Loading...

Hukum Menggantikan Sholat dan Haji

Assalamualaikum Ust Tajudin Pogo, ana mau konsul syariah : 1. Bapak saya ada kira2 satu minggu sebelum meninggal tidak sholat wajib krn...

Assalamualaikum Ust Tajudin Pogo, ana mau konsul syariah :

1. Bapak saya ada kira2 satu minggu sebelum meninggal tidak sholat wajib krn kondisi sdh parah di rmh skt, ada orang menyarankan mengganti dengan fidyah, apakah dibenarkan secara syariat? Bagaimana seharusnya?

2. Orang tua ibu saya (kakek saya) belum haji, sewaktu hidupnya tidak mampu, ibu saya sudah haji dan mampu mengeluarkan biaya bila membadalkan haji ortunya. Apakah wajib membadalkan? Atau bagaimana hukumnya?




Jawaban; 

Pertanyaan pertama : 

Pada prinsipnya Shalat adalah ibadah badaniyah (pisik) yang tidak dapat diwakilkan atau diganti oleh orang lain, baik saat masih hidup ataupun setelah wafat. Seluruh madzhab empat sepakat bahwa shalat tidak bisa digantikan atau diwakilkan. 

Persoalan ini sudah dibahas dan didiskusikan para ulama sejak dulu. Dalam Fathul Mu’in, Zainuddin Al-Malibari mengatakan:

من مات وعليه صلاة فرض لم تقض ولم تفد عنه، 

Artinya, “Orang yang sudah meninggal dan memiliki tanggungan shalat wajib tidak diwajibkan qadha dan tidak pula bayar fidyah. 

Memang tidak terdapat hadits yang secara tegas menunjukkan kebolehan qadha shalat. Ada sebagian Ulama yang membolehkan hal ini berdalil pada hadis kewajiban qadha puasa bagi ahli waris. ‘Aisyah pernah mendengar Rasulullah bahwa:

من مات وعليه صيام صام عنه وليه

Artinya, “Siapa yang meninggal dan memiliki tanggungan puasa, wajib bagi keluarganya untuk mengqadhanya,” (HR Al-Bukhari).

Anjuran mengqadha puasa ini disematkan pada shalat, karena keduanya sama-sama ibadah badaniyah (ibadah fisik). 
Dalam Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi juga menguraikan perdebatan ulama terkait hal ini. Persoalannya, apakah ibadah yang dilakukan orang yang masih hidup, pahalanya sampai kepada orang yang meninggal atau tidak? An-Nawawi menjelaskan:

ذهب جماعات من العلماء إلى أنه يصل إلى الميت ثواب جميع العبادات من الصلاة والصوم والقراءة وغير ذلك وفي صحيح البخاري في باب من مات وعليه نذر أن ابن عمر أمر من ماتت أمها وعليها صلاة أن تصلي عنها

Artinya, “Sekelompok ulama berpendapat bahwa pahala seluruh ibadah (yang dihadiahkan kepada orang yang meninggal) sampai kepada mereka, baik ibadah shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an.

Dalam shahih al-Bukhari, bab orang yang meninggal dan masih memiliki kewajiban nadzar, Ibnu Umar memerintahkan kepada orang yang meninggal ibunya dan memiliki tanggungan shalat untuk mengerjakan shalat untuk ibunya.”

Demikianlah pendapat sebagian ulama terkait kebolehan mengqadha shalat untuk orang yang sudah wafat. Wallahu a’lam.




Pertanyaan Kedua : 

Dalil kewajiban haji terdapat dalam al-Qur’an, hadis dan ijma’ bagi orang yang mampu menunaikannya. Para ulama telah berijma’ atas kewajiban haji sekali seumur hidup atas muslim baligh, berakal dan mampu. 

Dalilnya ; 
Firman Allah Ta’ala,

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ
“Mengerjakan haji ke Baitullah adalah kewajiban manusia terhadap Allah, [yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah]” (QS. Ali Imran: 97)

Berhaji dengan niat untuk orang lain ini didasarkan kepada beberapa hadits Rasulullah SAW, diantaranya hadits seorang wanita dari suku Khasy'am yang bertanya kepada beliau SAW tentang Ayahnya yang masih hidup namun sudah sangat sepuh dan tidak mampu berangkat haji :
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لا يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ  
Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban dari Allah untuk berhajji bagi hamba-hambaNya datang saat bapakku sudah tua renta dan dia tidak akan kuat menempuh perjalanannya. Apakah aku boleh menghajjikan atas namanya?. Beliau menjawab: Boleh.

Peristiwa ini terjadi ketika hajji wada' (perpisahan). (HR. Bukhari)

Kondisi orang tua dalam hadits ini telah berumur renta, sulit melakukan perjalanan dan tidak bisa menunaikan rukun, wajib, sunah amalan haji. 
Selain itu juga hadits lain yang senada, yang meriwayatkan tentang seorang wanita dari suku Juhainah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ibunya yang sewaktu masih hidup pernah bernadzar untuk berangkat haji namun belum kesampaian sudah wafat.
إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ وَلَمْ تَحُجّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنَ أَكُنْتِ قَاضِيْتُهُ؟ اقْضُوا اللهَ فاللهُ أَحَقُّ بِالوَفَاءِ
“Ibu saya pernah bernadzar untuk mengerjakan haji, namun belum sempat mengerjakannya beliau meninggal dunia. Apakah saya boleh mengerjakan haji untuk beliau?”. Rasulullah SAW menjawab,”Ya, kerjakan ibadah haji untuk beliau. Tidakkah kamu tahu bahwa bila ibumu punya hutang, bukankah kamu akan melunasinya?”. Lunasilah hutang ibumu kepada Allah, karena hutang kepada Allah harus lebih diutamakan. (HR. Bukhari)

Dengan demikian orang yang kuat dan mampu menunaikan haji wajib atasnya atau haji yang wajib disebabkan nadzar yang diikrarkannya, namun sudah keburu meninggal dunia (wafat), maka ia lebih utama untuk dihajikan oleh kerabatnya yang paling dekat dan telah menunaikan haji wajibnya untuk dirinya sendiri, karena ia adalah hutang kepada Allah yang lebih utama dilunasi. 
Wallahu a’lam.


Dr.Tajuddin Pogo



Konsultasi 770864230650066915

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan