengucapkan syahadat dan mencium tangan Rasulullah SAW, sahabatnya justru mendorongnya untuk melakukan yang sebaliknya. Abu Jahal memberi pilihan, agamamu atau sahabatmu?

Apa yang terjadi akhirnya sangat disayangkan. Seperti yang dilakukan sejumlah orang, Uqbah lebih memilih sahabatnya, Abu Jahal. Pada perkembangannya, dia malah menjadi orang yang paling menyakiti Rosulullah SAW. Tidak ada orang yang berani melawàn atau menghina Nabi Muhammad separah yang dilakukan Uqbah.

Amr Khaled dalam Buku Pintar Akhlak menuliskan bahwa suatu ketika Nabi sedang sholat di dekat Ka’bah. Uqbah segerà melepaskan surbannya dan selanjutnya melilitkannyà ke leher Nabi. Ya, dia mencekik Nabi Muhammad dengan sangat kuat hingga Nabi terjatuh, beruntung akhirnya Nabi tidak luka parah saat itu.

Pada lain kesempatan, Nabi akhir zaman itu sedang bersujud di depan Kà’bah, tiba-tiba Uqbah membawa usus bangkai unta dan melemparkannya ke atas punggung Nabi. Beliau baru bisa berdiri ketika putrinya, Zainab, datang dan menyingkirkan kotoran tersebuat dari punggung insan mulia itu. Sosok Uqbah akhirnya meninggal pada perang Badar, dia terbunuh dalam keadaan kafir.

Saat meninggal, tubuhnya membengkak dan membusuk. Bahkan, dia tidak dilemparkan ke lubang bersama kaum kafir yang lain. Akhirnya mereka menutupinya dengan tanah di tempat dia mati.

Kisah berikut ini menunjukkan betapa persahabatan yang baik akan menguatkan keimanan seseorang. Umar bin Al-Khattab ra. mempunyai sahabat yang akrab dengannya bernama ‘Iyash bin Abi Rabi’ah. ‘Iyash memeluk Islam ketika saat-saat perintah berhijrah ke Madinah. Oleh karena itu imannya masih
rawan alias lemah ketika itu.

Bagaimana pun ‘Iyash ikut menyertai hijrah bersama-sama Umar bin Al-Khattab. Di pertengahan jalan, ibunya mengirimkan utusan untuk membujuknya pulang dengan ancaman ibunya akan terus-menerus berjemur di tengah panas terik tanpa berteduh ataupun mandi. Hal itu membuat ‘Iyash
khawatir dan hatinya muncul keraguan, bimbang atas keselamatan ibunya.

Umar mencoba membujuknya “Nggak usahlah terlalu khawatir akan ibumu. Setelah dua hari berjemur, badannya akan kotor dan dia pasti akan risih dan akan bersih-bersih. Tentunya dia akan mandi. Jika dia berjemur seharian di bawah matahari, pasti esok dia akan berteduh”.

Disebabkan iman di hatinya masih lemah, Iyash bersikeras ingin pulang menemui ibunya. Umar hanya mampu memperingatkannya, “Wahai ‘Iyash, jika engkau pulang, pasti ditimpa bala’ dan cobaan”.

Namun sahabat yang baik tidak tega membiarkan sahabatnya ditimpa kesusahan. Umar telah melakukan sesuatu yang dapat mengingatkan ‘Iyash walau dia tidak berada bersamanya. Tugasnya untuk saling mengingatkan sudah dijalankan Umar. Karena ‘Iyash tidak mempunyai unta, diberikannya untanya kepada ‘Iyash, “Ambillah untaku ini. Semoga dengannya kau akan mengingatku dan kembali bersama-samaku”. Kemudian ‘Iyash pulang kepada keluarganya, dia kemudian dipukul dan disiksa. Hampir saja dia terpengaruh untuk meninggalkan Islam.

Pada saat-saat itu, dia ingat kepada unta pemberian Umar, ‘Iyash ingat kembali kepada iman dan Islam. Imannya kembali kuat. Di situlah kekuatan arti persahabatan yang terjalin. Sahabat yang baik mampu menyelamatkannya dari ancaman kekafiran.

Tidak sedikit orang yang terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang buruk. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.


Rasululah SAW menjelaskan tentang peran dan pengaruh seorang teman dalam sabda beliau : “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).

Imam Muslim mencantumkan hadits di atas dalam Bab : Anjuran Untuk Berteman dengan Orang Shalih dan Menjauhi Teman yang Buruk”. Imam An Nawawi menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat permisalan teman yang shalih dengan seorang penjual minyak wangi dan teman yang jelek dengan seorang pandai besi.

Penjelasan tersebut menggambarkan keutamaan bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki akhlak yang mulia, sikap wara’, ilmu, dan adab. Sekaligus juga terdapat larangan bergaul dengan orang yang buruk, ahli bid’ah, dan orang-orang yang mempunyai sikap tercela lainnya.” (Syarh Shahih Muslim 4/227).

Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan : “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Hadits ini juga mendorong seseorang agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”(Fathul Bari 4/324)

Ibnu Qudamah Al Maqdisi berkata : “Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia.” (Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36).

Sudahkah sahabat yang kita akrabi memenuhi kriteria tersebut? Semoga sahabat-sahabat kita adalah sosok-sosok yang mengingatkan kita kepada Allah SWT, setidaknya tidak menjauhkan dari-Nya. Sahabat dunia akhirat. Kalau itu terpenuhi, mereka tidak hanya pantas menjadi teman biasa tetapi dapat menjadi guru kehidupan. Wallahu a’lam.

***


__________________________________
Joko Susanto
KPP Pratama Pamekasan




Joko Susanto 4649436180021947524

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan