Loading...

Akad Kontrak Perusahaan Ekspedisi

Assalaamu'alaikum Ustadz, Saya memiliki akad kerja sama dengan sebuah jasa ekspedisi/pengiriman barang dan dokumen, sebutlah Eksped...

Assalaamu'alaikum Ustadz,

Saya memiliki akad kerja sama dengan sebuah jasa ekspedisi/pengiriman barang dan dokumen, sebutlah Ekspedisi X. Dalam klausul akad ada ketentuan bahwa saya dilarang untuk menggabungkan (meletakan dalam satu tempat) usaha Ekspedisi X dengan usaha saya yg lain. 

Ketika berjalannya waktu, usaha ekspedisi ini masih sepi, saya ingin membuka usaha sampingan untuk menutup biaya sewa yg tinggi serta untuk pemasukan tambahan saya. Hal yg ingin saya tanyakan apakah syarat yg ditentukan oleh Ekspedisi X yg melarang saya utk membuka usaha di tempat saya yg sama termasuk ke dalam syarat yg batil dalam sebuah akad? 

Jika bukan termasuk syarat yg batil, apakah saya berdosa dan uang hasil komisi kerjasama Ekspedisi X menjadi haram ketika saya memaksakan untuk membuka usaha sampingan?

*catatan: untuk menegosiasi akad tentunya sedikit susah karena ketentuannya sudah baku dari Ekspedisi X Pusat

Atas perhatian dan jawabannya, saya ucapkan Jazakallah khairan Ustadz

Wassalamualaykum wr wb.

Ikhwan D, 
Direktorat Penegakan Hukum



Jawaban : 

Dalam kaidah mu’amalah, ada kaidah berikut; 
الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا
Kaum Muslimin Harus Memenuhi Syarat-Syarat (contoh; klausul perjanjian dalam akad) Yang Telah Mereka Sepakati Kecuali Syarat Yang Mengharamkan Suatu Yang Halal Atau Menghalalkan Suatu Yang Haram

Kaidah ini sebetulnya adalah teks hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَالْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا
Dan kaum Muslimin harus memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat yang mengharamkan suatu yang halal atau menghalalkan suatu yang haram.[ Imam Bukhâri 4/451]

Kaidah ini menjelaskan bahwa hukum asal dari persyaratan-persyaratan (contoh; klausul perjanjian dalam akad) yang telah disepakati oleh kaum muslimin dalam berbagai akad yang dilaksanakan adalah diperbolehkan karena mengandung maslahat dan selama tidak ada larangan syari’at tentang hal itu dan selama syarat-syarat itu tidak menyeret pelakunya terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 
Apabila mengandung unsur haram sehingga bisa menyeret pelakunya terjerumus dalam perkara yang haram maka syarat-syarat tersebut tidak diperbolehkan dan batal.

Memandang klausul kontrak yang anda tanyakan dan ternyata menurut pengamatan kami tidak ada klausul yang melanggar syariat, maka hukum asalnya adalah boleh dan sah, bukan klausul yang batil. Jika perjanjian tersebut sudah dibuat, maka anda wajib menjalankannya sebagaimana perintah dalam firman Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu” (QS. Al Maidah: 1).

Perjanjian jual beli (bisnis, mu’amalah) berkonsekuensi perjanjian tersebut wajib dijalani oleh penjual dan pembeli serta pihak-pihak yang menjadi pelaku usaha. Dengan demikian segala konsekuensi dari pelanggaran terhadap klausul tersebut dapat membatalkan akad yang telah disepakati, perbuatan zalim dan pelakunya berdosa. Maka hasilnya pun haram dan batil, bila tetap mendapatkan manfaat darinya padahal telah melanggar klausul akad dan merugikan pihak lain.
   
Pada dasarnya perjanjian jual beli (bisnis, mu’amalah) boleh dibatalkan dengan kehendak dan inisiatif salah satu pihak atau semua pihak; di awal, di tengah, atau selama jangka waktu yang diberikan untuk khiyar majelis dan khiyar syarat (optional). Apalagi salah satu pihak merasa dirugikan dari klausul perjanjian tersebut. 

Bekerjasama dengan perusahaan besar apalagi zalim, hendaklah dilakukan dengan tegas dan jelas sejak awal agar sama sama menguntungkan dan tidak dicurangi. Bila tidak, maka hendaknya dihindari karena resiko dicurangi dan ditekan sangat besar, kecuali benar-benar amanah dan adil. Allah berfirman:
وان كثيرا من الخلطاء ليبغي بعضهم على بعض......
... (ص: 24) .
Yang artinya:
“Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh dan amat sedikit mereka ini…(QS Shad, 38:24)

Rasulullah SAW juga bersabda:
يد الله على الشريكين ما لم يتخاونا (رواه البخاري)

Artinya : tangan Allah akan bersama orang yang berserikat, selama di antara mereka tidak saling mengkhianati. (HR al-Bukhari).

Oleh karena itu pilihlah mitra yang agamanya baik, amanah, adil, jujur, dan lain-lain, karena di dalamnya ada keberkahan dan kesuksesan dengan izin Allah Subnahu wa Ta'ala. Semoga, aamiin.




Wallahu a’lam.

Dr.Tajuddin Pogo



Konsultasi 3232277603092217057

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan